oleh

Kapolda Sulbar Hidupkan Gerakan Subuh Keliling, Hadir Mendengar Suara Hati Masyarakat hingga ke Akar Permasalahan

MAMUJU, Discoverynews.id – Ada pesan mendalam di balik langkah Kapolda Sulawesi Barat yang memilih mengawali hari dengan berdiri bersama masyarakat dalam saf salat Subuh. Bukan sekadar menjalankan ibadah berjamaah, tetapi menghadirkan wajah kepolisian yang lebih dekat, lebih peduli, dan lebih memahami kehidupan masyarakat yang dilayaninya.

Melalui kegiatan Subuh Keliling, Kapolda Sulbar menguatkan semangat Polisi Bersama Masyarakat, sebuah pendekatan yang menempatkan masyarakat bukan hanya sebagai pihak yang dilindungi, tetapi juga sebagai sahabat, mitra, dan bagian terpenting dalam mewujudkan keamanan serta ketertiban.

Di dalam masjid, sekat antara polisi dan masyarakat seakan melebur. Tidak ada jarak yang memisahkan keduanya. Semua berdiri dalam saf yang sama, bersujud kepada Tuhan yang sama, dan memanjatkan doa dengan harapan yang sama: kehidupan yang aman, damai, dan penuh keberkahan.

Dari Saf Salat, Mendengar Suara Hati Rakyat

Bagi Kapolda Sulbar, kehadiran polisi di tengah masyarakat tidak boleh hanya dirasakan ketika terjadi persoalan hukum, kecelakaan, atau gangguan keamanan.

Polisi harus hadir jauh sebelum persoalan itu terjadi. Polisi perlu mengetahui apa yang sedang dirasakan masyarakat, apa yang mereka khawatirkan, dan persoalan apa yang selama ini mungkin belum tersampaikan kepada aparat kepolisian.

Melalui momentum Subuh Keliling, kedekatan yang terbangun diharapkan membuka ruang komunikasi yang lebih tulus dan terbuka antara polisi dengan masyarakat.

Persoalan keamanan lingkungan, kenakalan remaja, penyalahgunaan narkoba, peredaran minuman keras, konflik sosial, hingga berbagai keluhan tentang pelayanan kepolisian menjadi bagian dari aspirasi yang perlu didengarkan dan ditindaklanjuti sesuai kewenangan Polri.

Sebab, tidak semua persoalan masyarakat bermula dari tindak pidana. Ada kegelisahan yang membutuhkan perhatian, ada kesalahpahaman yang memerlukan penengah, dan ada persoalan kecil yang apabila dibiarkan dapat berkembang menjadi gangguan keamanan.

Polisi tidak boleh menunggu masyarakat datang membawa masalah. Polisi harus lebih dahulu datang, menyapa, mendengar, dan memahami persoalan masyarakat.

Semangat inilah yang ingin ditumbuhkan melalui gerakan Subuh Keliling.

Gerakan Bersama hingga Polsek, Polisi Hadir di Tengah Kehidupan Warga

Kabid Humas Polda Sulawesi Barat, Kombes Pol Memo Ardian, menjelaskan bahwa kegiatan Subuh Keliling bukan hanya dilaksanakan oleh Kapolda Sulbar, melainkan juga menjadi gerakan bersama yang melibatkan seluruh pejabat utama Polda Sulbar, para Kapolres, hingga Kapolsek di wilayah hukum Polda Sulawesi Barat.

Menurutnya, gerakan tersebut merupakan bagian dari upaya menghadirkan Polri secara langsung di tengah kehidupan masyarakat, sekaligus memperkuat komunikasi dua arah untuk memahami kondisi sosial dan akar permasalahan di setiap wilayah.

“Melalui kegiatan Subuh Keliling, kami ingin membangun kedekatan yang benar-benar dirasakan masyarakat. Seluruh pejabat utama Polda, Kapolres, hingga Kapolsek turun bersama masyarakat. Bukan hanya untuk beribadah, tetapi juga membuka ruang mendengar aspirasi, keluhan, dan harapan warga. Kami ingin masyarakat merasakan bahwa polisi adalah bagian dari mereka,” terang Kabid Humas.

Ia menambahkan bahwa setiap wilayah memiliki karakteristik dan persoalan yang berbeda. Karena itu, kehadiran langsung personel kepolisian di tengah masyarakat menjadi salah satu cara penting untuk memahami kondisi yang sesungguhnya.

