oleh

Di Lapangan Upacara SMAN 1 Teluk Dalam, Polisi Bicara Soal Teman

Nias SelatanDiscoveryNews.id – Pagi itu, Senin 26 Oktober 2026, pukul 07.15 WIB, lapangan SMA Negeri 1 Teluk Dalam tidak seperti biasa. Bendera Merah Putih berkibar. Di bawahnya, bukan hanya kepala sekolah yang berdiri, tapi seorang perwira polisi.

Wakapolres Nias Selatan KOMPOL Mahyu Danil Noor, http://S.Si., mengambil alih mimbar upacara. Programnya bernama POLIDIK: Polisi Peduli Pendidikan.

Ia tidak datang membawa pasal-pasal KUHP. Ia datang membawa satu keresahan yang kini merajalela di sekolah-sekolah Indonesia: bullying.

“Jangan pernah merasa hebat karena mampu menakut-nakuti teman atau merasa kuat karena mampu mempermalukan orang lain,” suaranya tegas memecah hening lapangan upacara.

Di hadapan ratusan siswa, personel Polres, dewan guru, dan mahasiswa Uniraya PLP2, ia membongkar wajah bullying yang sering dianggap sepele.

Bullying, kata dia, bukan hanya soal tinju di lorong sekolah. Bullying adalah ejekan yang diulang-ulang. Hinaan di grup WhatsApp. Pengucilan di kantin. Ancaman halus. Dan yang paling kejam di era ini: mempermalukan teman lewat satu unggahan di media sosial.

Menurut KOMPOL Mahyu, sekolah selama ini hanya dipahami sebagai tempat menimba ilmu. Padahal, fungsi yang lebih penting adalah sebagai tempat menempa karakter. Tempat belajar disiplin, tanggung jawab, dan menghormati manusia lain.

Karena itu, ia memberi tiga perintah moral kepada pelajar Teluk Dalam.

Pertama: jangan pernah menjadi pelaku. Kedua: jangan ikut menertawakan ketika temanmu dirundung. Ketiga: jangan pernah menyebarkan foto atau video yang mempermalukan orang lain. Sekali kamu sebarkan, lukanya abadi di internet.

Ia juga membalikkan logika kekuatan yang sering salah dipahami remaja.

Baca Juga  Dukung Ketahanan Pangan, Polsek Lumajang Kota Cek Lahan Jagung

“Kekuatan yang sebenarnya adalah kemampuan mengendalikan diri, menghargai sesama, serta berani melakukan hal yang benar,” ujarnya.

POLIDIK bukan program seremonial. Ini adalah upaya Polres Nias Selatan untuk memutus mata rantai kekerasan yang sering berawal dari bangku sekolah.

Wakapolres meminta para siswa untuk berani. Berani melapor jika melihat. Berani bersuara jika menjadi korban. Lapor ke guru, wali kelas, guru BK, orang tua, atau polisi. Diam adalah cara paling jahat untuk membiarkan bullying hidup.

Di akhir amanatnya, ia meninggalkan satu kalimat yang menggantung di benak ratusan siswa pagi itu, sebuah kalimat yang layak ditempel di dinding setiap kelas di Nias Selatan.

“Jadilah teman yang menguatkan, bukan teman yang menjatuhkan. Berani berteman, berani menghormati, berani melapor, dan berani mengatakan tidak terhadap perundungan.”

Pagi itu, polisi tidak menilang. Polisi sedang mendidik.

Red/Humas Polres Nias Selatan

Haris
Author: Haris