PONTIANAK | Discoverynews ~ Di tengah teriknya cuaca yang memicu intrusi air laut ke Sungai Kapuas, ribuan warga Kota Pontianak kembali harus menelan pil pahit akibat krisis air bersih yang berulang tanpa pernah terselesaikan secara tuntas. Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Khatulistiwa bersama Pemerintah Kota Pontianak kini menuai gelombang kritik pedas dari masyarakat yang merasa ditelantarkan dengan pendistribusian air berasa asin ke rumah-rumah warga. Kinerja jajaran direksi dan pemerintah daerah dinilai sangat buruk karena dianggap pembiaran terhadap kebutuhan paling mendasar masyarakat, sementara tagihan rutin bulanan tetap mengalir deras tanpa ada kompensasi atas penurunan kualitas layanan tersebut.
Kekecewaan mendalam ini disuarakan secara terbuka oleh Andri, seorang warga Kota Pontianak berusia 46 tahun, yang menumpahkan kemarahannya atas ketidakmampuan instansi terkait dalam mengantisipasi fenomena tahunan ini. Dengan nada kesal dan penuh kekecewaan, Andri mengungkapkan kenyataan pahit bahwa selama puluhan tahun berdiri dan meraup keuntungan finansial dari jutaan pelanggan, PDAM ternyata tidak pernah berinvestasi pada mesin atau teknologi penawar asin yang memadai. Menurutnya, sungguh tidak masuk akal bagi sebuah perusahaan daerah yang sudah beroperasi puluhan tahun hanya bergantung pada pasokan air tawar mentah tanpa memiliki sistem desalinasi darurat untuk menghadapi musim kemarau.
Kondisi ini membuka tabir kegagalan tata kelola infrastruktur publik di Kota Pontianak yang seolah tidak pernah belajar dari krisis di masa lalu. Air asin yang mengalir ke saluran rumah tangga tidak hanya tidak layak dikonsumsi, tetapi juga merusak peralatan dapur, memicu masalah kesehatan kulit, hingga merusak instalasi pipa besi milik warga. Ketidakberdayaan Pemkot dan PDAM dalam menyediakan solusi berbasis teknologi penawar garam memperlihatkan betapa lemahnya perencanaan strategis dan minimnya empati terhadap beban ekonomi warga yang akhirnya terpaksa mengeluarkan uang ekstra untuk membeli air minum kemasan demi memenuhi kebutuhan harian.
Masyarakat kini mendesak adanya evaluasi total terhadap manajemen PDAM Tirta Khatulistiwa serta transparansi penggunaan anggaran pendapatan daerah yang seharusnya diprioritaskan untuk modernisasi pengolahan air bersih. Kejenuhan warga seperti Andri menjadi sinyal kuat bahwa janji-janji perbaikan tanpa eksekusi nyata berupa pengadaan mesin desalinasi modern tidak lagi bisa diterima. Jika Pemkot Pontianak terus menutup mata terhadap bobroknya fasilitas publik ini, kepercayaan masyarakat terhadap integritas pemerintah daerah dipastikan akan berada di titik terendah.
(Tim/Red)














Komentar