Dari 1960-an ke Era Digital: Soe Hok Gie dan Kritik Abadi terhadap Kekuasaan


Soe Hok Gie lahir pada 17 Desember 1942, di masa pendudukan Jepang di Indonesia (1942–1945). Ia tumbuh di era yang penuh perubahan besar: dari jatuhnya kolonialisme, menuju lahirnya Republik Indonesia pada 1945, lalu memasuki masa pergolakan politik yang panjang di era 1950-an hingga 1960-an.

Pada tahun 1960-an, Indonesia berada dalam situasi politik yang sangat panas pertarungan ideologi, ketegangan kekuasaan, dan ketidakpastian arah negara. Di masa inilah Gie berkembang sebagai mahasiswa Universitas Indonesia, sekaligus pengamat sosial yang tajam. Ia aktif menulis catatan harian yang kemudian menjadi refleksi penting tentang kondisi bangsa.

Gie hidup di era yang berakhir tragis: tahun 1965 terjadi peristiwa besar yang mengguncang politik Indonesia, dan setelah itu negara memasuki masa transisi kekuasaan menuju Orde Baru (1966). Di tengah situasi itu, Gie tetap kritis, tidak mudah tunduk pada kekuasaan mana pun.

Ia meninggal pada 16 Desember 1969 di Gunung Semeru, sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27. Kematiannya seolah menutup hidup singkat seorang pemikir muda yang tidak pernah berhenti gelisah terhadap bangsanya.
Jika semangat Soe Hok Gie dibawa ke zaman sekarang, maka narasi kritiknya akan terasa seperti ini:

Negara hari ini berdiri jauh setelah tahun 1960-an, di era digital, di mana informasi bergerak lebih cepat daripada pemahaman. Namun, pola kekuasaan dan tantangan sosialnya masih menyisakan gema masa lalu: antara janji dan kenyataan, antara pusat kekuasaan dan kehidupan rakyat di bawahnya.

Pemerintah modern sering tampil dengan narasi kemajuan pembangunan infrastruktur besar-besaran, pertumbuhan ekonomi, dan digitalisasi layanan publik. Di atas kertas, semua terlihat progresif. Namun kritik ala Gie akan tetap menyoroti satu hal yang sama seperti dulu: apakah kemajuan itu benar-benar sampai ke rakyat yang paling bawah?

Di banyak periode setelah reformasi 1998 hingga hari ini, politik Indonesia terus bergerak antara harapan perubahan dan realitas yang tidak selalu sejalan. Kebijakan sering diumumkan dengan bahasa optimisme, tetapi pelaksanaannya tidak selalu merata. Di sinilah jarak antara negara dan rakyat sering terasa.

Gie mungkin akan melihat bahwa meskipun zaman sudah berubah dari 1960-an ke 2020-an, pertanyaan dasarnya tetap sama: siapa yang benar-benar diuntungkan oleh kekuasaan?
Pada era digital sekarang, kritik tidak lagi hanya ditulis di buku harian seperti tahun 1960-an, tetapi menyebar di media sosial dalam hitungan detik.

Namun, kebisingan informasi juga menciptakan masalah baru: kebenaran sering tenggelam di antara opini, dan refleksi mendalam kalah oleh reaksi cepat.

Dalam konteks itu, semangat Gie tetap relevan bukan hanya sebagai penentang kekuasaan, tetapi sebagai pengingat bahwa berpikir jernih jauh lebih sulit daripada sekadar berbicara keras.

Dari 1942 hingga 1969, hidup Gie singkat, tetapi kegelisahannya melintasi zaman. Dan jika dibawa ke hari ini, kritiknya tetap akan sederhana tapi tajam: kekuasaan harus terus diuji oleh kenyataan, bukan hanya oleh narasi yang indah.

Jihad abd mujahid


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *