oleh

Merajut Asa dari Catatan Sederhana untuk Pelaku UMKM yang Lebih Sejahtera

Sejumlah pelaku UMKM berjualan di sepanjang trotoar Jalan RTM, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, 10 Juli 2026 Fotografer: Fandi Ahmad Syah
Pelaku UMKM berjualan di sepanjang trotoar Jalan RTM, 10 Juli 2026 Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, fotografer Fandi Ahmad Syah

Bisa menghitung berapa keuntungan yang diperoleh hari ini saja sudah menjadi keistimewaan bagi sebagian pedagang kecil.

Tidak bisa membedakan uang untuk keperluan pribadi dengan uang usaha menjadi masalah klasik pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Dengan pelatihan dan pendampingan pengelolaan keuangan, usaha mereka bisa berkembang dan hidup menjadi lebih sejahtera.

Ketika ditemui wartawan pada 1 Juli 2026 di kawasan Jalan RTM, Kelapa Dua, Depok, Bambang tengah duduk di sebelah gerobak siomai miliknya.

Setiap sore menjelang magrib, sebelum pulang ke rumah, Bambang selalu melakukan satu kebiasaan yang tak pernah berubah.

Di samping gerobak siomai yang mulai sepi, Bambang (62) mengeluarkan dompet coklatnya.

Dompet yang sudah usang dan mengelupas itu menjadi tempat ia menyimpan hasil kerja keras sejak pagi.

Satu lembar. Dua lembar. Lalu ia berhenti sejenak. Bambang bukan kehabisan uang.

Ia justru bingung. Dari semua uang yang ada di tangannya, mana yang benar-benar menjadi miliknya dan mana yang harus diputar kembali menjadi modal usaha.

Ikan, tepung, bumbu, dan gas harus tersedia agar ia bisa kembali berjualan esok pagi. Pada saat yang sama, sebagian uang itu harus dibawa pulang untuk membeli beras dan memenuhi kebutuhan keluarga

Bambang (62), penjual siomai keliling, melayani pesanan di kawasan Jalan RTM, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, 1 Juli 2026. Fotografer: Fandi Ahmad Syah.
Bambang (62), penjual siomai keliling, melayani pesanan di kawasan Jalan RTM, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, 1 Juli 2026 Fotografer: Fandi Ahmad Syah.

Di antara modal usaha dan kebutuhan rumah tangga, uang Bambang berpindah tangan tanpa pernah sempat diberi nama.

Pendapatan, modal, pengeluaran, dan keuntungan bercampur di dalam dompet coklat yang sama.

Ketika wartawan bertanya, “Pak, hari ini untungnya berapa?” Bambang menundukkan kepala. Beberapa detik berlalu tanpa jawaban.

“Saya enggak tahu, untung berapa ya hari ini?” ujarnya pelan.

Berapa harga dari kerja keras jika seseorang tak pernah tahu hasil sebenarnya?

Masalah Bambang bukan sekadar mencatat uang. Selama puluhan tahun berdagang,

Ia bekerja keras, tetapi tak pernah benar-benar tahu apakah usahanya menghasilkan laba atau sekadar membuatnya bertahan.

Jawaban itu bukan karena Bambang tidak bekerja keras. Justru sebaliknya, ia bekerja terlalu keras untuk sempat berhenti menghitung.

Pagi hingga petang, di usianya yang tak lagi muda, Bambang mendorong gerobak siomai dari sekitar Kampus Gunadarma Depok ke sudut-sudut Jalan RTM, Depok.

Gerobaknya penuh dengan barang dagangan. Saat kampus ramai, Bambang bisa memperoleh omzet sekitar Rp350 ribu.

Ketika kampus sepi, pendapatannya biasanya sekitar Rp200 ribu. Ia menukar tenaga dengan rupiah, lalu sebagian pendapatannya kembali digunakan untuk membeli bahan baku dan memenuhi kebutuhan keluarga.

Bambang tinggal di sebuah kontrakan sederhana di ujung gang sempit kawasan Perumahan Pelni, Depok.

Ia tinggal sendirian, sementara keluarganya berada di kampung di wilayah perbatasan Tambun dan Bekasi.

Di ruang kontrakan yang sederhana itu, tidak ada televisi. Bukan karena Bambang tidak menginginkannya,

melainkan karena uang yang mungkin digunakan untuk hiburan selalu memiliki tujuan yang lebih mendesak, Membeli bahan baku dagangan agar esok pagi ia masih bisa kembali bekerja.

Bagi sebagian orang, pilihan semacam itu mungkin terlihat sederhana. bagi Bambang, itulah cara bertahan hidup.

