LUWU TIMUR, Discoverynews.id – Menjadi wartawan bukan soal seberapa mahal kamera yang kamu bawa, melainkan seberapa tajam pikiran dan rasa ingin tahumu dalam mengupas sebuah fakta.
Hasmin Syarif., SH pemilik ID Madya Dewan Pers ini salah seorang Wartawan Senior plus Pemilik Media Cetak dan Online Batarapos.com pertama di Luwu Timur ini menerangkan,
“Siapa pun bisa mengangkat kamera, tetapi tidak semua orang bisa memikul beratnya tanggung jawab dari sebuah berita yang disebarluaskan”, ungkapnya kepada media ini, Kamis (8/10/2026).
Menurutnya, Kamera hanya merekam apa yang terlihat oleh mata, namun seorang wartawan sejati menggunakan seluruh indranya untuk mengungkap apa yang sengaja disembunyikan.
Di balik satu foto atau video berita yang tayang, ada langkah kaki yang menerjang bahaya, idealisme yang diuji, dan keberanian yang tidak bisa dibeli.
Mengangkat kamera itu mudah, yang sulit adalah tetap berdiri tegak menyuarakan kebenaran saat badai intimidasi dan pembungkaman datang menghadang.
Jurnalisme bukan sekadar seni membidik lensa atau merekam suara. Ini adalah tentang verifikasi fakta, menembus batas ketakutan, dan menjadi penyambung lidah bagi mereka yang tak terdengar.
Kamera wartawan mungkin berat untuk diangkat, tetapi jauh lebih berat menjaga kejujuran dan netralitas di tengah pusaran kepentingan pihak-pihak tertentu.
Jika tugas jurnalis hanya sebatas menekan tombol rekam, dunia tidak akan pernah tahu arti dari sebuah keadilan. Wartawan bekerja dengan hati, logika, dan keberanian.
Sebuah kamera bisa dibeli dengan uang, namun integritas, ketekunan, dan insting mencari kebenaran seorang pewarta hanya bisa dibentuk oleh dedikasi yang tinggi.
Bukan kameranya yang hebat, tapi jiwa di balik kamera itu yang menolak bungkam demi menjaga demokrasi tetap hidup.















Komentar