KALBAR BENGKAYANG, Discoverynews.id ~ Keterbatasan infrastruktur di sejumlah wilayah pedalaman masih menyisakan ironi mendalam yang terus berulang dan menuntut perhatian serius dari berbagai pihak terkait.
Salah satu potret nyata yang mengiris hati terlihat jelas di Kecamatan Suti Semarang, Kabupaten Bengkayang, ketika anak-anak sekolah harus bertaruh nyawa demi bisa sampai ke ruang kelas.
Setiap hari, mereka dihadapkan pada kenyataan pahit berupa ketiadaan jembatan yang layak untuk menyeberangi aliran sungai yang deras.
Dalam dokumentasi yang beredar luas di ruang publik, tampak sejumlah anak sekolah dengan terpaksa membawa perlengkapan belajar mereka sambil menceburkan diri ke dalam aliran sungai berarus keruh.
Pemandangan tersebut bukan sekadar perjalanan biasa, melainkan sebuah perjuangan penuh risiko yang harus mereka taklukkan demi menggapai secercah harapan melalui pendidikan.
Air sungai yang keruh dan tidak dapat diprediksi kedalamannya menyimpan ancaman keselamatan yang nyata bagi anak-anak yang masih di usia sekolah dasar tersebut.
Kondisi memprihatinkan ini secara telanjang menggambarkan betapa ketimpangan akses infrastruktur dasar masih menjadi tembok besar di wilayah-wilayah terpencil Indonesia.
Hingga saat ini, jembatan penghubung antardesa maupun akses jalan darat yang memadai dilaporkan belum juga tersedia di lokasi tersebut untuk menunjang mobilitas warga.
Ketiadaan fasilitas vital ini memaksa masyarakat setempat, khususnya para generasi penerus bangsa, untuk mencari jalan alternatif yang sangat berbahaya demi kelangsungan aktivitas harian mereka.
Situasi darurat ini semakin dipertegas oleh keterangan yang menyertai potret perjuangan anak-anak tersebut, yang menyebutkan bahwa belum ada satu pun jembatan yang dibangun di sana.
Bahkan, ungkapan pilu dalam laporan itu mencatat bahwa jangankan jembatan permanen, sejengkal aspal pun belum pernah menyentuh kawasan tersebut untuk mempermudah mobilitas warga.
Realitas ini menunjukkan bahwa isolasi geografis masih menjadi belenggu utama yang menghambat kemajuan kesejahteraan dan pemerataan pembangunan di pelosok daerah.
Di tengah derita yang terus berulang ini, kehadiran pemerintah dipertanyakan secara tajam oleh masyarakat luas.
Publik dan warga setempat mulai mempertanyakan ke mana perginya alokasi anggaran infrastruktur dan dana pendidikan yang selama ini digembar-gemborkan oleh negara.
Sungguh tidak masuk akal di era modern ini masih ada anak-anak bangsa yang harus bertaruh nyawa di atas aliran sungai demi mengakses hak dasar mereka, sementara para pemangku kebijakan seolah tutup mata terhadap krisis nyata di depan mata.
Perjuangan berat yang dilakoni anak-anak Suti Semarang ini seyogianya menjadi tamparan keras sekaligus alarm pengingat bagi para birokrat di tingkat daerah maupun pusat.
Isu pemerataan pembangunan infrastruktur, khususnya penyediaan akses jalan dan jembatan yang layak, seharusnya menjadi prioritas mutlak yang tidak boleh diabaikan demi keselamatan nyawa manusia.
Tanpa intervensi anggaran dan pembangunan yang agresif serta transparan, impian anak-anak pedalaman untuk menikmati fasilitas publik yang aman akan terus bertepuk sebelah tangan.
Pada akhirnya, potret anak-anak menyeberangi sungai keruh ini bukan sekadar berita lokal tentang kekurangan fasilitas fisik semata.
Ini adalah cerminan telak dari kelalaian negara dan terabaikannya hak asasi anak atas rasa aman akibat tidak meratanya hasil pembangunan.
Sudah saatnya pemerintah berhenti berdiam diri dan segera turun tangan secara nyata di Kecamatan Suti Semarang agar tidak ada lagi cerita tentang generasi muda yang harus mempertaruhkan nyawa hanya untuk sekadar pergi menuntut ilmu di bangku sekolah.
(Tim/Red)
















Komentar