KALBAR MEMPAWAH,Discoverynews.id ~ Di tengah heningnya panggung latihan di Kabupaten Mempawah pada Kamis,15 Oktober 2026, sebuah kisah pilu terungkap dari sudut lapangan tempat para atlet menenun mimpi.
Marsupandi, seorang pelatih atletik yang mendedikasikan hidupnya demi mengharumkan nama daerah, mengetuk nurani publik melalui sebuah unggahan video yang dengan cepat menyentuh hati siapa saja yang melihatnya.
Dengan suara bergetar dan mata yang menyimpan kelelahan, ia mengaku rela melelang satu-satunya kulkas milik keluarganya demi menyambung napas kegiatan Training Center (TC) para atlet bimbingannya.
Langkah nekat ini menjadi simbol keputusasaan sekaligus cinta tanpa batas seorang pelatih yang tidak tega melihat anak-anak asuhnya berjuang dalam keterbatasan di tengah persiapan menuju Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kalimantan Barat XIV tahun 2026.
Keputusan memilukan tersebut sontak memicu gelombang simpati mendalam sekaligus kekecewaan besar dari masyarakat luas.
Publik seakan diajak menyaksikan perjuangan sunyi para pahlawan olahraga yang harus mengorbankan harta benda pribadi hanya agar bendera Kabupaten Mempawah tetap bisa dikibarkan di ajang bergengsi.
Tetesan keringat para atlet yang berlanjut hingga malam hari kini dibayangi rasa haru dan keprihatinan yang mendalam.
Mereka yang seharusnya fokus mengasah fisik dan mental demi prestasi, justru harus menyaksikan sang pelatih bertaruh apa saja agar dapur pemusatan latihan tetap mengepul dan kebutuhan dasar mereka selama masa persiapan dapat terpenuhi.
Duka di balik panggung olahraga ini terasa semakin menyayat hati ketika disandingkan dengan catatan resmi keuangan daerah.
Berdasarkan data alokasi hibah berupa uang Tahun Anggaran 2026 yang merujuk pada Peraturan Bupati Mempawah Nomor 45 Tahun 2025 tertanggal 24 Desember 2025.
Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Mempawah sebenarnya tercatat menerima alokasi dana yang tidak sedikit, yakni mencapai Rp700 juta.
Kenyataan ini memunculkan ironi yang teramat pedih di tengah masyarakat; di satu sisi anggaran ratusan juta rupiah telah dialokasikan oleh pemerintah daerah, namun di sisi lain seorang pelatih di lapangan harus menjual barang rumah tangganya demi mempertahankan impian para atlet.
Kondisi ketimpangan yang begitu nyata ini memantik pertanyaan besar publik terkait tata kelola dan keberpihakan realisasi anggaran olahraga di Kabupaten Mempawah.
Pemusatan latihan merupakan fondasi utama dan masa-masa paling krusial bagi seorang atlet untuk bisa tampil maksimal membawa nama harum daerah.
Ketika kebutuhan dasar dalam TC tidak terpenuhi hingga merenggut pengorbanan pribadi sang pelatih, keprihatinan mendalam pun bergema agar setiap rupiah dari anggaran negara benar-benar menyentuh dan melindungi mereka yang berjuang di garis depan.
Masyarakat kini mengetuk nurani para pengambil kebijakan untuk bertindak cepat, transparan, dan memberikan perhatian yang layak demi menghargai keringat para pejuang olahraga.
Kini, pandangan dan harapan masyarakat tertuju sepenuhnya kepada KONI Kabupaten Mempawah untuk segera memberikan penjelasan transparan dan langkah nyata dalam menyelesaikan persoalan ini.
Publik tidak hanya menunggu klarifikasi mengenai alokasi dukungan anggaran TC bagi para atlet menuju Porprov 2026, tetapi juga merindukan kepastian agar pengorbanan menyedihkan seperti yang dialami Marsupandi tidak pernah terulang kembali.
Bagaimanapun juga, pengorbanan dan air mata di balik kulkas yang dilelang itu adalah pengingat abadi bahwa di balik megahnya panggung olahraga, ada hati seorang pelatih yang rela hancur demi melindungi pahlawan-pahlawan muda daerahnya. (R)









