
Bisa menghitung berapa keuntungan yang diperoleh hari ini saja sudah menjadi keistimewaan bagi sebagian pedagang kecil.
Tidak bisa membedakan uang untuk keperluan pribadi dengan uang usaha menjadi masalah klasik pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Dengan pelatihan dan pendampingan pengelolaan keuangan, usaha mereka bisa berkembang dan hidup menjadi lebih sejahtera.
Ketika ditemui wartawan pada 1 Juli 2026 di kawasan Jalan RTM, Kelapa Dua, Depok, Bambang tengah duduk di sebelah gerobak siomai miliknya.
Setiap sore menjelang magrib, sebelum pulang ke rumah, Bambang selalu melakukan satu kebiasaan yang tak pernah berubah.
Di samping gerobak siomai yang mulai sepi, Bambang (62) mengeluarkan dompet coklatnya.
Dompet yang sudah usang dan mengelupas itu menjadi tempat ia menyimpan hasil kerja keras sejak pagi. Satu lembar. Dua lembar. Lalu ia berhenti sejenak.
Bambang bukan kehabisan uang. Ia justru bingung. dari semua uang yang ada di tangannya, mana yang benar-benar menjadi miliknya dan mana yang harus diputar kembali menjadi modal usaha.
Ikan, tepung, bumbu, dan gas harus tersedia agar ia bisa kembali berjualan esok pagi. pada saat yang sama, sebagian uang itu harus dibawa pulang untuk membeli beras dan memenuhi kebutuhan keluarga yang menunggu di rumah.

Di antara modal usaha dan kebutuhan rumah tangga, uang Bambang berpindah tangan tanpa pernah sempat diberi nama.
Pendapatan, modal, pengeluaran, dan keuntungan bercampur di dalam dompet cokelat yang sama.
Ketika wartawan bertanya, “Pak, hari ini untungnya berapa?” Bambang menundukkan kepala. Beberapa detik berlalu tanpa jawaban.
“Saya enggak tahu, untung berapa ya hari ini?” ujarnya pelan.
Jawaban itu bukan karena Bambang tidak bekerja keras. justru sebaliknya. ia bekerja terlalu keras untuk sempat berhenti dan menghitung.
Pagi hingga petang, di usianya yang tak lagi muda, Bambang mendorong gerobak siomay dari sekitar Kampus Gunadarma, Depok, ke sudut-sudut Jalan RTM, Depok. gerobaknya penuh dengan barang dagangan.
Saat kampus ramai, Bambang bisa memperoleh omzet sekitar Rp350 ribu. ketika kampus sepi, pendapatannya biasanya sekitar Rp200 ribu.
Ia menukar tenaga dengan rupiah, lalu menukar kembali rupiah itu dengan bahan baku, beras, gas, dan kebutuhan keluarga.
Bambang tinggal di sebuah kontrakan sederhana di ujung gang sempit kawasan perumahan pelni, Depok.
Ia tinggal sendirian, sementara keluarganya berada di kampung di wilayah perbatasan Tambun dan Bekasi.
di ruang kontrakan yang sederhana itu, tidak ada televisi.
Bukan karena Bambang tidak menginginkannya, melainkan karena uang yang mungkin digunakan untuk hiburan selalu memiliki tujuan yang lebih mendesak: membeli ikan untuk dagangan, beras untuk keluarga, atau gas agar esok pagi ia masih bisa kembali bekerja.
Bagi sebagian orang, pilihan semacam itu mungkin terlihat sederhana. bagi Bambang, itulah cara bertahan hidup.
Keinginan Bambang juga sederhana. ia ingin memberikan yang terbaik bagi keluarganya agar anak dan cucunya kelak memperoleh pendidikan yang layak. Ia berharap dagangan siomai itu dapat membawanya ke sana.
Namun, ketika seluruh pendapatan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hari ini,
kapan sebuah usaha bisa tumbuh? kapan seorang pedagang bisa memiliki tabungan? kapan ia dapat memisahkan uang usaha dari uang rumah tangga? dan bagaimana ia bisa mengetahui apakah selama ini usahanya benar-benar menguntungkan?
Pertanyaan-pertanyaan itu membawa kita keluar dari satu gerobak siomai dan masuk ke persoalan yang lebih besar.
Pembinaan Manajemen Keuangan
Bambang adalah satu dari banyak pelaku UMKM yang menghadapi persoalan serupa.
Mereka setiap hari berdagang, memproduksi barang, melayani pelanggan, dan menciptakan penghasilan.
Namun, sebagian masih menjalankan usaha tanpa pencatatan sederhana.
Uang usaha dan uang rumah tangga bercampur. modal tidak dihitung. keuntungan hanya diperkirakan dari sisa uang di tangan.

Hasil kajian Bank Indonesia, inovasi Model Bisnis Pembiayaan digital bagi UMKM:
Kajian terhadap 304 UMKM yang tersebar di hampir seluruh provinsi di Indonesia menunjukkan bahwa 59,21 persen responden masih menggabungkan rekening pribadi dan rekening usaha, sementara 58,22 persen belum melakukan pencatatan keuangan secara formal.
Sebagian kecil responden telah melakukan pencatatan menggunakan aplikasi, antara lain Buku Warung, Google Sheets, dan SIAPIK.
Angka tersebut menunjukkan bahwa bagi sebagian pelaku UMKM, mencatat uang masuk dan keluar belum menjadi kebiasaan.
Persoalan Bambang pun menemukan konteks yang lebih luas: bekerja keras setiap hari, tetapi belum memiliki catatan sederhana untuk mengetahui kemana uang usahanya mengalir dan berapa keuntungan yang sebenarnya diperoleh.
Bagi pelaku usaha kecil, kemampuan membaca arus kas dan menghitung laba saja sudah menjadi pencapaian penting.
Karena itu, pembelajaran manajemen keuangan tidak selalu harus dimulai dari angka-angka rumit atau istilah akuntansi.
Ia dapat dimulai dari pertanyaan sederhana ke mana uang hasil jualan mengalir setiap hari?
ke Mana Uang Hasil Jualan Mengalir Setiap Hari?
Pertanyaan itu tidak selalu mudah dijawab. uang hasil usaha sering bercampur dengan kebutuhan rumah tangga. modal digunakan untuk belanja harian.
Omzet dianggap sebagai keuntungan.
di sinilah tantangan mengajarkan manajemen keuangan kepada pelaku usaha mikro dan kecil menjadi lebih kompleks.
Persoalannya bukan sekadar bagaimana menjelaskan angka, tetapi bagaimana mengubah kebiasaan yang telah berlangsung bertahun-tahun.
Apa yang dialami Bambang bukan semata-mata persoalan kurangnya pendapatan.
Persoalannya adalah ia tidak memiliki cara sederhana untuk membaca kemana uang hasil kerja kerasnya pergi.
Setiap hari uang masuk dari pembeli, lalu sebagian kembali menjadi modal untuk membeli bahan dagangan.
Sebagian lainnya digunakan untuk membeli beras, gas, dan memenuhi kebutuhan keluarga.
Namun, tanpa catatan, semua uang itu hanya terlihat sebagai satu jumlah yang sama.
Di titik inilah persoalan manajemen keuangan menjadi penting. bagi pedagang seperti Bambang,
pengelolaan keuangan tidak harus dimulai dari laporan keuangan yang rumit.
Ia bisa dimulai dari hal sederhana: mencatat berapa uang yang masuk, berapa biaya yang dikeluarkan, berapa modal yang harus kembali diputar, dan berapa keuntungan yang benar-benar bisa dibawa pulang.
Bambang mungkin belum pernah mengikuti pendampingan semacam itu. namun, persoalan yang ia hadapi menunjukkan mengapa kemampuan tersebut dibutuhkan.
