Garut Selatan discoverynews.id 08 April 2026 — Di balik rasa pedas cabai yang beredar saat ini, tersimpan satu legenda yang masih hidup dalam ingatan masyarakat: cabai rawit Bungbulang, atau yang lebih dikenal sebagai cabai huma. Sebutan ini bukan tanpa alasan. Cabai tersebut tumbuh di lahan huma—tanah kering tradisional—yang dikelola secara alami mengikuti pola tanam leluhur.
Cabai huma memiliki ciri khas yang sulit ditandingi. Ukurannya kecil, teksturnya padat dengan kulit sedikit kasar, namun menyimpan rasa pedas yang tajam dan gurih alami. Sensasinya bukan sekadar membakar lidah, tetapi meninggalkan cita rasa khas yang membuat siapa pun yang pernah mencicipinya akan selalu mengingatnya. Tak heran, para pecinta pedas mengaku rindu dengan cabai ini. Mereka menyebut, cabai sekarang memang pedas, tetapi kehilangan karakter rasa seperti cabai huma Bungbulang.

Namun, seiring perkembangan zaman, keberadaan cabai ini kini semakin jarang ditemukan. Banyak petani beralih ke varietas modern yang lebih cepat panen dan lebih menguntungkan secara ekonomi. Akibatnya, cabai huma perlahan tergeser dan bahkan disebut-sebut hampir punah.
Meski demikian, jejak cabai legendaris ini masih dapat ditemukan di beberapa wilayah Garut Selatan, seperti Bungbulang, Mekarmukti, Pakenjeng, hingga Cibalong dan sebagian pesisir selatan. Biasanya, cabai ini masih ditanam secara terbatas di lahan-lahan huma oleh petani yang tetap mempertahankan benih lokal dan cara bertani tradisional.
Kondisi ini justru membuka peluang besar. Cabai rawit Bungbulang bukan sekadar tanaman, tetapi juga warisan budaya sekaligus potensi ekonomi daerah yang belum tergarap maksimal. Dengan keunikan rasa dan nilai historisnya, cabai ini berpotensi menjadi produk unggulan khas Garut Selatan.
Pengembangannya dapat diarahkan pada beberapa langkah strategis, seperti pelestarian benih lokal agar tidak punah, pemberdayaan petani melalui kelompok tani, hingga penguatan branding sebagai “Legend Cabai Bungbulang”. Selain itu, konsep agrowisata berbasis pertanian tradisional juga dapat menjadi daya tarik baru, di mana masyarakat luar dapat mengenal langsung proses tanam cabai huma sekaligus menikmati kearifan lokal yang masih terjaga.
Lebih dari sekadar komoditas, cabai huma Bungbulang adalah simbol identitas dan sejarah masyarakat setempat. Ia menyimpan cerita tentang cara bertani, rasa, dan hubungan manusia dengan alam.
Kini, pilihan ada di tangan generasi hari ini: membiarkan cabai huma menjadi sekadar cerita masa lalu, atau menghidupkannya kembali sebagai kebanggaan dan kekuatan ekonomi daerah. Karena dari cabai kecil inilah, tersimpan potensi besar untuk masa depan Bungbulang.
Red












