Sumber: Discoverynews| Lokasi: Bathin Solapan Waktu: 6-10 Juli 2026 BATIN SOLAPAN – SMKN 3 Mandau secara resmi melaksanakan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah untuk Tahun Pelajaran 2026/2027, yang berlangsung sejak tanggal 6 hingga 10 Juli 2026. Kegiatan ini menyambut sebanyak 432 siswa baru yang berasal dari 10 konsentrasi keahlian berbeda.
Pembukaan dilakukan secara resmi dalam upacara di lapangan SMKN 3 Mandau, Desa Sebangar, Kecamatan Bathin Solapan, Kabupaten Bengkalis. Pelaksanaan ini mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 12 Tahun 2026, dengan konsep MPLS yang edukatif, inklusif, bebas perpeloncoan serta kekerasan, dan berfokus pada pembentukan karakter siswa.
Sepuluh jurusan yang diwakili siswa baru tahun ini meliputi: Teknik Perminyakan, Teknik Geomatika, Geologi Pertambangan, Teknik Kimia Industri, Teknik Pemesinan, Teknik Alat Berat, Teknik Sepeda Motor, Teknik Kendaraan Ringan, Agribisnis Pengolahan Hasil Pertanian, serta Desain Komunikasi Visual.
Kepala SMKN 3 Mandau, Agus Subagiyo, ST, M.Si, menjelaskan bahwa MPLS bukan sekadar seremonial penyambutan. “Ini adalah momen penting membangun karakter, kedisiplinan, dan budaya positif sesuai motto sekolah: ‘Prestasi Hebat, Disiplin Taat’. Selamat datang seluruh siswa baru, jadikan ini langkah awal menjadi lulusan vokasi yang kompeten dan berkarakter,” ujarnya.
Selama lima hari kegiatan, siswa mendapatkan materi dari narasumber internal dan eksternal, melibatkan mitra strategis seperti TNI AD, Komite Sekolah, pihak industri, KUA Bathin Solapan, Komnas Perlindungan Anak Kabupaten Bengkalis, Satlantas Polres Bengkalis, Tim Safety Riding, Puskesmas Sebangar, serta alumni. Kegiatan dikemas interaktif lewat diskusi, permainan edukatif, tur lingkungan sekolah, dan aktivitas kebersamaan.
Sementara itu, Ketua Komite Sekolah Nasip berharap kegiatan ini bisa membangun semangat belajar dan menanamkan kedisiplinan sejak dini bagi seluruh siswa baru.
Namun di sisi lain, kekhawatiran muncul dari kalangan orang tua siswa. Salah satu orang tua yang ditemui menyampaikan keresahannya terkait materi latihan yang dinilai mirip latihan militer. “Tidak semua anak memiliki kondisi fisik yang prima. Kami khawatir jika latihan terlalu berat, banyak siswa yang tumbang bahkan harus dirawat di rumah sakit,” ungkapnya.
Orang tua tersebut juga menilai pelaksanaan MPLS saat ini membebani biaya yang harus dikeluarkan, sehingga meminta kegiatan ini dievaluasi secara menyeluruh atau bahkan dihapuskan secara permanen guna mencegah risiko keselamatan siswa di masa mendatang.
Sampai berita ini diturunkan, pihak sekolah belum memberikan tanggapan resmi terkait keresahan yang disampaikan oleh orang tua murid tersebut.
(Lina Mukerji)













Komentar