Anggaran MBG Fantastis, Publik Bertanya Prioritasnya ke Mana


JABAR discoverynews.id 17 april 2026 Ada yang ganjil di negeri yang gemar membuat program raksasa. Saat anak-anak dibayangkan duduk rapi menyantap makan bergizi, angka-angka di belakang panggung justru menari liar seperti pesta para pejabat di ruang berpendingin udara.

Badan Gizi Nasional tahun 2025 mencatat belanja yang membuat dahi berkerut: kendaraan roda dua dan roda empat Rp1,38 triliun, pembangunan SPPG Rp936,7 miliar, elektronik Rp826,4 miliar, pakaian dan aksesoris Rp623 miliar, pelatihan serta sosialisasi Rp225,8 miliar, dan jasa event organizer Rp112,8 miliar. Totalnya Rp4,1047 triliun.

dikutip bbc news

Angka sebesar itu bisa membuat kalkulator batuk darah.

Di desa-desa, anak-anak masih mencari buku yang sampulnya belum robek. Sebagian belajar di ruangan sempit, sebagian mengenal internet dari layar retak milik tetangga, sebagian lain tumbuh tanpa pernah melihat perpustakaan yang layak. Namun di pusat kekuasaan, mesin anggaran terus bekerja dengan tenang, membeli motor, laptop, seragam, TV LED, dan segala pernak-pernik birokrasi yang selalu dianggap penting setiap kali uang rakyat dibuka.
Mari bermain dengan angka.

Jika Rp4,1047 triliun itu dibagi ke sekitar 75.265 desa di Indonesia, maka tiap desa mendapat sekitar Rp54,5 juta. Uang sebanyak itu cukup untuk membangun ruang baca sederhana, membeli rak buku, mengisi ratusan judul bacaan, menghadirkan komputer, memasang internet, dan memberi anak-anak tempat berkenalan dengan dunia yang lebih luas daripada sawah dan jalan rusak di depan rumah mereka.

Itu terlalu besar kita menghitung anggaran aksesoris dan pakaian saja ,Kategori pakaian dan aksesoris pada data tersebut bernilai Rp623 miliar.
Jika dana itu dialihkan untuk dibagikan ke seluruh desa di Indonesia (sekitar 75.265 desa), maka perhitungannya:
Rp623.000.000.000 ÷ 75.265 = sekitar Rp8,27 juta per desa
Artinya:
Jika khusus anggaran pakaian dan aksesoris saja dialihkan, maka setiap desa bisa mendapat sekitar Rp8,2 juta untuk perpustakaan

Bayangkan satu desa, satu perpustakaan. Tempat anak-anak datang sore hari, membuka atlas, membaca sejarah, belajar mengetik, menonton ilmu pengetahuan, bermimpi menjadi dokter, jurnalis, insinyur, atau penulis yang kelak mengutuk kebodohan yang diwariskan negara.

Tapi mimpi seperti itu sering kalah oleh daftar belanja yang disusun rapi dalam map tebal. Rak buku tidak punya lobi. Buku tidak punya sirene. Perpustakaan tidak bisa dikawal ajudan.

Lalu publik bertanya dengan nada getir: apa hubungan sepatu dinas, kendaraan, TV LED, dan event organizer dengan gizi anak-anak? Apakah nasi menjadi lebih bergizi jika datang dengan motor baru? Apakah lauk terasa lebih sehat jika dibahas dalam seminar hotel? Apakah perut kenyang karena seragam yang licin disetrika?
Inilah penyakit lama republik: terlalu pandai membiayai kulit, terlalu malas mengurus isi.

Program makan bergizi memang penting, tetapi bangsa tidak dibangun hanya dengan perut kenyang. Bangsa dibangun ketika anak desa punya tempat membaca, ketika pengetahuan hadir di gang-gang sempit, ketika anggaran berhenti menjadi pesta barang dan mulai berubah menjadi masa depan. Karena negeri ini tidak kekurangan uang.

Negeri ini hanya terlalu sering salah jatuh cinta pada cara membelanjakannya.

RED


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *