oleh

Sumpah Pemuda 2026 Harus Jadi Ikrar Keadilan, Bukan Sekadar Seremoni

Kupang, DiscoveryNewsId_98 tahun lalu, di sebuah ruangan di Jakarta, para pemuda bersatu dan berikrar: Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa! Mereka bersatu demi kemerdekaan dan kedaulatan bangsa.

Hari ini, kita merayakan Sumpah Pemuda bukan sekadar mengenang masa lalu. Kita berkumpul untuk bertanya: kemana arah perjuangan kita hari ini? Apakah kemerdekaan yang diperjuangkan leluhur sudah membawa kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia?

Data menyebutkan ekonomi kita tumbuh di atas 5 persen. Itu angka yang membanggakan. Di atas kertas, perekonomian Indonesia berjalan kuat. Investasi masuk, cadangan devisa aman, pengangguran menurun. Namun mari kita lihat kenyataan di sekitar kita.

Masih ada 26 juta jiwa saudara kita yang hidup dalam kemiskinan. Masih ada anak putus sekolah karena tidak mampu membayar biaya pendidikan. Masih ada rumah tidak layak huni, jalan yang belum terhubung, dan kesenjangan yang tajam antara kota besar dan daerah terpencil – termasuk di tanah kita, Nusa Tenggara Timur.

Pertumbuhan ekonomi yang tidak merata bukan kemajuan. Kekayaan yang hanya dinikmati segelintir orang bukan keadilan. Sumpah Pemuda kita tidak hanya berbicara tentang satu bahasa, satu bangsa – tetapi juga satu nasib, satu kesejahteraan untuk seluruh anak bangsa!

Sumpah Pemuda tahun 1928 adalah ikrar persatuan. “Sumpah Pemuda tahun 2026 harus menjadi ikrar keadilan!

Kita tidak menolak kemajuan. Tetapi kita menolak pembangunan yang melupakan rakyat.

Kabupaten Kupang adalah gerbang NTT, tanah yang diberkati dengan laut yang luas dan tanah yang subur. Namun di tengah kemajuan yang terus dibanggakan, masih banyak saudara kita yang belum merasakannya.

Masih ada rumah yang bocor saat hujan dan panas saat kemarau, sementara pembangunan mewah berdiri tak jauh dari sana. Masih ada anak yang berjalan jauh ke sekolah, berhenti belajar karena tidak mampu, sementara anggaran besar sering kali tak sampai ke mereka yang paling membutuhkan. Jalan desa yang rusak membuat hasil bumi membusuk sebelum sampai ke pasar, padahal rakyat berjuang setiap hari untuk bertahan hidup.

Baca Juga  Ketua DPP PKB Wilayah Sumatera Utara Resmi Kukuhkan Pengurus DPC PKB Nias Barat, Guribano Waruwu Siap Kibarkan Panji Partai

Kemiskinan bukan karena kemalasan, tetapi karena prioritas yang sering kali terbalik. Pembangunan yang megah dan pembangunan Patung Kristus didahulukan, sementara kebutuhan dasar rakyat tertunda.

Atas dasar itu, saya Fridus Utan selaku ketua bidang Germas PERMASKKU mengecam keras Bupati Kupang untuk lebih mengutamakan kebutuhan dasar masyarakat Kabupaten Kupang, dan menuntut dengan tegas untuk segera melakukan reviuw RPJMD untuk pembatalan pembangunan Patung yang menggunakan dana APBD.

Maka hari ini, dengan teguh pendirian, kami menyatakan:

LIMA IKRAR RAKYAT KABUPATEN KUPANG

Pertama:
Kami menolak segala bentuk arogansi – sikap yang mendahulukan kemegahan di atas penderitaan rakyat, yang lebih mendengarkan suara kekuasaan daripada tangisan yang tak terdengar dari pelosok desa.

Kedua:
Kami menuntut pembangunan yang dimulai dari yang paling bawah – dari rumah yang tidak layak huni, dari anak yang putus sekolah, dari jalan yang terputus, dari keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan dasar. Bukan dari patung megah yang berdiri di saat rakyat masih berjuang untuk makan hari esok.

Ketiga:
Kami menuntut pendidikan yang setara bagi setiap anak bangsa dan lapangan kerja yang layak untuk setiap pemuda.

Keempat:
Kami menuntut pembangunan yang tidak mengorbankan yang lemah dan kesejahteraan yang benar-benar dirasakan, bukan hanya dicatat dalam angka statistik.

Kelima:
Bahwa kami tidak akan diam selama masih ada saudara kita yang tertinggal. Bahwa Sumpah Pemuda bukan sekadar sejarah, melainkan semangat yang hidup di setiap perjuangan untuk Indonesia yang lebih adil dan sejahtera.

Persatuan tanpa keadilan hanyalah kata-kata. Kemerdekaan tanpa kesejahteraan hanyalah nama di peta.

***Yekho/Red

Risal Boimau
Author: Risal Boimau