PONTIANAK, Discoverynews.id ~ Kabut asap pekat kembali mengepung wilayah Kalimantan Barat sepanjang September ini, membawa dampak yang jauh melampaui masalah pernapasan dan kesehatan masyarakat.
Bencana musiman akibat kebakaran hutan dan lahan yang diperparah kemarau panjang ini kini telah merembet secara nyata ke dapur-dapur rumah tangga, memicu lonjakan harga barang pokok yang teramat drastis di pasar-pasar tradisional.
Kondisi tersebut dirasakan langsung oleh Dewi, seorang ibu rumah tangga berusia 43 tahun asal Kota Pontianak, yang harus memutar otak lebih keras setiap kali menginjakkan kaki di pasar saat diwawancai dipasar Flamboyan Pontianak minggu (27/9/2026).
Kenaikan harga pangan yang terjadi secara serentak membuat uang belanja harian yang dipegangnya seolah kehilangan nilai, memaksa keluarga kecilnya untuk memangkas berbagai kebutuhan demi bisa bertahan di tengah situasi ekonomi daerah yang kian sulit.
Sambil memilah komoditas pangan yang harganya kian membumbung tinggi, Dewi mengeluhkan betapa beratnya beban yang harus ditanggung rakyat kecil saat ini.
Ia menuturkan bahwa harga sayur-mayur melonjak sangat tidak masuk akal, di mana sayuran hijau sederhana seperti kangkung dan kacang panjang, mentimun ,sayuran lainnya harganya meroket tinggi akibat gagal panen yang dialami para petani lokal terdampak kekeringan dan pasokan dari luar akibat asap hingga komoditi sayuran dll tidak bisa masuk karena asap.
Tak hanya sayuran hijau, komoditas utama yang menjadi napas masakan dapur seperti cabai rawit juga mengalami kenaikan harga yang sangat mencekik. Dewi mengaku sangat terpukul karena cabai merupakan bahan
dasar harian yang tak terelakkan, namun harganya kini melambung begitu tinggi hingga ia terpaksa mengandalkan pembelian dalam jumlah yang jauh lebih sedikit dari biasanya.
Gangguan distribusi akibat terhambatnya jalur logistik serta penurunan drastis hasil panen daerah memang menjadi pemicu utama di balik meroketnya inflasi pangan di Kalbar bulan ini.
Hal tersebut menciptakan efek domino yang merugikan, di mana pedagang tidak memiliki pilihan selain menaikkan harga jual, sementara konsumen seperti Dewi menjadi pihak yang paling terdampak oleh ketidakpastian harga pasar.
Situasi yang kian tak menentu ini membuat Dewi hanya bisa berharap ada langkah nyata dan cepat dari pemerintah daerah untuk meredam gejolak harga bahan pokok.
Ia sangat merindukan stabilitas harga pangan serta penanganan karhutla yang tuntas, agar kepulan asap yang menggetirkan ini tidak terus-menerus mengikis kesejahteraan masyarakat di tingkat tapak.
Harapan Dewi mewakili kecemasan ribuan ibu rumah tangga lainnya di Pontianak yang kini menggantungkan nasib dapur mereka pada ketegasan penanganan bencana dan stabilisasi pasar.
Tanpa adanya intervensi pasokan yang memadai, ancaman lonjakan harga pangan yang dipicu oleh kabut asap ini dipastikan akan terus menguji ketahanan ekonomi warga Kalimantan Barat dalam beberapa waktu ke depan.
(Red)











Komentar