GARUT, Discovernews.id — Pemerintah Kabupaten Garut terus melakukan upaya dalam memperluas kesempatan kerja bagi warganya. Dalam hal ini, Bupati Garut Abdusy Syakur Amin secara resmi melepas 28 Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Garut yang menerima beasiswa dari Pemerintah Jepang dan akan berangkat untuk menempuh studi dan bekerja di Jepang.
Pelepasan tersebut dilaksanakan bertepatan dengan apel gabungan di Lapangan Sekretariat Daerah, Jalan Pembangunan, Kecamatan Tarogong Kidul, pada Senin (28/9/2026).
Bupati Syakur mengungkapkan bahwa pengiriman PMI ke luar negeri merupakan salah satu strategi taktis Pemkab Garut yang bekerja sama dengan Pemerintah Jepang untuk menghadapi tantangan bonus demografi. Setiap tahunnya, Garut kedatangan puluhan ribu pencari kerja baru yang masuk ke pasar tenaga kerja.
“Kita ini kan mengalami bonus demografi, di satu sisi banyak anak-anak muda kita. Tapi di sisi lain juga kesempatan kerja di kita juga terbatas. Kami sampaikan kan tiap tahun kita lahir banyak pilihan ribu, dan kita tahun 2018 seingat saya itu 54 ribu, sekarang 42 ribu. Berarti apa? Tiap tahun ada penambahan orang masuk lapangan kerja kurang lebih 40 sampai 50 ribu,” ucapnya.
Sebagai langkah solutif, Pemkab Garut menggerakkan berbagai program penyerapan tenaga kerja secara masif, mulai dari program kewirausahaan Wirahebat, penguatan sektor pertanian, hingga rencana pembangunan pabrik bioetanol dalam waktu dekat. Di sisi lain, peluang kerja di kancah internasional juga terbuka lebar, khususnya di Jepang yang tengah mengalami penurunan populasi (negative growth population) dan peningkatan jumlah penduduk lansia.
“Itu kesempatan buat kita, nah akhirnya kita kirim kesana tentu saja ikut pelatihan dulu. Saya baca mereka ikut pelatihan bahasa Jepangnya,” kata Syakur.
Abdusy Syakur juga mendoakan agar para PMI dapat bekerja dengan baik, sehat, selamat, berkah, serta membawa kesejahteraan dan kebanggaan bagi keluarga di tanah air.
Sementara itu, salah satu perwakilan PMI asal Kecamatan Cikelet, Aisha, mengaku bersyukur dan antusias menyambut kesempatan emas ini. Sebelum diberangkatkan, ia dan rekan-rekannya telah menjalani persiapan matang berupa pelatihan bahasa, kebudayaan, serta keterampilan keperawatan selama berbulan-bulan.
“Pelatihannya dua bulan lebih, bulan Desember sudah kembali kesini. Untuk saya sekolah dulu baru kontrak kerja, di bidang perawatan lansia (Ditempatkan) Macam-macam sih, ada yang di rumah sakit, ada yang di panti jompo, ada yang di day care. Saya di Kota Higashikawa Hokaido Jepang,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa perjalanannya ke Jepang melibatkan kombinasi sekolah bahasa selama satu tahun, sekolah keahlian selama dua tahun, dan kontrak kerja 5 tahun dengan total durasi mencapai 8 tahun. Aisha berharap pengalaman dan ilmu yang didapatnya di Jepang kelak dapat bermanfaat bagi masyarakat luas sekembalinya ke tanah air.
Melalui pelepasan ini, Pemkab Garut berharap sinergi dengan berbagai kementerian dan pemangku kepentingan terus terjalin, guna membuka lebih banyak akses kerja global yang aman, legal, dan berkualitas bagi generasi muda Garut.
Rahman RSY









Komentar