Pontianak Discoverynews.id ~ Krisis kualitas udara akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kini berdampak langsung pada kesehatan masyarakat di Provinsi Kalimantan Barat. Berdasarkan data pemantauan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) Kementerian Kesehatan, jumlah kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) meroket tajam hingga mencatatkan angka akumulatif sebesar 62.278 kasus. Lonjakan infeksi saluran pernapasan ini terjadi dalam rentang waktu yang sangat singkat, yaitu dari minggu ke-26 hingga minggu ke-35 tahun 2026, atau tepatnya sejak 28 Juni hingga 8 September 2026. Kondisi ini menegaskan bahwa ancaman kabut asap tidak hanya merusak ekosistem lingkungan, tetapi juga secara nyata mengepung kesehatan fisik ribuan warga yang menghirup udara beracun setiap harinya.
Ancaman kesehatan masyarakat ini dikonfirmasi langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat, Erna Yulianti. Beliau menyampaikan bahwa pihak Dinas Kesehatan terus melakukan pemantauan ketat terhadap perkembangan berbagai penyakit yang berpotensi tinggi dipicu oleh paparan asap karhutla, dengan fokus utama pada kasus ISPA dan pneumonia. Data analisis menunjukkan adanya korelasi kuat antara peningkatan kasus infeksi paru-paru ini dengan hadirnya bencana asap. Tren kenaikan kasus ISPA terpantau mulai melonjak drastis sejak minggu ke-26, yang bertepatan langsung dengan munculnya titik-titik api kebakaran lahan di sejumlah wilayah strategis Kalimantan Barat.
Eskalasi jumlah penderita di lapangan mencatatkan dinamika grafik yang terus berfluktuasi namun berada pada tingkatan yang mengkhawatirkan. Pada minggu ke-26, angka penderita ISPA mulanya tercatat sebanyak 5.469 kasus, yang kemudian terus merangkak naik hingga menembus angka 6.920 kasus pada minggu ke-32. Sempat mengalami sedikit penurunan menjadi 6.207 kasus pada minggu ke-33, gelombang serangan penyakit ini kembali melonjak drastis pada minggu ke-34 dengan memuncak pada angka 7.418 kasus. Meski angka tersebut dilaporkan sedikit mereda menjadi 6.240 kasus pada minggu ke-35, ancaman kesehatan belum sepenuhnya dapat dikatakan aman bagi warga sekitar.
Dampak sistemik dari musibah karhutla ini mencatatkan rata-rata keterpaparan yang tergolong tinggi di kalangan penduduk lokal. Secara keseluruhan, total akumulasi 62.278 kasus selama kurun waktu sepuluh minggu tersebut menghasilkan angka proporsi sekitar 10 kasus per 1.000 penduduk yang terinfeksi ISPA. Kondisi ini menuntut penanganan medis yang tanggap serta penanggulangan karhutla secara cepat dan tepat dari pihak-pihak terkait. Pasalnya, tanpa adanya tindakan pencegahan sumber asap secara agresif, ribuan warga Kalimantan Barat akan terus berada dalam cengkeraman krisis kesehatan yang mengancam keselamatan saluran pernapasan mereka.
(Tim/Red)










Komentar