oleh

Gema “Buruh Tani” Membakar Malam, Massa Aksi Tetap Bertahan di Bundaran Digulis

PONTIANAK,Discoverynews.id ~ Suasana hingga malam ini pergerakan mahasiswa dan masyarakat kembali memuncak di pusat Kota Pontianak pada Jumat, 23 Oktober 2026.

Bertempat di kawasan ikonik Bundaran Digulis, ratusan massa aksi bertajuk “Revolusi” memilih untuk terus bertahan dan menolak membubarkan diri hingga malam hari.

Di bawah pendar lampu jalanan dan kepungan pengawalan aparat, lautan massa justru semakin solid menyatukan barisan sambil mengumandangkan lagu perjuangan “Buruh Tani” secara berulang-ulang, menciptakan atmosfer perlawanan yang kental dan menggema di seluruh penjuru persimpangan.  

Aksi unjuk rasa ini dimulai sejak siang hari ketika massa berkumpul dan menguasai area Bundaran Digulis untuk menyuarakan keresahan rakyat. Kronologi pergerakan berkembang semakin dinamis saat perwakilan orator naik ke mimbar bebas secara bergantian, membacakan berbagai tuntutan mendesak terkait isu-isu krusial daerah maupun nasional.

Seiring bergantinya waktu menuju malam, alih-alih menyurutkan semangat, massa justru merapatkan barisan dan menegaskan bahwa aksi mereka belum selesai sebelum aspirasi didengar secara nyata.  

Berbagai persoalan fundamental menjadi sorotan utama dalam gelombang protes kali ini massa menyuarakan tuntutan tajam terkait persoalan sosial, krisis ekonomi, perbaikan sektor pendidikan dan kesehatan, pemberantasan korupsi, penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hingga penolakan terhadap sejumlah kebijakan pemerintah yang dinilai merugikan masyarakat luas.

Lagu “Buruh Tani” yang dinyanyikan bersama menjadi lambang persatuan atas ketidakpuasan terhadap kondisi sosial-ekonomi saat ini.  

Hingga berita ini diturunkan, massa aksi masih berdiri kokoh dan memblokir sebagian ruas jalan di sekitar Bundaran Digulis tanpa ada tanda-tanda akan beranjak.

Mereka menegaskan akan terus mengawal setiap tuntutan dan bertahan di lokasi aksi sebagai bentuk konsistensi perjuangan.

Momen bertahan malam ini menjadi bukti nyata bahwa gelombang protes warga Kalimantan Barat masih jauh dari kata usai dan akan terus bergulir hingga adanya tanggapan konkret dari pihak berwenang. (R)

Baca Juga  Dugaan Perampokan Emas di Sekadau Masuk Jalur Hukum, Oknum Kejaksaan Turut Terseret