SAWAHLUNTO discoverynews.id— Di tengah berkembangnya narasi yang mengaitkan harapan pedagang Silo kepada PT Bukit Asam Tbk (PTBA) melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) dengan permintaan bantuan ekonomi, Asosiasi Pedagang Silo Sawahlunto (APESISTO) menegaskan bahwa persoalan yang diperjuangkan para pedagang sejak awal bukanlah bantuan uang, modal usaha, pelatihan maupun bantuan konsumtif lainnya, melainkan percepatan penataan kawasan relokasi yang hingga kini masih terkendala status penggunaan lahan. 26 juli 2026
Ketua APESISTO, Marjafri, mengatakan sejak para pedagang direlokasi ke kawasan Silo pada 20 Agustus 2025, organisasi yang dipimpinnya terus bergerak menghimpun aspirasi para pedagang sekaligus membangun komunikasi dan koordinasi dengan berbagai pihak guna mencari solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi di kawasan relokasi tersebut.
Menurutnya, hampir satu tahun setelah relokasi, persoalan utama yang masih dirasakan para pedagang adalah belum tertatanya kawasan secara memadai. Kondisi lokasi masih kerap tergenang saat hujan, becek di sejumlah titik, serta belum didukung sarana dan prasarana yang layak untuk menunjang aktivitas perdagangan.
“Sejak awal yang kami perjuangkan adalah penataan kawasan. Itu kebutuhan paling mendasar bagi para pedagang. Kami tidak pernah meminta bantuan uang, modal usaha ataupun pelatihan. Yang kami inginkan adalah kawasan relokasi yang layak sehingga masyarakat nyaman datang dan pedagang dapat menjalankan usahanya dengan baik,” ujar Marjafri.
Ia menjelaskan, Pemerintah Kota Sawahlunto sebenarnya telah mengalokasikan anggaran lebih dari Rp600 juta pada Tahun Anggaran 2025 untuk melakukan penataan kawasan Silo. Namun hingga kini pekerjaan fisik belum dapat direalisasikan karena kawasan tersebut berada pada lahan yang masih terkendala penyelesaian izin pinjam pakai.
“Kendalanya bukan karena pemerintah tidak menganggarkan atau tidak memiliki komitmen melakukan penataan, tetapi karena status penggunaan lahannya. Selama persoalan tersebut belum terselesaikan, pembangunan fisik belum dapat dilaksanakan,” jelasnya.
Atas kondisi itu, APESISTO kemudian membangun komunikasi dengan PT Bukit Asam Tbk sebagai pihak yang memiliki kewenangan atas penggunaan lahan. Harapan agar PTBA dapat mengambil peran melalui program CSR, kata Marjafri, muncul sebagai alternatif solusi apabila proses penyelesaian status penggunaan lahan belum dapat diselesaikan dalam waktu dekat.
“Jadi jangan dipahami seolah-olah pedagang meminta bantuan uang ataupun modal usaha. Harapan kami kepada PTBA adalah agar penataan kawasan dapat segera terlaksana. Apabila pemerintah belum dapat melakukan pembangunan fisik karena terkendala status lahan, maka PTBA diharapkan dapat mengambil peran melalui program CSR sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan,” katanya.
Marjafri menegaskan, di tengah belum terealisasinya penataan kawasan, para pedagang tidak memilih berpangku tangan menunggu keadaan berubah. Melalui APESISTO, berbagai langkah terus dilakukan untuk menjaga agar kawasan Silo tetap hidup dan mampu menarik kunjungan masyarakat.
Bersama Pemerintah Kota Sawahlunto, APESISTO aktif mendorong penyelenggaraan berbagai kegiatan seni, budaya, edukasi, hingga hiburan masyarakat sebagai upaya menghidupkan kembali denyut perekonomian di kawasan relokasi.
Tidak hanya itu, sebagai bentuk inisiatif para pedagang sendiri, APESISTO juga menyelenggarakan Open Turnamen Domino Piala Wali Kota Sawahlunto 2026 yang berlangsung mulai 18 Juli hingga 16 Agustus 2026. Turnamen tersebut memperebutkan hadiah utama satu unit sepeda motor matic serta hadiah uang tunai dengan total belasan juta rupiah.
Menurut Marjafri, penyelenggaraan berbagai kegiatan tersebut merupakan bukti bahwa para pedagang tidak sekadar menunggu bantuan dari pihak lain, tetapi berupaya menciptakan daya tarik agar masyarakat datang ke kawasan Silo sehingga aktivitas ekonomi tetap berjalan meskipun berada di tengah berbagai keterbatasan.
“Sejak direlokasi, kami tidak pernah berhenti berupaya. Bersama pemerintah kami terus mencari cara agar kawasan ini tetap hidup. Ditengah segala keterbatasan, kami menggelar berbagai kegiatan, membangun komunikasi dengan berbagai pihak, menyampaikan aspirasi pedagang, hingga menyelenggarakan Open Turnamen Domino Piala Wali Kota Sawahlunto. Semua itu merupakan ikhtiar bersama agar perekonomian para pedagang tetap bergerak sambil menunggu penataan kawasan dapat direalisasikan,” ujarnya.
Ia menambahkan, APESISTO akan terus menjalankan fungsinya sebagai wadah perjuangan para pedagang dengan menghimpun aspirasi serta membangun koordinasi bersama seluruh pemangku kepentingan.
“APESISTO akan selalu bergerak aktif memperjuangkan kepentingan para pedagang melalui komunikasi dan koordinasi dengan Pemerintah Kota Sawahlunto, PT Bukit Asam, maupun pihak-pihak terkait lainnya. Kami percaya persoalan kawasan Silo hanya dapat diselesaikan melalui kolaborasi, bukan dengan saling menyalahkan,” tegasnya.
Marjafri berharap masyarakat dapat melihat persoalan kawasan Silo secara utuh berdasarkan fakta yang terjadi di lapangan. Menurutnya, selama hampir satu tahun pascarelokasi, para pedagang tidak pernah hanya menunggu bantuan, tetapi terus berjuang melalui APESISTO untuk menghidupkan kawasan, memperjuangkan penataan, serta membangun sinergi dengan seluruh pihak demi terwujudnya kawasan perdagangan yang tertata, nyaman, dan mampu menjadi penggerak perekonomian masyarakat Sawahlunto.









Komentar