JAKARTA, DiscoveryNews.id — Harga minyak mentah dunia kembali melonjak dan mendekati level US$100 per barel. Penguatan terjadi ketika konflik di Timur Tengah semakin panjang dan risiko gangguan pasokan energi global meningkat.
Harga minyak Brent, yang menjadi salah satu patokan utama pasar global, sempat mencapai sekitar US$99,46 per barel pada perdagangan Selasa (8/9/2026), menjadi level tertinggi sejak 24 Juli. Sementara minyak mentah Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), naik hingga sekitar US$94,73 per barel.
Kenaikan harga tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh sentimen pasar, tetapi juga meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.
Serangan kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap fasilitas energi di Arab Saudi menambah ketegangan di kawasan. Sejumlah fasilitas energi dilaporkan mengalami penghentian operasi sementara setelah serangan tersebut.
Kondisi ini membuat pelaku pasar kembali memperhitungkan risiko terganggunya produksi dan distribusi minyak dari kawasan yang menjadi salah satu pusat pasokan energi dunia.
Selat Hormuz Jadi Perhatian
Perhatian pasar juga tertuju pada Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu rute penting perdagangan minyak dunia.
Meskipun arus minyak melalui selat tersebut belum sepenuhnya berhenti, ketegangan militer telah memperlambat sebagian aktivitas pelayaran dan meningkatkan biaya serta risiko pengiriman.
Reuters mencatat harga Brent masih bertahan di bawah US$100 karena sebagian produsen Teluk menggunakan jalur alternatif untuk mempertahankan ekspor. Produksi dari Amerika Serikat, Kanada, dan Guyana juga membantu menambah pasokan global.
Namun, pasar minyak tetap berada dalam kondisi ketat. Gangguan pada infrastruktur energi dan distribusi produk olahan membuat harga bahan bakar semakin sensitif terhadap perkembangan konflik.
Risiko Inflasi Kembali Meningkat
Lonjakan minyak dunia berpotensi memberikan tekanan baru terhadap inflasi global.
Harga energi merupakan salah satu komponen penting dalam biaya transportasi dan produksi. Jika kenaikan berlangsung lama, biaya tersebut dapat merembet ke harga barang dan jasa.
Kondisi ini juga menjadi perhatian bank sentral karena harga minyak yang tinggi dapat menyulitkan upaya menekan inflasi.
Laporan Reuters sebelumnya menunjukkan kenaikan harga minyak yang berkepanjangan telah meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi dan biaya pembiayaan pemerintah di berbagai negara.
Di Amerika Serikat, kenaikan harga minyak juga terjadi menjelang keluarnya sejumlah data inflasi penting yang akan menjadi perhatian pasar dalam menentukan arah kebijakan Federal Reserve.
Bisa Tembus US$100?
Level US$100 per barel kini kembali menjadi perhatian pasar.
Brent telah bergerak sangat dekat dengan angka tersebut setelah sebelumnya ditutup di sekitar US$97,31 per barel dan sempat menyentuh US$98,06.
Apabila konflik semakin meluas dan gangguan pasokan meningkat, tekanan terhadap harga minyak dapat semakin besar.
Sebaliknya, harga dapat kembali terkendali apabila jalur perdagangan tetap berjalan, produksi tambahan mampu menutup kekurangan pasokan, dan permintaan global melemah.
Dengan demikian, perkembangan konflik Timur Tengah dalam beberapa hari ke depan akan menjadi salah satu faktor utama yang menentukan apakah harga minyak dunia mampu menembus kembali US$100 per barel.
Red













Komentar