KALBAR KUBU RAYA, Discoverynews.id ~ Hamparan terik matahari yang menyengat di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, kini diwarnai pemandangan kelam berupa barisan kendaraan yang membentang hingga berkilometer-kilometer di area stasiun pengisian bahan bakar.
Deretan motor, mobil pribadi, hingga sepeda motor tampak merayap sangat lambat demi mendapatkan beberapa liter bahan bakar minyak yang stoknya kian menipis di sejumlah SPBU.
Pemandangan mengularnya antrean BBM ini bukan sekadar persoalan keterlambatan pasokan harian biasa, melainkan cerminan nyata dari rapuhnya sistem distribusi energi yang mendadak melumpuhkan ritme mobilitas dan urat nadi perekonomian warga lokal.
Kondisi kritis yang kian memuncak ini menuntut kehadiran pemerintah daerah untuk pasang badan membela hak masyarakat yang kian terhimpit. Bupati Kubu Raya, Sujiwo, akhirnya melontarkan nada ketegasan Senin (12/10/2026) dengan mendesak Pertamina agar tidak menunda-nunda tindakan dan segera mengambil langkah konkret untuk mengurai kemacetan serta kelangkaan tersebut.
Menurut Sujiwo, pihak Pertamina seharusnya memiliki kendali penuh dan pemantauan sistemik berbasis data yang akurat terhadap ketersediaan stok BBM di setiap titik SPBU, sehingga langkah mitigasi penanganan krisis dapat diambil jauh sebelum antrean panjang mulai mengganggu ketertiban umum.
Desakan keras dari pimpinan daerah ini membawa beban emosional yang sangat mendalam karena masyarakat Kubu Raya saat ini tengah berada dalam pusaran ujian hidup yang begitu berat.
Sebelum krisis BBM ini meledak di jalanan, warga sudah terlebih dahulu harus mengurut dada menghadapi ancaman kesehatan akibat paparan kabut asap pekat dari kebakaran hutan dan lahan yang belum sepenuhnya tuntas.
Himpitan tersebut makin diperparah oleh melonjaknya harga bahan-bahan pokok di pasar, kelangkaan pasokan gas elpiji, hingga frekuensi pemadaman listrik yang sering terjadi dan merusak kelancaran aktivitas harian warga.
Meskipun beberapa persoalan mendasar seperti krisis air bersih telah berhasil ditangani oleh pemerintah daerah, bertambahnya beban antrean BBM yang mengular di jalanan seolah menjadi pukulan beruntun bagi ketahanan ekonomi rakyat bawah.
Sujiwo menegaskan bahwa kondisi ekonomi masyarakat yang sedang tertekan tidak boleh lagi ditambah dengan ketidakpastian energi yang menyita waktu dan tenaga mereka di jalanan.
Sangat ironis ketika rakyat kecil harus mengorbankan jam kerja produktif mereka hanya untuk berdiri berjam-jam dalam antrean demi mendapatkan hak paling dasar berupa bahan bakar.
Melalui penelusuran mendalam terhadap kondisi di lapangan, alasan teknis mengenai cuaca ekstrem atau perairan dangkal yang sebelumnya diklaim menyulitkan kapal tanker Pertamina untuk bersandar kini sudah tidak lagi relevan karena jalur pelayaran telah kembali normal.
Oleh sebab itu, kini bola sepenuhnya berada di tangan Pertamina untuk membuktikan komitmen pelayanan mereka dengan mempercepat penyaluran stok dan menormalisasi distribusi ke seluruh SPBU di Kubu Raya.
Masyarakat kini menanti bukti nyata, agar gemuruh kekecewaan warga tidak berubah menjadi gejolak sosial yang jauh lebih besar di tanah Kalimantan Barat. (R)










Komentar