JAKARTA, Discoverynews.id – Sebuah foto yang merekam kondisi Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, pada masa-masa terakhir kehidupannya menjadi salah satu dokumentasi bersejarah yang menggambarkan situasi sang Proklamator setelah kekuasaannya berakhir.
Foto tersebut diambil oleh putra Bung Karno, Guruh Soekarnoputra, ketika ayahnya menjalani masa pengasingan di Wisma Yaso, Jakarta, di bawah pengawasan ketat aparat pada masa awal Orde Baru.
Dalam kisah yang kemudian dikenang Guruh, dirinya bersama sang kakak, Rachmawati Soekarnoputri, memperoleh izin menjenguk Bung Karno untuk merayakan ulang tahun ayah mereka secara sederhana. Waktu kunjungan sangat terbatas, hanya sekitar 30 menit.
Saat itu, kondisi Bung Karno disebut telah sangat lemah dan lebih banyak terbaring di tempat tidur. Di tengah keterbatasan waktu tersebut, Guruh terbersit keinginan untuk mengabadikan kondisi ayahnya sebagai kenang-kenangan keluarga.
Namun, situasinya tidak mudah. Penjagaan terhadap Bung Karno sangat ketat. Barang bawaan pengunjung diperiksa dan aktivitas memotret dilarang.
Guruh kemudian menyembunyikan sebuah kamera saku kecil di dalam sakunya. Ketika petugas meninggalkan ruangan, ia bergerak cepat dan meminta Rachmawati duduk di samping tempat tidur Bung Karno.
Dalam waktu yang sangat singkat, Guruh hanya sempat menekan tombol kamera dua kali sebelum petugas kembali masuk. Karena keterbatasan waktu, Guruh bahkan tidak sempat mengambil foto dirinya bersama sang ayah.
Negatif film tersebut kemudian berhasil diselamatkan dan dicetak secara diam-diam. Rachmawati selanjutnya meminjamkan foto itu kepada seorang temannya yang bekerja di media massa.
Foto tersebut kemudian beredar hingga akhirnya diambil oleh kantor berita internasional Associated Press (AP) dan diberitakan melalui media massa nasional, termasuk Sinar Harapan.
Publik pun dapat melihat kondisi Bung Karno pada masa-masa terakhir kehidupannya. Foto itu menjadi dokumentasi penting mengenai keadaan sang Proklamator setelah tidak lagi memegang kekuasaan dan berada dalam pengawasan ketat pemerintah Orde Baru.
Beredarnya foto tersebut ternyata menimbulkan reaksi keras dari aparat. Guruh dan Rachmawati kemudian dipanggil ke Markas CPM Guntur untuk menjalani pemeriksaan dan interogasi selama berjam-jam.
Guruh dicecar mengenai alasan mengambil foto tersebut tanpa izin. Dalam kisah yang kemudian dituturkannya dalam memoarnya, Guruh menjawab dengan tegas ketika dipertanyakan mengenai tindakannya.
“Itu kan hak saya, wong saya anaknya.”
Kalimat tersebut menjadi bagian yang paling dikenang dari kisah pengambilan foto tersebut sebuah tindakan spontan seorang anak yang ingin menyimpan kenangan tentang ayahnya dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.
Secara historis, foto itu memiliki nilai dokumenter yang kuat karena diambil hanya 15 hari sebelum Bung Karno wafat pada 21 Juni 1970.
Bukan sekadar foto keluarga, jepretan Guruh tersebut kemudian menjadi bagian dari rekaman sejarah tentang hari-hari terakhir kehidupan Soekarno, seorang tokoh yang memainkan peran sentral dalam perjalanan Indonesia menuju kemerdekaan.
Kisah di balik foto itu juga memperlihatkan bagaimana sebuah dokumentasi sederhana, yang awalnya dibuat secara diam-diam untuk kepentingan keluarga, kemudian menjadi kesaksian visual yang diketahui publik luas.










Komentar