Pengalaman peserta pendampingan umkm seperti Nashriyah memperlihatkan bahwa kebiasaan mengelola keuangan dapat berubah ketika pelaku usaha memperoleh pengetahuan dan pendampingan yang tepat.
Dari Catatan Sederhana hingga Aset Jualan Berharga
Menyadari pentingnya hal itu bagi UMKM, Maybank Indonesia memberikan pelatihan dan pendampingan kepada pelaku usaha di Tanah Air.
Maria Trifanny Fransiska, Head of Sustainability Maybank Indonesia, menilai upaya memperluas pendampingan pengelolaan keuangan membutuhkan proses yang berkelanjutan.
Menurut Maria, keberlanjutan bukan sekadar memenuhi kewajiban pelaporan, melainkan memastikan setiap aktivitas usaha mampu menciptakan dampak sosial dan ekonomi yang terus berjalan.
“Program ini berfokus pada pelaksanaan inisiatif sosial yang memberdayakan perempuan di Indonesia. Kita mempelajari literasi keuangan serta strategi cerdas untuk membangun pondasi bisnis yang kuat,” ujar Maria Trifanny Fransiska.

Gagasan tersebut diterapkan melalui program HERPower, yang dijalankan Maybank Indonesia bersama YCAB Foundation pada Februari–Juni 2025 dan melibatkan 1.087 perempuan pelaku usaha ultra mikro dan UMKM.
Pendampingan dimulai dari hal-hal mendasar: memahami arus keluar-masuk uang usaha, membedakan omzet dengan keuntungan, menyusun anggaran sederhana, membangun kebiasaan menabung, serta memisahkan keuangan usaha dari keuangan keluarga.
Setelah memahami dasar pengelolaan keuangan, peserta belajar pembukuan sederhana.
Mereka dilatih mencatat transaksi harian, menghitung biaya produksi, mengenali komponen pengeluaran, hingga menghitung laba usaha.
Materi kemudian berlanjut pada pengembangan usaha, pemilihan platform online, produksi konten, pengenalan karakter konsumen, penentuan segmen pasar, dan strategi pemasaran.
Pendekatan tersebut membuat pelaku usaha tidak hanya mampu mengelola keuangan dengan lebih baik, tetapi juga memiliki strategi untuk memperluas pasar.
Maria mengatakan manajemen keuangan merupakan fondasi yang menentukan keberlanjutan sebuah usaha.
Karena itu, pendampingan tidak hanya bertujuan menambah pengetahuan, tetapi juga membantu peserta membangun kebiasaan baru dalam mengelola bisnis agar mampu memberikan dampak jangka panjang bagi perkembangan usaha.
Perubahan itu terlihat dari pengalaman Nashriyah (31), pemilik warung sembako dan minuman sekaligus salah satu peserta HERPower.
Sebelum mengikuti pendampingan, ia mengaku tidak pernah benar-benar memisahkan uang hasil jualan dengan kebutuhan rumah tangga.
Setiap hari uang dari warung masuk, lalu digunakan untuk berbagai keperluan. Sebagian untuk membeli kembali barang dagangan, sebagian untuk kebutuhan rumah tangga.
Di akhir hari, ia hanya melihat sisa uang yang ada tanpa tahu secara pasti berapa modal yang masih berputar dan berapa keuntungan yang diperoleh.

Melalui pendampingan, Nashriyah mulai mencatat transaksi harian, memisahkan modal usaha dari uang rumah tangga, menghitung laba secara rutin, serta menyisihkan sebagian keuntungan untuk tabungan usaha.
Perubahan itu membuatnya melihat warung bukan lagi sekadar tempat berjualan untuk mendapatkan uang setiap hari. warung tersebut mulai ia pandang sebagai aset yang harus dikelola.
Bagi Nashriyah, mencatat pemasukan dan pengeluaran bukan sekadar pekerjaan administratif.
Dari catatan itu, ia mulai mengetahui kondisi sebenarnya dari usaha yang selama ini dijalankannya. perubahan itu mungkin terlihat sederhana.