Keinginan Bambang juga sederhana. ia ingin memberikan yang terbaik bagi keluarganya agar anak dan cucunya

kelak memperoleh pendidikan yang layak. Ia berharap dagangan siomai itu dapat membawanya ke sana.

Namun, ketika seluruh pendapatan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hari ini,

kapan sebuah usaha bisa tumbuh? kapan seorang pedagang bisa memiliki tabungan?

kapan ia dapat memisahkan uang usaha dari uang rumah tangga? dan bagaimana ia bisa mengetahui apakah selama ini usahanya benar-benar menguntungkan?

Bukan tentang Bambang yang tidak bisa mencatat uang. Ini tentang seorang pedagang yang telah bekerja keras selama puluhan tahun,

tetapi tidak memiliki ukuran untuk mengetahui apakah kerja kerasnya benar-benar membuat hidupnya lebih baik.

Pertanyaan-pertanyaan itu membawa kita keluar dari satu gerobak siomai dan masuk ke persoalan yang lebih besar.

Head SME Maybank Indonesia, David Wongso, mengatakan akses pembiayaan bagi UMKM saat ini sebenarnya semakin terbuka.

“Tantangan terbesar UMKM adalah kesiapan pelaku usaha untuk menjadi bankable, Membangun kebiasaan mencatat transaksi dan memisahkan keuangan usaha”

Menurut David,  tantangan utama UMKM adalah pengelolaan arus kas yang belum optimal, serta masih bercampurnya keuangan pribadi dan usaha.

Karena itu, selain menyediakan pembiayaan, Maybank juga mendorong penguatan UMKM melalui edukasi dan pendampingan.

Pembinaan Manajemen Keuangan

Bambang adalah satu dari banyak pelaku UMKM yang menghadapi persoalan serupa.

Mereka setiap hari berdagang, memproduksi barang, melayani pelanggan, dan menciptakan penghasilan.

Namun, sebagian masih menjalankan usaha tanpa pencatatan sederhana. Temuan itu sejalan dengan kajian Bank Indonesia

yang menunjukkan masih banyak pelaku UMKM belum memiliki kebiasaan melakukan pencatatan keuangan secara formal.

Kondisi tersebut membuat pelaku usaha kesulitan mengukur kinerja usahanya sekaligus menghambat kesiapan mereka mengakses pembiayaan formal.

Tabel Bank Indonesia
Tabel Bank Indonesia

Hasil kajian Bank Indonesia, inovasi Model Bisnis Pembiayaan digital bagi UMKM:

Kajian terhadap 304 UMKM yang tersebar di hampir seluruh provinsi di Indonesia menunjukkan bahwa 59,21 persen responden

masih menggabungkan rekening pribadi dan rekening usaha, sementara 58,22 persen belum melakukan pencatatan keuangan secara formal.

Sebagian kecil responden telah melakukan pencatatan menggunakan aplikasi, antara lain Buku Warung, Google Sheets, dan SIAPIK.

Angka tersebut menunjukkan bahwa bagi sebagian pelaku UMKM, mencatat uang masuk dan keluar belum menjadi kebiasaan.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi banyak UMKM bukan semata-mata keterbatasan modal, melainkan lemahnya manajemen keuangan usaha.

Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK, Friderica Widyasari Dewi, menegaskan

“Literasi Keuangan merupakan pondasi agar masyarakat, termasuk pelaku UMKM, mampu mengambil keputusan keuangan yang lebih baik dan memanfaatkan layanan keuangan secara optimal.”

Menurut OJK, penguatan literasi keuangan menjadi dasar berbagai program edukasi untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengelola keuangan secara sehat.

Untuk pedagang kecil kemampuan menghitung laba saja sudah menjadi pencapaian penting.

Karena itu, pembelajaran manajemen keuangan tidak selalu harus dimulai dari angka-angka rumit atau istilah akuntansi.

Ia dapat dimulai dari pertanyaan sederhana ke mana uang hasil jualan mengalir setiap hari? Omzet dianggap sebagai keuntungan.

Persoalannya bukan sekadar bagaimana menjelaskan angka, tetapi bagaimana mengubah kebiasaan yang telah berlangsung bertahun-tahun.

kemana uang hasil kerja kerasnya pergi. Semua uang itu hanya terlihat sebagai satu jumlah yang sama.

Bambang mungkin belum pernah mengikuti pendampingan semacam itu. Tetapi persoalan yang ia hadapi menunjukkan mengapa kemampuan tersebut dibutuhkan.

Pengalaman peserta pendampingan UMKM seperti Nashriyah memperlihatkan

bahwa kebiasaan mengelola keuangan dapat berubah ketika pelaku usaha memperoleh pengetahuan dan pendampingan yang tepat.

