oleh

Krisis Air Bersih, Warga Royal Spring Gowa Tuntut Solusi

Gowa,Discoverynews.id – Puluhan warga Perumahan Royal Spring, Cluster Sakura Park, menggelar aksi demonstrasi di depan Marketing Gallery Royal Spring, Jalan Tun Abdul Razak, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Jumat (30/10/2026). Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk protes atas persoalan krisis air bersih yang diklaim telah berlangsung selama kurang lebih tiga tahun dan semakin memburuk dalam dua pekan terakhir.

 

Dalam aksi tersebut, warga menyampaikan sejumlah tuntutan kepada pihak manajemen Royal Spring dan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Gowa agar segera mengambil langkah konkret untuk menyelesaikan persoalan distribusi air bersih yang hingga kini belum mendapatkan penanganan secara tuntas.

 

Warga mengaku kesulitan memperoleh pasokan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bahkan, dalam dua pekan terakhir, aliran air dilaporkan hampir setiap hari mengalami penghentian mulai pukul 06.00 hingga 22.00 WITA.

 

Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap aktivitas rumah tangga penghuni Cluster Sakura Park. Berbagai kebutuhan dasar, seperti memasak, mencuci pakaian, mandi, hingga membersihkan rumah, menjadi terganggu akibat tidak tersedianya air bersih secara memadai.

 

Tidak sedikit warga yang akhirnya harus mencari alternatif untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Sebagian penghuni terpaksa menggunakan jasa laundry untuk mencuci pakaian, membeli air galon, bahkan mengeluarkan biaya tambahan demi mendapatkan air bersih.

 

Salah seorang warga Cluster Sakura Park, Eci Manalu, mengungkapkan bahwa persoalan distribusi air tersebut tidak dialami seluruh penghuni Perumahan Royal Spring. Menurutnya, dari tujuh klaster yang ada, gangguan pasokan air paling sering dirasakan oleh warga Cluster Sakura Park.

 

“Kami di sini ada tujuh klaster di Royal Spring, cuma satu klaster yang paling sering mati air. Itu klaster kami, Sakura. Kami beli rumah di klaster Sakura miliaran, tapi kenapa perumahan mewah malah bermasalah soal air bersih,” kata Eci.

 

Ia menyayangkan kondisi tersebut karena warga telah mengeluarkan biaya besar untuk membeli rumah di kawasan perumahan tersebut. Selain itu, penghuni juga rutin membayar iuran pengelolaan lingkungan (IPL) setiap bulan, serta membayar tagihan air berdasarkan pemakaian.

 

Menurut Eci, besaran IPL yang dibayarkan warga mencapai sekitar Rp500 ribu per bulan. Namun, meskipun kewajiban pembayaran tetap berjalan, kebutuhan dasar berupa air bersih justru belum dapat dinikmati secara konsisten.

 

“Kami ini seperti tahun 1980-an, susah mencari air. Klaster lain airnya mengalir, sementara kami bisa sampai enam, sepuluh, bahkan belasan jam tidak ada air. Pernah juga sampai 24 jam,” ungkapnya.

 

Eci menambahkan, dalam dua pekan terakhir gangguan pasokan air semakin sering terjadi. Warga bahkan harus menghabiskan banyak waktu untuk meminta bantuan distribusi air kepada pihak manajemen melalui grup komunikasi penghuni perumahan.

 

Padahal, menurutnya, warga telah berulang kali menyampaikan keluhan dan berupaya mencari jalan keluar melalui komunikasi dengan pihak terkait. Namun, hingga aksi demonstrasi digelar, persoalan tersebut dinilai belum mendapatkan penyelesaian sebagaimana yang diharapkan.

 

**Warga Sudah Tempuh Mediasi Dua Kali**

Sebelum menggelar demonstrasi, warga Cluster Sakura Park mengaku telah menempuh jalur mediasi dengan pihak manajemen Royal Spring. Mediasi pertama berlangsung sekitar dua pekan sebelumnya, kemudian dilanjutkan dengan pertemuan kedua pada Sabtu (24/10/2026).

