SAMPANG, Discoverynews.id – Upaya mewujudkan budidaya tanaman sehat, ramah lingkungan, dan berkelanjutan terus digencarkan petani di Kabupaten Sampang. Namun, semangat swadaya tersebut tidak dibarengi kehadiran instansi teknis yang seharusnya menjadi garda terdepan.
Pantauan Media ini, dalam kegiatan tata cara menerapkan budidaya tanaman sehat, ramah lingkungan, dan berkelanjutan yang diinisiasi Paguyuban Kelompok Tani (Poktan) dan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Kecamatan Sampang bersama Forum Komunikasi Petamat Jawa Timur (FK Petamat Jatim), sangat disayangkan tidak dihadiri oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Disperta KP) Kabupaten Sampang maupun Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Wilayah Binaan Desa Baruh Kecamatan Sampang.
Kegiatan bertema “Siap Mendukung Program Pemerintah Bidang Ketahanan Pangan dan Pertanian Berkelanjutan” itu digelar di Sekretariat Gapoktan Trunojoyo, kediaman Ketua FK Petamat Jatim, Nidomudin, di Desa Baruh, Kecamatan Sampang, pada Minggu (1/11/2026).
Forum tersebut dihadiri perwakilan Poktan dan Gapoktan se-Kecamatan Sampang, Kepala Laboratorium Proteksi Tanaman Pangan Wilayah Kerja (Wilker) Madura, Machmud, S.P., Pengurus Asosiasi Bank Benih Tani Indonesia (AB2TI), Hosman, S.P., petani Pengendalian Hama Terpadu (PHT), Darmaji, serta para penggiat pertanian berkelanjutan.
Lahan Kritis Akibat Kecanduan Kimia
Kepala Laboratorium Proteksi Tanaman Pangan Wilker Madura, Machmud, S.P., mengungkapkan keprihatinannya atas kondisi lahan pertanian di Madura yang mengalami penurunan kesuburan akibat penggunaan pupuk dan pestisida kimia secara berlebihan.
“Kelemahan mendasar petani kita adalah biaya produksi tinggi, tetapi nilai jual hasil panen tidak sebanding. Ini karena ketergantungan pada pupuk subsidi dan kimia,” ujar Machmud.
Sebagai bentuk kepedulian nyata, pihaknya akan menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) se-Madura pada 25 November 2026 mendatang.
“Insyaallah kami akan mengundang sekitar 100 petani. Materinya fokus pada pertanian mandiri yang memanfaatkan sumber daya alam di sekitar, agar petani bisa menekan biaya olah lahan dengan pupuk organik dan tidak lagi bergantung pada pupuk kimia,” jelasnya.
Manfaatkan SDA Sekitar
Ketua FK Petamat Jatim, Nidomudin, menekankan bahwa kunci pertanian berkelanjutan terletak pada pemahaman kebutuhan tanaman dan pengolahan lahan yang memenuhi standar.
“Semua perlu proses bertahap. Pertama, bagaimana kita menyiasati kebutuhan tanaman itu sendiri. Lingkungan di sekitar kita sebenarnya kaya akan unsur yang dibutuhkan,” kata Nidomudin.
Ia mencontohkan, kebutuhan kalium pada tanaman dapat dipenuhi dengan memanfaatkan bahan alami seperti buah nanas dan air kelapa yang mudah didapatkan petani.
“Yang paling penting adalah memastikan lahan yang kita garap sudah memenuhi standar pertanian sehat. Jika sudah memenuhi, baru kita terapkan sistem pertanian yang sehat, ramah lingkungan, dan berkelanjutan,” tegasnya.
Kecewa PPL Absen Meski Sudah Diundang Resmi
Di sisi lain, Nidomudin secara terbuka mengungkapkan kekecewaannya atas ketidakhadiran PPL Kecamatan Sampang. Padahal, undangan resmi telah dilayangkan jauh hari.
“Jauh sebelumnya sudah saya kirim undangan resmi dari pihak kami terkait kegiatan pertanian berkelanjutan, lewat digital WA. Meski sudah terbaca, namun tidak ada jawaban dari pihak Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Wilayah Binaan Desa Baruh, Kecamatan Sampang,” ungkap Nidomudin saat dikonfirmasi Discoverynews.id dengan nada kecewa, pada Rabu (04/11/2026).
Menurut Nidomudin, PPL seharusnya menjadi garda terdepan dalam mendukung dan mentransformasi sektor pertanian menuju sistem yang sehat, ramah lingkungan, dan berkelanjutan. Ketidakhadiran tersebut menjadi preseden buruk bagi semangat petani yang ingin mandiri.
“PPL memang merupakan garda terdepan. Seharusnya mereka hadir untuk memberikan pendampingan, bukan justru meninggalkan petani berjuang sendiri,” pungkasnya.
Hingga berita ini ditayangkan, Discoverynews.id masih berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak Instansi terkait maupun PPL wilayah binaan Desa Baruh, Kecamatan Sampang terkait ketidakhadiran mereka dalam kegiatan tersebut.
Reporter: Bung Usman










