SAWAHLUNTO, Discoverynews.id, Pemerintah Kota Sawahlunto secara resmi menyatakan dukungan terhadap rencana pelaksanaan Peringatan Satu Abad Perlawanan Rakyat Silungkang (1927–2027). Komitmen tersebut disampaikan langsung oleh Wali Kota Sawahlunto, Riyanda Putra, saat menerima kunjungan audiensi panitia pelaksana di Rumah Dinas Wali Kota Sawahlunto pada Kamis, 10 September 2026.
Ketua Pelaksana Kegiatan, Irland Muhammad, memaparkan bahwa salah satu rangkaian acara utama dalam peringatan bersejarah ini adalah aksi napak tilas perjuangan. Aksi tersebut akan dikemas dalam bentuk pawai obor malam hari, di mana para peserta akan berjalan kaki menembus terowongan kereta api kuno Muara Kalaban sepanjang 828 meter. Perjalanan kemudian dilanjutkan menyusuri jalur rel menuju Societeit Glück Auf atau yang saat ini dikenal dengan Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto, yaitu kawasan tempat dikuburkannya tiga tokoh pejuang perlawanan usai dieksekusi di Penjara Sawahlunto. Selain napak tilas, panitia juga menjadwalkan pameran foto sejarah, pameran produk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), serta upacara resmi yang dipusatkan di Lapangan Cinto Moni Silungkang.
Wali Kota Sawahlunto, Riyanda Putra, memberikan apresiasi tinggi terhadap konsep yang diusung oleh panitia. Menurutnya, metode napak tilas dengan berjalan kaki membawa obor menerobos terowongan bersejarah sepanjang 828 meter menuju Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto merupakan sebuah gagasan unik yang memiliki daya tarik luar biasa.
“Dengan konsep besar ini, mudah-mudahan ke depannya kegiatan ini dapat ditetapkan menjadi agenda tahunan Kota Sawahlunto. Ini bukan sekadar aktivitas berjalan kaki di malam hari dengan penerangan obor, melainkan sebuah refleksi yang sarat akan nilai sejarah tinggi terkait perjuangan para perintis kemerdekaan Republik Indonesia. Kegiatan ini juga potensial menarik kunjungan wisata ke Sawahlunto yang diharapkan berimbas positif pada peningkatan ekonomi UMKM lokal. Kita akan dukung penuh,” tegas Riyanda Putra.
Di samping pelaksanaan agenda festival budaya dan wisata sejarah, panitia pelaksana juga secara resmi menggulirkan wacana besar untuk melakukan penulisan ulang sejarah Perlawanan Rakyat Silungkang secara komprehensif. Hasil dari penulisan ulang berbasis riset kearsipan tersebut nantinya akan dirancang untuk diintegrasikan secara formal menjadi materi pelajaran muatan lokal di lembaga pendidikan sekolah, khususnya di wilayah Kota Sawahlunto. Langkah strategis ini ditempuh guna memastikan generasi muda mendapatkan akses literasi sejarah daerah yang valid, objektif, dan terlepas dari warisan bias kolonial.
Sementara itu, Marjafri, seorang jurnalis dan penulis yang juga menjabat sebagai Ketua Komunitas Anak Nagari Sawahlunto mengungkapkan, momentum satu abad ini akan ditandai dengan peluncuran karya literatur penyeimbang. Ia kini tengah merampungkan penulisan buku sejarah berjudul Serpihan-Sejarah Perlawanan Rakyat Silungkang -1926-1927: Membaca Ulang Satu Abad Stigma Kolonial, Mengembalikan Marwah dan Martabat yang Ternoda.
“Penerbitan buku ini ditujukan murni untuk menempatkan kembali sejarah perjuangan rakyat pada porsi yang sebenarnya. Ini adalah upaya ilmiah untuk meluruskan kronik sejarah luar yang selama ini secara sepihak dilabeli oleh pemerintah kolonial penjajah Belanda sebagai bentuk pemberontakan organisasi terlarang, Insyaallah,” ujar Marjafri.
Pertemuan audiensi di rumah dinas tersebut berjalan formal dan khidmat, dengan dihadiri oleh jajaran teras kepanitiaan, antara lain Wakil Ketua Ambun Kadri, Wakil Ketua Bidang Acara Asrul, Penanggung Jawab Napak Tilas Pawai Obor Yuliza Ardi, Penulis Marjafri, serta Penanggung Jawab Perlengkapan dan Foto Zulasfi.
Penulis: Suherman















Komentar