 

Dalam pertemuan tersebut, salah satu solusi jangka panjang yang dibahas adalah pembongkaran dan pembangunan jaringan pipa induk untuk memperbaiki distribusi air bersih menuju Cluster Sakura Park.

 

Warga menyambut baik adanya rencana tersebut. Namun, mereka juga meminta agar selama proses pembangunan jaringan pipa induk belum terealisasi, pihak terkait menyediakan solusi sementara berupa distribusi air bersih menggunakan mobil tangki.

 

Eci menjelaskan, dalam kesepakatan mediasi tersebut, warga meminta agar pasokan air bersih melalui mobil tangki dapat diberikan sebanyak dua hingga tiga tangki untuk memenuhi kebutuhan penghuni.

 

“Sudah ada surat perjanjian yang menyatakan PDAM akan membongkar dan membuat pipa induk. Ada solusi jangka panjang. Sambil menunggu itu terealisasi, kami diberikan solusi jangka pendek berupa distribusi air bersih langsung dari PDAM, dua sampai tiga tangki,” jelas Eci.

 

Namun, menurutnya, bantuan air tangki yang sebelumnya pernah diberikan belum mampu memenuhi kebutuhan seluruh warga. Pasalnya, jumlah penghuni Cluster Sakura Park cukup banyak sehingga kebutuhan air bersih setiap harinya juga tidak sedikit.

 

Ia menyebut, sekitar dua pekan lalu, setelah warga mendatangi pihak terkait, dua tangki air bersih sempat didatangkan untuk membantu memenuhi kebutuhan penghuni. Akan tetapi, bantuan tersebut hanya diberikan satu kali dan belum dilanjutkan secara rutin.

 

Karena itu, warga berharap distribusi air menggunakan mobil tangki dapat dilakukan secara berkala sampai pembangunan jaringan pipa induk benar-benar dilaksanakan dan aliran air kembali normal.

Baca Juga  Kecelakaan di Pasangkayu, Dua Pengendara Motor Tak Pakai Helm dan Tak Miliki SIM

 

Menurut warga, penyediaan air bersih bukan sekadar persoalan kenyamanan, melainkan kebutuhan mendasar yang harus tersedia untuk menunjang kehidupan sehari-hari.

 

**Warga Keluhkan Pembayaran Tetap Berjalan**

Keluhan serupa disampaikan Mery, salah seorang penghuni Cluster Sakura Park. Ia mengaku telah menghadapi persoalan distribusi air sejak pertama kali membeli rumah di kawasan tersebut sekitar tiga tahun lalu.

 

Mery mengatakan, selama ini pembayaran tagihan air PDAM tetap berjalan dengan pengeluaran sekitar Rp150 ribu setiap bulan. Selain itu, warga juga harus membayar IPL sekitar Rp504 ribu per bulan.

 

Ia mempertanyakan kondisi distribusi air yang dinilai tidak merata, terutama karena gangguan lebih sering dirasakan oleh penghuni Cluster Sakura Park dibandingkan klaster lainnya.

 

“Pembayaran lancar, tapi air PDAM? Okelah, kami terima kalau sekarang tekanan air menurun. Tapi yang jadi masalah, kenapa klaster lain dapat, kami yang tidak? Ada apa dengan PDAM? Ada apa dengan Royal Spring?” ujarnya.

 

Menurut Mery, warga sebenarnya dapat memahami apabila terjadi penurunan tekanan air akibat kendala teknis tertentu. Namun, ia berharap pihak terkait memberikan penjelasan secara terbuka mengenai penyebab gangguan yang terus terjadi di lingkungan tempat tinggal mereka.

 

Ia juga meminta adanya kepastian mengenai pemerataan distribusi air agar seluruh penghuni perumahan memperoleh pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan.

 

Dampak krisis air tersebut turut dirasakan dalam kehidupan keluarga dan aktivitas pekerjaan. Mery yang bekerja sebagai karyawan swasta mengaku kesulitan mengatur pekerjaan rumah tangga karena keterbatasan pasokan air.