Dari Catatan Sederhana hingga Aset Jualan Berharga

Menyadari pentingnya hal itu bagi UMKM, Maybank Indonesia memberikan pelatihan dan pendampingan kepada pelaku usaha di Tanah Air.

Maria Trifanny Fransiska, Head of Sustainability Maybank Indonesia, menilai

upaya memperluas pendampingan pengelolaan keuangan membutuhkan proses yang berkelanjutan.

Menurut Maria, keberlanjutan bukan sekadar memenuhi kewajiban pelaporan,

melainkan memastikan setiap aktivitas usaha mampu menciptakan dampak sosial dan ekonomi yang terus berjalan.

“Program ini berfokus pada pelaksanaan inisiatif sosial yang memberdayakan perempuan di Indonesia. Kita mempelajari literasi keuangan serta strategi cerdas untuk membangun pondasi bisnis yang kuat,” ujar Maria Trifanny Fransiska.

Maria Trifanny Head Sustainability Maybank Indonesia kontributor foto (Indonesian Institute Journalism)
Maria Trifanny Head Sustainability Maybank Indonesia kontributor foto (Indonesian Institute Journalism)

Gagasan tersebut diterapkan melalui program HERPower, yang dijalankan Maybank Indonesia bersama YCAB Foundation

pada Februari–Juni 2025 dan melibatkan 1.087 perempuan pelaku usaha ultra mikro dan UMKM.

Pendampingan dimulai dari hal-hal mendasar, memahami arus keluar-masuk uang usaha,

membedakan omzet dengan keuntungan, menyusun anggaran sederhana,

membangun kebiasaan menabung, serta memisahkan keuangan usaha dari keuangan keluarga.

Setelah memahami dasar pengelolaan keuangan, peserta belajar pembukuan sederhana.

Materi kemudian berlanjut pada pengembangan usaha, pemilihan platform online,

produksi konten, pengenalan karakter konsumen, penentuan segmen pasar, dan strategi pemasaran. Maria mengatakan

“Pendampingan bertujuan membentuk kebiasaan baru agar usaha dapat berkembang secara berkelanjutan.”

Perubahan itu terlihat dari pengalaman Nashriyah (31), pemilik warung sembako dan minuman sekaligus salah satu peserta HERPower.

Sebelum mengikuti pendampingan, ia mengaku tidak pernah benar-benar memisahkan uang hasil jualan dengan kebutuhan rumah tangga.

Setiap hari uang dari warung masuk, lalu digunakan untuk berbagai keperluan.

Sebagian untuk membeli kembali barang dagangan, sebagian untuk kebutuhan rumah tangga.

Di akhir hari, ia hanya melihat sisa uang yang ada tanpa tahu secara pasti berapa modal yang masih berputar dan berapa keuntungan yang diperoleh.

Program Herpower Maybank Indonesia YCAB foundation sumber foto (YCAB foundation)
Program HERPower Maybank Indonesia YCAB Foundation sumber foto (YCAB Foundation)

Melalui pendampingan, Nashriyah mulai mencatat transaksi harian, memisahkan modal usaha dari uang rumah tangga,

menghitung laba secara rutin, serta menyisihkan sebagian keuntungan untuk tabungan usaha.

Perubahan itu membuatnya melihat warung bukan lagi sekadar tempat berjualan untuk mendapatkan uang setiap hari.

Warung tersebut mulai ia pandang sebagai aset yang harus dikelola. Bagi Nashriyah, mencatat pemasukan dan pengeluaran bukan sekadar pekerjaan administratif.

Catatan sederhana membuat Nashriyah melihat warungnya sebagai usaha yang perlu dikelola.

Pelatihan tidak hanya memberinya pengetahuan tentang pengelolaan keuangan,

tetapi juga mendorong perubahan dalam kebiasaan sehari-hari. Warung yang sebelumnya dijalankan dengan uang yang bercampur mulai dikelola dengan pencatatan yang lebih teratur.

Lucia Ari Diyani
Dosen Akuntansi, Universitas Bina Insani. Penelitiannya menyimpulkan

“Permasalahan yang dihadapi penggiat UMKM di antaranya adalah kesulitan melakukan pengelolaan keuangan dengan tertib dan benar. Melalui pelatihan dan pendampingan, peserta mampu memisahkan keuangan keluarga dengan keuangan usaha, mengetahui jumlah laba usaha, melakukan analisis kelayakan pengembangan usaha, serta memantau perkembangan usahanya.”

Dukungan Permodalan

Pengalaman Nashriyah menunjukkan bahwa pengetahuan tentang keuangan dapat mengubah cara pelaku usaha memandang bisnisnya.

Namun, kemampuan mengelola uang juga perlu berjalan bersama akses terhadap permodalan dan pasar.

