oleh

Yesus Menyelamatkan, Pemkab Kupang Bikin Apa?

Oleh: Riski Kake – Pemuda Fatuleu

Di saat Yesus mengajarkan kasih pada yang miskin, Pemkab Kupang justru sibuk membangun kemegahan.

Pembangunan Patung Kristus Memberkati di Desa Hansisi, Pulau Semau, setinggi 50-70 meter melampaui Patung Kristus di Brasil dengan alokasi anggaran yang fantastis Rp157 miliar, adalah contoh telanjang bagaimana pemerintah salah membaca penderitaan rakyatnya sendiri.

Pemkab menjual mimpi: wisata religi internasional, dongkrak ekonomi, PAD jangka panjang. Kedengarannya hebat di atas kertas.

Tapi mari bongkar mimpi itu dengan logika paling sederhana.

Rp157 Miliar Harus Dibayar Berapa Lama?

Anggap saja ada 100 pengunjung setiap hari, masing-masing bayar tiket Rp50.000.

Setahun pendapatan kotor hanya Rp1,825 miliar. Potong 10% untuk operasional dan perawatan, sisa bersih Rp1,64 miliar.

Butuh berapa lama untuk balik modal?

96 TAHUN.

Hampir satu abad! Itu pun kalau patungnya tidak rusak, tidak korosi oleh air laut Semau, dan pengunjungnya stabil 100 orang setiap hari tanpa putus.

Ini bukan investasi. Ini pemborosan yang dibungkus jubah rohani.

Lalu Rakyat Dapat Apa?

Sementara Bupati dan DPRD bersepakat menghabiskan Rp157 miliar untuk satu patung, data BPS 2025 berteriak:

70.990 jiwa masih miskin di Kabupaten Kupang. 25.811 rumah tidak layak huni. 16.853 anak tidak sekolah — tertinggi di NTT.

Di Fatuleu, di Amfoang, di Takari, orang masih antre air bersih. Jalan masih seperti kubangan kerbau. Anak sekolah masih jalan kaki berkilo-kilo meter.

Dan kita mau suruh mereka bangga karena punya patung tertinggi?

Yesus tidak butuh patung setinggi 70 meter untuk memberkati. Yang Dia butuhkan adalah pemerintah yang memberkati rakyatnya dengan air bersih, jalan mulus, dan sekolah yang layak.

Baca Juga  Nahkoda Baru PERMASKU Resmi DiLantik : “Kabupaten Kupang Tidak Baik-baik Saja, Mahasiswa Harus Kawal”

Rp.157 Miliar Itu Bisa Jadi Apa?

Jika Rp157 miliar itu bukan untuk patung, melainkan untuk jalan hotmix dengan biaya Rp. 2 miliar per kilometer, kita bisa membangun 78,5 kilometer jalan. Itu sama dengan jalan dari Kupang sampai Fatuleu. Jalan yang benar-benar dipakai rakyat untuk jual jagung, jual sapi, antar anak sekolah.

Mana yang lebih memberkati? Patung yang dilihat turis, atau jalan yang menyelamatkan ekonomi petani?

Saya tidak anti pembangunan. Saya anti pembangunan yang buta nurani.

Sah-sah saja menata wajah Kabupaten Kupang. Tapi tanyakan kembali: Wajah siapa yang ditata? Wajah rakyat atau wajah baliho pencitraan?

Apakah patung 70 meter lebih penting dari air bersih, jalan, dan sekolah?

Pemkab Kupang yang harus jawab. Bukan dengan narasi wisata, tapi dengan data dan nurani.

 

***Yekho/Red

Risal Boimau
Author: Risal Boimau