 

“Anak sekolah terhambat, pekerjaan rumah terhambat. Kita harusnya mencuci di rumah, jadinya laundry. Sementara IPL kami setengah juta, klaster paling mahal itu IPL-nya,” keluhnya.

 

Kondisi tersebut membuat warga harus mengeluarkan biaya tambahan yang seharusnya dapat digunakan untuk kebutuhan rumah tangga lainnya.

 

Warga berharap persoalan ini tidak terus berlarut-larut karena air bersih merupakan kebutuhan utama setiap keluarga, termasuk untuk menjaga kebersihan, kesehatan, serta kelancaran aktivitas anak-anak dan anggota keluarga lainnya.

 

**Warga Minta Kepastian Realisasi Pembangunan Pipa Induk**

Melalui aksi demonstrasi tersebut, warga Cluster Sakura Park kembali menegaskan tuntutannya kepada pihak manajemen Royal Spring dan PDAM Kabupaten Gowa agar segera merealisasikan hasil kesepakatan mediasi.

 

Warga meminta adanya kepastian jadwal pelaksanaan pembongkaran dan pembangunan jaringan pipa induk yang sebelumnya telah dibahas bersama. Mereka juga meminta agar solusi sementara berupa pengiriman air bersih menggunakan mobil tangki dilakukan secara rutin dan mencukupi kebutuhan penghuni.

 

Selain itu, warga berharap adanya komunikasi yang lebih terbuka antara manajemen perumahan, PDAM, dan masyarakat agar setiap perkembangan penanganan persoalan dapat diketahui secara jelas.

 

Bagi warga, penyelesaian krisis air bersih tidak cukup hanya melalui pertemuan dan penyampaian janji. Mereka menginginkan langkah nyata yang dapat dirasakan langsung oleh seluruh penghuni Cluster Sakura Park.

 

Warga juga berharap pemerintah daerah melalui instansi terkait dapat memberikan perhatian terhadap persoalan pelayanan air bersih tersebut, sehingga penyelesaian masalah dapat berjalan sesuai kesepakatan dan tidak semakin merugikan masyarakat.

 

**Royal Spring Belum Berikan Klarifikasi**

Hingga berita ini diterbitkan, pihak manajemen Royal Spring belum memberikan klarifikasi resmi terkait keluhan warga Cluster Sakura Park mengenai gangguan distribusi air bersih yang disebut telah berlangsung selama kurang lebih tiga tahun.

 

Awak media telah berupaya meminta tanggapan kepada Humas Royal Spring, Wahyu, untuk memperoleh penjelasan mengenai penyebab gangguan pasokan air serta langkah yang akan dilakukan pihak perusahaan dalam menyelesaikan persoalan tersebut.

 

Namun, Wahyu menyampaikan bahwa dirinya belum dapat memberikan keterangan karena masih menunggu arahan dari pimpinan perusahaan yang saat itu sedang mengikuti rapat.

 

“Saya tidak bisa kasih komentar. Tunggu pimpinan. Karena sementara rapat. Nanti dia kasih klarifikasi,” ucap Wahyu kepada awak media.

 

Dengan belum adanya penjelasan resmi dari pihak manajemen, warga masih menantikan kepastian mengenai tindak lanjut atas tuntutan yang telah disampaikan melalui aksi demonstrasi tersebut.

 

Warga berharap manajemen Royal Spring dan PDAM Kabupaten Gowa segera memberikan penjelasan secara terbuka, sekaligus memastikan realisasi pembangunan jaringan pipa induk sebagaimana yang telah dibahas dalam mediasi sebelumnya.

 

Masyarakat juga mengharapkan adanya langkah penanganan sementara yang memadai agar kebutuhan air bersih warga Cluster Sakura Park tetap terpenuhi selama proses perbaikan jaringan berlangsung.

 

Persoalan ini menjadi perhatian warga karena air bersih merupakan kebutuhan dasar yang tidak dapat ditunda. Mereka berharap permasalahan yang telah berlangsung bertahun-tahun tersebut segera menemukan penyelesaian sehingga seluruh penghuni dapat kembali menjalankan aktivitas sehari-hari secara normal.