UMKM memiliki peran besar dalam perekonomian Indonesia. pembiayaan kepada UMKM juga terus tersedia.

Tetapi, tambahan modal tidak otomatis membuat usaha berkembang apabila pelaku usaha tidak mampu mengetahui berapa modal, biaya, omzet, dan keuntungan yang sebenarnya.

Dengan demikian, manajemen keuangan menjadi pondasi agar pembiayaan dapat digunakan secara lebih efektif.

Tabel Grafik Bank Indonesia OJK dan     
Maybank Indonesia
Tabel Grafik Bank Indonesia OJK Maybank Indonesia
Tabel Grafik Bank Indonesia OJK
Maybank Indonesia

UMKM telah lama menjadi penopang utama perekonomian Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM,

sektor ini berkontribusi sekitar 60,5 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dan menyerap 96,9 persen tenaga kerja.

Namun, di balik peran besar tersebut, akses terhadap pembiayaan formal masih belum merata.

Data Otoritas Jasa Keuangan hingga akhir 2025 menunjukkan pembiayaan kepada UMKM

mencapai sekitar Rp1.809 triliun, atau 18,42 persen dari total pembiayaan sektor jasa keuangan.

Angka itu menunjukkan peluang memperluas pembiayaan bagi UMKM masih terbuka.

Tetapi, pekerjaan rumah yang lebih besar adalah memastikan pembiayaan benar-benar membantu UMKM berkembang.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, mengatakan persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan hanya dengan memperluas akses pembiayaan.

Modal memang penting, tetapi modal tidak otomatis membuat usaha naik kelas apabila tidak disertai kemampuan mengelola keuangan, memanfaatkan teknologi, memperluas pasar, dan meningkatkan kapasitas pelaku usaha.

Menurut Bhima, yang dibutuhkan adalah ekosistem yang saling menguatkan.

Pembiayaan harus berjalan berdampingan dengan kemampuan mengelola keuangan, digitalisasi, akses pasar, dan pendampingan usaha yang berkelanjutan.

“Kalau semua dapat bergerak melalui aturan main yang jelas dan bersama-sama ingin menciptakan ekosistem yang sehat bagi pertumbuhan UMKM, niscaya kontribusi UMKM terhadap perekonomian nasional akan semakin signifikan,” ujar Bhima.

Di titik inilah pendampingan menemukan makna strategisnya. ia bukan lagi pelengkap program pemberdayaan,

melainkan investasi jangka panjang untuk membangun UMKM yang lebih tangguh, produktif, dan berdaya saing.

Sebab, usaha yang benar-benar naik kelas tidak hanya lahir dari tambahan modal, tetapi juga dari bertambahnya pengetahuan, berubahnya cara mengelola usaha, dan tumbuhnya kepercayaan diri untuk berkembang.

Di tengah ketidakpastian ekonomi, keberlanjutan UMKM tidak lagi hanya ditentukan oleh kemudahan memperoleh modal,

tetapi juga oleh kemampuan pelaku usaha mengelola bisnisnya secara sehat. Karena itu, literasi keuangan, pendampingan, dan akses terhadap jejaring usaha menjadi pondasi penting agar UMKM mampu naik kelas dan bertahan menghadapi perubahan.

Melalui program Maybank HERpower, Maybank Indonesia berupaya menjawab kebutuhan tersebut

dengan menghadirkan ekosistem yang tidak hanya menyediakan akses pembiayaan, tetapi juga edukasi, pendampingan, serta penguatan kapasitas bagi perempuan pelaku UMKM.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa pemberdayaan ekonomi tidak cukup dilakukan dengan menyalurkan modal,

melainkan juga membangun kompetensi agar pelaku usaha semakin siap, tangguh, dan bankable.

Ketika semakin banyak UMKM memiliki kemampuan mengelola keuangan, menyusun strategi usaha,

dan mengakses pembiayaan formal, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha itu sendiri.

UMKM yang lebih produktif akan memperkuat daya saing nasional, menciptakan lapangan kerja,

dan menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Sore itu Bambang kembali menutup dompet coklatnya. Esok pagi ia akan kembali mendorong gerobak siomainya seperti biasa.

Di dalam dompet itu, modal usaha, kebutuhan keluarga, dan harapan masih bercampur menjadi satu.

Barangkali, suatu hari nanti, ketika setiap rupiah mulai memiliki nama, yang bertambah bukan hanya keuntungan usahanya,

tetapi juga keyakinan bahwa kerja kerasnya mampu membawa kehidupan yang lebih baik bagi keluarganya.

Hingga saat itu tiba, harapan tersebut masih menunggu untuk dituliskan—bermula dari satu catatan sederhana.

Komentar