PONTIANAK,Discoverynews.id ~ Ribuan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi kembali memadati halaman Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Kalimantan Barat pada Jumat, 23 Oktober 2026.
Aksi unjuk rasa yang memasuki hari keempat ini diwarnai ketegangan lantaran para demonstran terus mendesak agar pimpinan daerah hadir secara langsung untuk mendengarkan keluhan rakyat.
Di tengah kepungan massa dan pengawalan ketat aparat pengamanan, suasana yang semula riuh perlahan mencair ketika jajaran pejabat pemerintah setempat melangkah keluar dari gedung wakil rakyat.
Langkah berani akhirnya diambil oleh Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan, yang secara langsung turun ke lapangan untuk menemui barisan mahasiswa yang bertahan hingga siang hari.
Tanpa sekat protokoler, Ria Norsan mengambil keputusan tak biasa dengan langsung melepas alas kaki dan duduk bersila tepat di tengah-tengah kerumunan peserta aksi di atas aspal jalanan.
Sikap rendah hati sang gubernur ini mendadak menyedot perhatian publik serta mengubah ritme demonstrasi yang sebelumnya memanas menjadi ajang dialog terbuka.
Kehadiran gubernur di tengah orator demonstran menjadi panggung utama penyampaian aspirasi yang telah ditahan selama empat hari berturut-turut.
Para perwakilan mahasiswa secara bergantian menyampaikan tuntutan kritis terkait berbagai persoalan daerah dan kebijakan publik yang dinilai memberatkan masyarakat.
Mengenakan busana seragam khasnya, Ria Norsan tampak menyimak dengan cermat setiap poin tuntutan yang dilontarkan melalui pengeras suara, sembari mencatat isu-isu strategis yang menjadi keresahan bersama.
Kronologi pertemuan tersebut berlangsung penuh dinamika namun tetap terkendali hingga perwakilan massa selesai membacakan seluruh tuntutan resmi mereka.
Ria Norsan yang bertindak sebagai narasumber utama dalam momen tersebut menegaskan keterbukaannya untuk menerima kritik konstruktif serta berjanji akan mengawal aspirasi mahasiswa ke tingkat yang lebih tinggi.
Ia menyatakan bahwa pemerintah daerah tidak pernah menutup mata terhadap tuntutan rakyat dan mengapresiasi cara mahasiswa dalam menyuarakan hak-hak demokrasi secara tertib.
Momen duduk bersila antara Gubernur Kalimantan Barat dan para mahasiswa ini menandai titik balik penting dalam rangkaian aksi demonstrasi di DPRD Kalbar.
Pertemuan tatap muka tersebut berakhir dengan damai setelah komitmen bersama disepakati oleh kedua belah pihak untuk terus mengawal isu yang diperjuangkan. Setelah aspirasi diserahkan secara resmi, massa aksi perlahan membubarkan diri dengan tertib, meninggalkan pesan kuat tentang pentingnya dialog terbuka antara pemimpin dan rakyatnya. (R)










