PONTIANAK,Discoverynews.id ~ Mantan Wali Kota Pontianak sekaligus mantan Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji, secara mengejutkan membongkar tabir kelam di balik melambungnya angka kebocoran air di Perumda Tirta Khatulistiwa.
Lewat perbincangannya dalam podcast Satu Kata yang tayang pada Jumat (25/9/26), ia membeberkan fakta bahwa pada masa awal kepemimpinannya, tingkat kebocoran air bersih di Kota
Pontianak sempat berada di angka yang sangat mengkhawatirkan, yaitu melonjak melebihi 40 persen hingga nyaris menyentuh 50 persen.
Tingginya angka kerugian tersebut selama ini selalu dikaitkan dengan persoalan klasik berupa kerusakan teknis maupun kondisi pipa distribusi yang sudah tua.
Namun, berdasarkan penelusuran mendalam yang dilakukannya saat menjabat, Sutarmidji menegaskan bahwa kejanggalan tersebut bukan semata-mata diakibatkan oleh masalah infrastruktur.
Ia mengendus adanya dugaan kuat praktik kongkalikong dan permainan tidak sehat yang melibatkan para pengguna air berskala besar di wilayah tersebut.
Guna membuktikan kecurigannya dan melacak ke mana aliran air tersebut menguap, langkah dramatis pun diambil dengan mengecek secara langsung penggunaan air pada fasilitas-fasilitas komersial.
Ia mengaku pernah mengambil keputusan ekstrem untuk menutup sementara saluran air bersih ke seluruh hotel yang ada di Kota Pontianak demi melakukan pengawasan serta pemeriksaan menyeluruh terhadap pola konsumsi air mereka.
Tidak berhenti di situ, taktik investigasi yang cermat dan unik juga diterapkan untuk membongkar kejanggalan dalam jaringan pipa bawah tanah.
Sutarmidji menceritakan penggunaan cairan pewarna khusus yang disuntikkan langsung ke dalam aliran pipa utama distribusi.
Metode penelusuran ini dilakukan untuk membuktikan apakah pasokan air bersih yang seharusnya mengalir resmi ke meteran pelanggan justru sengaja dialihkan secara ilegal ke lokasi lain.
Hasil investigasi tersebut akhirnya membuahkan temuan mengejutkan terkait manipulasi tagihan di sektor perhotelan.
Sutarmidji menemukan sebuah hotel yang pembayaran tagihan air bulannya terus merosot drastis dari angka Rp50 juta menjadi hanya belasan juta rupiah saja.
Padahal di saat yang bersamaan, tingkat hunian kamar serta penyetoran pajak hotel dan restorannya mengalami peningkatan pesat.
Air bersih tersebut diduga kuat sengaja dialirkan untuk menyokong kebutuhan hotel lain menggunakan skema tarif yang jauh lebih murah.
Kejanggalan lain yang tak kalah mencengangkan juga terkuak pada sebuah bangunan ruko kosong yang terdaftar sebagai pelanggan.
Ruko yang sama sekali tidak memiliki aktivitas penghuni di dalamnya tersebut mencatatkan angka pemakaian air yang sangat fantastis, yakni mencapai sekitar 900 meter kubik setiap bulannya.
Temuan ini tentu menimbulkan tanda tanya besar mengenai ke mana sebenarnya volume air sebesar itu dialirkan setiap bulan.
Berbagai tindakan tegas serta upaya pembongkaran praktik curang tersebut pada akhirnya berhasil membawa perubahan signifikan bagi perusahaan daerah.
Angka kebocoran air yang semula melambung tinggi berhasil ditekan secara drastis hingga menyisa sekitar 20 hingga 27 persen.
Keberhasilan menekan kebocoran air inilah yang menjadi kunci utama penyelamatan keuangan Perumda Tirta Khatulistiwa, hingga mampu berbalik dari kondisi terus merugi menjadi entitas yang menguntungkan bagi perusahaan PDAM Kota Pontianak.
(Tim/Red)










Komentar