oleh

Sedekah Bumi dan Bedah Sejarah Desa Bandungrejo, Upaya Merawat Tradisi di Tengah Gempuran Modernitas

TubanDiscoveryNews.id – Angin sepoi-sepoi dari aliran Bengawan Solo berembus lembut, menggetarkan dedaunan di sekitar Punden Mbah Galeyo, Desa Bandungrejo, Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban. Pada Senin (19/10/2026), tempat keramat itu mendadak penuh riuh.

Ratusan warga dari berbagai usia, mulai dari para tetua hingga anak-anak muda generasi Z, berkumpul dengan wajah berseri. Wewangian dupa dan aroma sajian khas desa bercampur menjadi satu, menandai kembalinya geliat pelestarian sejarah dan budaya di tanah mereka.

Hari itu, tradisi turun-temurun Sedekah Bumi Mbah Galeyo yang bertepatan dengan ritual rutin Rabu Wage digelar megah. Acara ini tak sekadar seremoni rutin, melainkan momen bertemunya masa lalu, hari ini, dan masa depan warga Bandungrejo.

Suasana kekhusyukan kian terasa saat prosesi Larungan dimulai. Dipimpin oleh seorang pemuka agama, warga tertunduk khidmat dalam doa bersama. Langkah kaki kemudian bergerak perlahan menuju bibir Bengawan Solo. Di barisan depan, Subadi, salah seorang tokoh desa, memimpin rombongan sembari membawa sesaji.

Di tepi sungai legendaris tersebut, Subadi kembali memimpin doa singkat sebelum sesaji dilepaskan perlahan, menyatu dengan riak air Bengawan Solo.

Bagi warga Bandungrejo, Bengawan Solo telah menjadi urat nadi kehidupan- menjadi pundi rezeki bagi para nelayan lokal sekaligus penopang kesuburan sawah-sawah pertanian desa.

Larung sesaji ini adalah puji syukur sekaligus simbol keharmonisan antara manusia dan alam yang sudah terjalin sejak zaman nenek moyang,” tutur salah seorang warga di sela-sela riak air yang membawa sesaji hanyut perlahan.

Usai Larungan, giliran tradisi Manganan yang membuat suasana makin hangat. Ratusan nampan dan wadah berisi nasi berkat dibagikan secara merata. Tanpa sekat status sosial, warga duduk bersila bersama, menikmati santapan itu dengan tawa dan penuh kegembiraan. Rasa kebersamaan merayap hangat di tengah terik matahari siang itu.

Baca Juga  Memburu Pemangsa Hadirkan Perburuan Empat Jurnalis Perempuan terhadap Kasus Anak Hilang

Selesai ritual Sedekah Bumi, perhatian warga bergeser ke agenda puncak: Bedah Sejarah Desa Bandungrejo. Tenda acara mendadak hening ketika Sekretaris Desa Bandungrejo, Pranoto, membacakan lembar demi lembar manuskrip dan catatan sejarah desa.

Diskusi kian hidup dan memikat saat Ali Sujono, seorang pegiat Aksara Jawa Kuno, naik panggung. Dengan telaten, ia memaparkan rekam jejak Bandungrejo yang dipadukan dengan data otentik-mulai dari catatan era kolonial Belanda hingga fakta-fakta tersembunyi dari Prasasti Tuban I dan II. Warga tersihir, seolah diajak melintasi lorong waktu melihat desa mereka dari masa ke masa.

( Red / Jatim )

Andi
Author: Andi