Karanganyar discoverynews.id — Di tengah rimbunnya kawasan Taman Hutan Rakyat KGPAA Mangkunagoro I, agenda “Family Gathering dan Halal Bihalal” yang diselenggarakan Lembaga Bantuan Hukum Rumah Pejuang Keadilan Indonesia (LBH RUPADI) pada Sabu dan Minggu (18–19 April 2026) tidak hanya menjadi ruang rekreasi, tetapi juga forum refleksi organisasi yang mendalam.
Sebanyak 31 peserta hadir, terdiri dari unsur pimpinan pusat, perangkat organisasi, anggota, peserta magang, serta keluarga. Kehadiran mereka mencerminkan spektrum lengkap struktur organisasi LBH RUPADI yang selama ini menopang kerja-kerja advokasi dan pendampingan hukum.

Dalam kegiatan tersebut, hadir Direktur Dewan Pendiri Nasional (DPN) LBH RUPADI, Dr. (Hc). Joko Susanto, didampingi Sekretaris Dewan Pendiri Nasional (DPN) LBH RUPADI, Okky Andaniswari. Dari jajaran eksekutif pusat, turut hadir Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) LBH RUPADI, Sunardi, serta Bendahara Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) LBH RUPADI, Tulus Wardoyo.

Dari unsur Alat Perangkat Perkumpulan (APP), hadir Ketua Umum Badan Negosiator Hukum (BAHU) LBH RUPADI, Sumanto S. Tirtowijoyo, Ketua Umum Badan Paralegal Indonesia (BARA) LBH RUPADI, Muhammad Alfin Aufillah Zen, serta Sekretaris Jenderal Kantor Hukum Rumah Pencari Keadilan (ORMahen) LBH RUPADI, Muh. Yudi Rizqi Imanuddin. Turut pula hadir Anggota Balai Mediasi Hukum (BADIKUM) LBH RUPADI, Eri Hardoko.
Dari wilayah, hadir Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) LBH RUPADI Provinsi Jawa Tengah, Muhammad Nastain, sedangkan daerah ada Nirwan Kusuma dan Mardha Ferry Yanwar. Sementara itu, kegiatan ini dipimpin oleh Ketua Panitia Family Gathering dan Halal Bihalal LBH RUPADI, Rahdyan Trijoko Pamungkas.
Meski demikian, sejumlah pengurus turut memberikan dukungan moral namun berhalangan hadir, di antaranya Ong Budiono, Bahrul Fawaid, Rinanda Asrian Ilmanta, Sudibyo, Darma Wijaya Maulana, Wildan Prasetyo Usman, Kristi Pratama, dan Eka Windhiarto.
Rangkaian kegiatan meliputi malam keakraban, permainan interaktif, diskusi dan sharing session, wisata kuliner bersama, hingga halal bihalal. Namun lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang konsolidasi yang berlangsung secara informal.
Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) LBH RUPADI, Sunardi, dalam refleksinya menyampaikan bahwa tantangan organisasi saat ini bukan lagi pada pembentukan struktur, melainkan menjaga keterlibatan anggota.
“Kita sedang menghadapi realitas baru. Banyak rekan-rekan yang kini aktif di berbagai kantor dan lembaga lain. Ini bukan masalah, tapi harus kita kelola agar mereka tetap terhubung dengan rumah perjuangan ini,” ujar Sunardi.
Ia menegaskan secara tidak langsung bahwa kegiatan seperti ini menjadi salah satu cara untuk merawat ikatan emosional yang tidak bisa dibangun hanya melalui forum formal.
Ketua Panitia Family Gathering dan Halal Bihalal LBH RUPADI, Rahdyan Trijoko Pamungkas, menilai bahwa pendekatan kekeluargaan menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan organisasi.
“Kami ingin menghadirkan suasana yang cair, di mana semua bisa berinteraksi tanpa sekat jabatan. Justru di situ komunikasi yang selama ini terhambat bisa kembali terbuka,” jelasnya.
Menurutnya, pelibatan keluarga juga menjadi strategi penting agar organisasi tidak terpisah dari kehidupan pribadi para anggota.
Sementara itu, Ketua Umum DPW LBH RUPADI Provinsi Jawa Tengah, Muhammad Nastain, memberikan pandangan yang lebih kritis terhadap dinamika internal organisasi.
“Kita harus mengakui bahwa tingkat partisipasi mengalami perubahan. Ini bukan soal loyalitas, tapi soal perubahan situasi hidup. Organisasi harus mampu beradaptasi dengan itu,” kata Nastain.
Ia menambahkan secara tidak langsung bahwa pola keterlibatan anggota perlu didesain ulang agar lebih fleksibel tanpa mengurangi semangat perjuangan.
Kegiatan ditutup dengan halal bihalal yang berlangsung khidmat namun hangat. Momentum ini dimanfaatkan seluruh peserta untuk saling memaafkan dan mempererat hubungan yang mungkin sempat renggang.
Lebih dari sekadar tradisi, halal bihalal dalam konteks ini menjadi simbol rekonsolidasi internal—menguatkan kembali rasa memiliki terhadap organisasi.
Kegiatan ini menegaskan bahwa LBH RUPADI tengah memasuki fase penting: menjaga keberlanjutan organisasi di tengah perubahan zaman. Tantangan tidak lagi bersifat struktural, melainkan kultural—bagaimana mempertahankan keterikatan dalam kondisi yang semakin dinamis.
“Dari Karanganyar, pesan yang bisa dipetik adalah organisasi tidak cukup hanya berjalan, tetapi harus terus dirawat. Dan dalam perawatan itu, kebersamaan menjadi fondasi utama yang tidak tergantikan,”sebut Nastain.
Yanuar












