BOGOR Discoverynews.id —Peringatan Hari Tani Nasional 2026 di Desa Sukajaya, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, diisi dengan rangkaian kegiatan yang memadukan gotong royong, penanaman, penyampaian aspirasi, seni, serta refleksi atas perjuangan petani dalam mempertahankan ruang hidup di kaki Gunung Salak.

Sejak pukul 09.00 hingga 15.00 WIB, warga, petani, mahasiswa, dan sejumlah elemen masyarakat bergotong royong melakukan kegiatan menanam di lahan Kelompok Tani Maduhur, Sukajaya. Kegiatan tersebut menjadi simbol bahwa menjaga tanah dan alam tidak berhenti pada tuntutan, tetapi juga diwujudkan melalui kerja bersama dan merawat lingkungan secara langsung.
Pada waktu yang sama, sebagian warga Sukajaya bergerak menyampaikan aspirasi melalui aksi kepada Bupati Bogor. Aksi tersebut menjadi bagian dari perjuangan warga dalam menyuarakan persoalan agraria, ruang hidup, serta masa depan petani di Sukajaya.
Rangkaian kegiatan kemudian berlanjut hingga malam hari dengan pemutaran film dokumenter tentang Sukajaya. Film tersebut mengangkat pengalaman warga menghadapi intimidasi, persoalan ruang hidup, serta perjuangan masyarakat dalam menjaga lingkungan di kawasan kaki Gunung Salak.
Di tengah suasana tersebut, digelar pula panggung rakyat yang menghadirkan monolog tentang aktivis dan penyair Wiji Thukul, yang diperankan oleh mahasiswa Universitas Pakuan (Unpak), serta pertunjukan lagu-lagu bertema petani dan perjuangan rakyat.
Panggung rakyat menjadi ruang kebersamaan sekaligus hiburan bagi warga. Kegiatan ini juga menjadi ruang untuk menguatkan ibu-ibu dan anak-anak yang menurut warga sempat mengalami ketakutan dan trauma setelah berbagai peristiwa intimidasi dan kekerasan yang terjadi dalam konflik di lahan pertanian Sukajaya.
Warga sebelumnya melaporkan adanya penyerangan pada 6 Agustus 2026yang melibatkan sekitar 400 orang yang disebut warga sebagai kelompok preman. Warga menduga kelompok tersebut berkaitan dengan kepentingan perusahaan. Peristiwa tersebut menjadi bagian dari tuntutan warga agar proses hukum berjalan dan fakta-fakta di lapangan dapat diperiksa secara terbuka.
Bagi warga Sukajaya, Hari Tani tahun ini bukan hanya momentum untuk berkumpul, tetapi juga menjadi ruang untuk menunjukkan solidaritas petani dan warga Sukajaya di tengah persoalan agraria yang masih berlangsung.
Manifesto Sukajaya Melawan
Sekitar pukul 22.00 WIB, seluruh rangkaian kegiatan ditutup dengan Pembacaan Manifesto/Pernyataan Terbuka Sukajaya Melawan.
Dalam manifesto tersebut, warga menyampaikan 11 tuntutan:
1. Menjalankan kesepakatan bersama yang dibuat oleh BAM DPR RI bersama warga Sukajaya.
2. Memeriksa PT Prima Mustika Chandra (PMC) terkait dugaan gratifikasi pejabat negara yang dikaitkan warga dengan izin dan penerbitan SHGB PT PMC di Kecamatan Tamansari.
3. Memproses secara hukum laporan pidana terkait peristiwa 6 Agustus 2026 di Desa Sukajaya.
4. Menghentikan kriminalisasi terhadap petani Sukajaya dan petani di seluruh Indonesia dalam konflik agraria.
5. Memeriksa dan mencabut izin PT PMC serta menghentikan aktivitasnya di Kecamatan Tamansari.
6. Memberikan hak atas tanah kepada petani Sukajaya melalui sertifikat komunal atau hak milik bersama.
7. Mengevaluasi keberadaan Kantah Bogor yang menurut warga turut menjadi bagian dari persoalan konflik agraria struktural di Sukajaya dan Kabupaten Bogor.
8. Melindungi wilayah hulu pertanian dari masuknya kepentingan korporasi.
9. Tanah untuk rakyat, bukan untuk korporasi.
10. Bupati sebagai Ketua GTRA diminta memastikan kebijakan reforma agraria memberikan tanah kepada rakyat, khususnya petani, bukan untuk kepentingan korporasi.
11. Tangkap dan adili mafia tanah.
Bagi warga Sukajaya, seluruh rangkaian Hari Tani tersebut menjadi satu kesatuan: menanam sebagai bentuk merawat kehidupan, gotong royong sebagai kekuatan masyarakat, seni sebagai ruang pemulihan, dan manifesto sebagai pernyataan sikap atas masa depan ruang hidup mereka.**
Dari lahan pertanian hingga panggung rakyat, pesan yang dibawa warga Sukajaya tetap sama:
Tanah untuk rakyat.
Ruang hidup untuk generasi.
Alam kaki Gunung Salak harus dijaga.
Petani harus dilindungi.
(as)













Komentar