Jember, 27 Juli 2026 – DiscoveryNews.id
Kementerian Kesehatan menyatakan peluncuran program Home Care bertajuk “Mewujudkan Dokter Keluarga untuk Masyarakat Tidak Mampu” di Kabupaten Jember menjadi salah satu inovasi yang mendukung penguatan layanan kesehatan primer sekaligus mempercepat penemuan kasus tuberkulosis (TB) melalui pendekatan berbasis keluarga.
Wakil Menteri Kesehatan, Dr. Benjamin Paulus Octavianus, di Jakarta, Minggu (27/7/2026), mengatakan program Home Care yang diinisiasi Pemerintah Kabupaten Jember diharapkan mampu melengkapi berbagai program prioritas Kementerian Kesehatan, termasuk pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) dengan pemeriksaan foto rontgen bagi kontak erat pasien TB.
“Sinergi tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperluas jangkauan pelayanan kesehatan sekaligus memutus rantai penularan TB di masyarakat,” ujarnya.
Benjamin menjelaskan pihaknya terus memperkuat upaya penanggulangan tuberkulosis melalui strategi deteksi dini, penemuan kasus secara aktif, serta perluasan akses layanan kesehatan hingga ke tingkat rumah tangga.
“Indonesia masih menjadi negara dengan jumlah kasus tuberkulosis terbesar kedua di dunia. Karena itu kita harus melakukan langkah luar biasa. Selama ini pengobatan pasien TB sudah berjalan dengan baik, tetapi tantangannya adalah orang yang tinggal serumah atau kontak erat sering kali belum diperiksa. Di sinilah kita harus memperkuat deteksi dini agar penularan dapat dihentikan lebih cepat,” tegasnya.
Pada 2026, Kementerian Kesehatan melaksanakan program Cek Kesehatan Gratis dengan pemeriksaan foto rontgen di 53.335 lokasi di seluruh Indonesia, termasuk 228 lokasi di Kabupaten Jember.
Melalui pemeriksaan tersebut, masyarakat yang diduga menderita TB dapat segera ditemukan dan diobati.
Sementara anggota keluarga atau kontak erat yang belum menunjukkan gejala akan diberikan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) agar tidak berkembang menjadi penyakit aktif.
“Yang sakit diobati, sedangkan yang belum kita berikan obat pencegahannya. Kuman TB bisa berada di dalam tubuh seseorang dan baru menimbulkan penyakit satu sampai dua tahun kemudian. Kalau diberikan terapi pencegahan lebih awal, kita bisa memutus rantai penularan sebelum penyakit berkembang,” ungkapnya.
Menurutnya, keberhasilan eliminasi TB tidak hanya bergantung pada fasilitas pelayanan kesehatan, tetapi juga peran pemerintah daerah serta masyarakat dalam menemukan kasus secara aktif dan memastikan pasien menjalani pengobatan hingga tuntas.
“Kami berharap pemerintah daerah ikut mengawal program ini. Kementerian Kesehatan telah menyiapkan dukungan pelaksanaan CKG dengan foto rontgen. Yang terpenting adalah masyarakat mau datang untuk diperiksa sehingga kasus TB bisa ditemukan lebih cepat dan segera ditangani,” katanya.
Sementara itu, Bupati Jember Muhammad Fawait menjelaskan program Home Care lahir dari evaluasi pemerintah daerah setelah seluruh masyarakat tidak mampu memperoleh perlindungan melalui Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Evaluasi tersebut menunjukkan masih banyak masyarakat yang belum memanfaatkan layanan kesehatan karena terkendala biaya transportasi maupun akses menuju fasilitas kesehatan.
“Kami ingin memastikan masyarakat tidak hanya memiliki jaminan kesehatan, tetapi juga benar-benar bisa memperoleh pelayanan. Karena itu tenaga kesehatan akan datang langsung ke rumah-rumah warga untuk melakukan pemeriksaan kesehatan dasar, memberikan edukasi, serta memanfaatkan telemedicine apabila diperlukan konsultasi dengan dokter,” ujar Fawait.
Menurutnya, kemiskinan dan kesehatan merupakan dua persoalan yang saling berkaitan.
“Ketika masyarakat tidak memperoleh akses layanan kesehatan yang memadai, risiko kehilangan produktivitas meningkat, beban pengeluaran rumah tangga bertambah, bahkan dapat mendorong keluarga jatuh atau kembali ke dalam kemiskinan,” jelasnya.
(Dang)









Komentar