Baca Juga  Tantang Bahaya di Atas Sungai Bondoyudo, Polsek Jatiroto Kawal Lomba Ambil Hadiah

“Kadang ada persoalan yang tidak pernah masuk dalam laporan resmi, tetapi menjadi beban pikiran masyarakat setiap hari. Ada warga yang ingin menyampaikan keluhan, tetapi tidak tahu harus berbicara kepada siapa. Melalui pendekatan seperti inilah kami ingin mendengar langsung suara mereka, mengetahui akar permasalahannya, dan membantu mencari jalan keluar sesuai kewenangan kepolisian,” jelasnya.

Bukan Sekadar Mendengar, tetapi Menghadirkan Penyelesaian

Lebih jauh, Kabid Humas menegaskan bahwa keberhasilan gerakan Polisi Bersama Masyarakat tidak cukup diukur dari banyaknya kegiatan yang dilaksanakan maupun dokumentasi yang dipublikasikan.

Keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika masyarakat semakin mudah menyampaikan persoalannya, keluhan mendapatkan respons, dan permasalahan yang menjadi sumber gangguan keamanan dapat ditangani secara nyata.

Karena itu, aspirasi yang diperoleh melalui kegiatan Subuh Keliling diharapkan menjadi bahan pemetaan permasalahan di setiap wilayah, sehingga jajaran kepolisian dapat menentukan langkah pencegahan, pelayanan, maupun penyelesaian yang tepat.

Persoalan yang menjadi kewenangan kepolisian ditindaklanjuti oleh satuan terkait, sedangkan persoalan sosial yang memerlukan dukungan pihak lain dapat dikoordinasikan bersama pemerintah daerah, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan unsur terkait.

“Jangan sampai masyarakat sudah menyampaikan persoalannya, tetapi tidak mengetahui bagaimana kelanjutannya. Kami ingin setiap aspirasi mendapat perhatian dan ditindaklanjuti. Karena kepercayaan masyarakat bukan dibangun oleh janji, melainkan melalui kepedulian dan tindakan nyata,” tambah Kabid Humas.

Membangun Kepercayaan dari Masjid, Menjaga Kedamaian hingga Pelosok Desa

Melalui gerakan Subuh Keliling yang dilaksanakan secara berjenjang hingga tingkat Polsek, Polda Sulbar berharap dapat memperkuat hubungan emosional antara kepolisian dan masyarakat di seluruh wilayah Sulawesi Barat.

Masjid tidak hanya menjadi tempat memperkuat keimanan, tetapi juga ruang mempererat persaudaraan, membangun kepedulian sosial, dan menumbuhkan tanggung jawab bersama dalam menjaga keamanan lingkungan.

Kegiatan ini sekaligus menegaskan bahwa pendekatan kepolisian yang humanis bukanlah sekadar slogan. Kehadiran Polri harus dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari, melalui sikap yang santun, keterbukaan untuk menerima kritik, serta kesungguhan dalam membantu masyarakat.

Sebab, di balik setiap aspirasi warga, ada harapan untuk didengar. Di balik setiap keluhan, ada keinginan mendapatkan keadilan. Dan di balik setiap langkah polisi mendekati masyarakat, ada kesempatan untuk menumbuhkan kembali rasa percaya.

Polisi yang dicintai masyarakat bukanlah polisi yang hanya dikenal karena kewenangannya, tetapi polisi yang dikenang karena kepeduliannya.

Melalui Subuh Keliling, Polda Sulawesi Barat berupaya menghadirkan makna tersebut dalam tindakan nyata.

Dari masjid ke masjid, dari desa ke desa, dari Kapolda hingga Kapolsek, satu semangat terus dibangun: tidak ada jarak antara polisi dan masyarakat.

Karena pada akhirnya, keamanan tidak mungkin diwujudkan oleh polisi sendirian. Keamanan lahir dari kebersamaan, kepedulian, saling percaya, dan kemauan untuk saling menjaga.

“Polisi Bersama Masyarakat bukan sekadar tentang polisi yang hadir di tengah warga, tetapi tentang masyarakat yang merasa memiliki polisi, dan polisi yang sepenuh hati hadir untuk masyarakat.”

 

Gilang Sulbar
Author: Gilang Sulbar