oleh

Harga Cabai di Pontianak Tembus Rp160 Ribu per Kg, Pembeli dan Pedagang Meringis

PONTIANAK, Discoverynews.id ~ Langkah kaki para pembeli di pasar-pasar tradisional seperti pasar Flamboyan Kota Pontianak kini terasa kian berat saat mendekati deretan lapak pedagang sayur segar. Gelombang udara panas yang menyengat pertengahan September 2026 ini ternyata tidak hanya membakar lahan pertanian di berbagai wilayah Kalimantan Barat, tetapi juga menyulut lonjakan harga komoditas pangan lokal hingga menembus angka yang sangat mengagetkan. Berdasarkan hasil pemantauan pasokan menjelang akhir pekan pada Jumat, 18 September 2026, jenis cabai rawit melambung tinggi hingga menyentuh Rp160.000 per kilogram, sementara harga cabai merah keriting menyusul drastis hingga berada di kisaran Rp122.500 per kilogram.

Fenomena meroketnya harga komoditas pedas ini dipicu oleh kemarau panjang tanpa kompromi yang tengah mencengkeram wilayah Kalimantan Barat. Cuaca ekstrem yang berlangsung selama beberapa bulan terakhir telah menyebabkan kekeringan parah di tingkat hulu, memicu kegagalan panen secara masif di kalangan petani lokal. Sumur-sumur irigasi warga mengering dan tanah pertanian retak-retak, menghentikan secara mendadak siklus produksi cabai yang selama ini menjadi penopang utama kebutuhan harian masyarakat Kota Pontianak dan sekitarnya.

Dampak buruk dari hancurnya pasokan ini langsung terasa tajam di pasar-pasar tradisional, di mana jumlah ketersediaan cabai turun drastis sementara tingkat permintaan konsumen tidak pernah surut. Ketidakseimbangan yang ekstrem antara minimnya stok barang dan tingginya kebutuhan harian ini memaksa para pedagang terus mengerek harga demi menutupi biaya operasional yang membengkak. Ketergantungan pasar pada hasil panen lokal yang kini ludes tergerus kekeringan menjadikan krisis harga ini sebagai salah satu yang terparah dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir.

Di tengah kondisi yang melilit ini, masyarakat khususnya para ibu rumah tangga terpaksa memutar otak dan merombak pola konsumsi harian keluarga mereka. Vina, seorang ibu rumah tangga berusia 52 tahun di Pontianak, mengungkapkan betapa melonjaknya harga komoditas utama ini membuat para ibu harus berpikir ulang berkali-kali sebelum memutuskan untuk membeli atau menggunakan cabai dalam masakan mereka. Tekanan ekonomi akibat meroketnya bahan pokok ini kian mempertegas betapa rapuhnya ketahanan pangan daerah saat berhadapan langsung dengan ancaman perubahan iklim dan cuaca ekstrem.

Wartawan: (Sony Afrizal)

Komentar