Namun, bagi pelaku usaha mikro, kemampuan memahami kondisi keuangan usaha merupakan langkah penting.
Sebelumnya, uang yang tersisa di tangan menjadi satu-satunya ukuran. kini, Nashriyah mulai memiliki cara untuk membaca aliran uang dalam usahanya.
Ia dapat mengetahui penghasilan, memisahkan kebutuhan usaha dari kebutuhan rumah tangga, serta menyisihkan sebagian uang untuk tabungan.
Di sinilah kemajuan Nashriyah menjadi penting. pelatihan tidak hanya memberinya pengetahuan tentang pengelolaan keuangan, tetapi juga mendorong perubahan dalam kebiasaan sehari-hari.
Warung yang sebelumnya dijalankan dengan uang yang bercampur mulai dikelola dengan pencatatan yang lebih teratur.
Dari catatan tersebut, Nashriyah dapat melihat usahanya bukan sekadar sebagai tempat berjualan, melainkan sebagai usaha yang perlu dikelola dan dikembangkan.
Dukungan Permodalan
Pengalaman Nashriyah menunjukkan bahwa pengetahuan tentang keuangan dapat mengubah cara pelaku usaha memandang bisnisnya.
Namun, kemampuan mengelola uang juga perlu berjalan bersama akses terhadap permodalan dan pasar.
UMKM memiliki peran besar dalam perekonomian Indonesia. pembiayaan kepada UMKM juga terus tersedia.
Namun, tambahan modal tidak otomatis membuat usaha berkembang apabila pelaku usaha tidak mampu mengetahui berapa modal, biaya, omzet, dan keuntungan yang sebenarnya.
Dengan demikian, manajemen keuangan menjadi fondasi agar pembiayaan dapat digunakan secara lebih efektif.

Maybank Indonesia
UMKM telah lama menjadi penopang utama perekonomian Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM, sektor ini berkontribusi sekitar 60,5 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dan menyerap 96,9 persen tenaga kerja.
Namun, di balik peran besar tersebut, akses terhadap pembiayaan formal masih belum merata.
Data Otoritas Jasa Keuangan hingga akhir 2025 menunjukkan pembiayaan kepada UMKM mencapai sekitar Rp1.809 triliun, atau 18,42 persen dari total pembiayaan sektor jasa keuangan.
Angka itu menunjukkan peluang memperluas pembiayaan bagi UMKM masih terbuka.
Namun, pekerjaan rumah yang lebih besar adalah memastikan pembiayaan benar-benar membantu UMKM berkembang.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, mengatakan persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan hanya dengan memperluas akses pembiayaan.
Modal memang penting, tetapi modal tidak otomatis membuat usaha naik kelas apabila tidak disertai kemampuan mengelola keuangan, memanfaatkan teknologi, memperluas pasar, dan meningkatkan kapasitas pelaku usaha.
Menurut Bhima, yang dibutuhkan adalah ekosistem yang saling menguatkan.
Pembiayaan harus berjalan berdampingan dengan kemampuan mengelola keuangan, digitalisasi, akses pasar, dan pendampingan usaha yang berkelanjutan.
“Kalau semua dapat bergerak melalui aturan main yang jelas dan bersama-sama ingin menciptakan ekosistem yang sehat bagi pertumbuhan UMKM, niscaya kontribusi UMKM terhadap perekonomian nasional akan semakin signifikan,” ujar Bhima.
Di titik inilah pendampingan menemukan makna strategisnya. ia bukan lagi pelengkap program pemberdayaan, melainkan investasi jangka panjang untuk membangun UMKM yang lebih tangguh, produktif, dan berdaya saing.
Sebab, usaha yang benar-benar naik kelas tidak hanya lahir dari tambahan modal, tetapi juga dari bertambahnya pengetahuan, berubahnya cara mengelola usaha, dan tumbuhnya kepercayaan diri untuk berkembang.
Namun, masih banyak pedagang kecil yang menjalankan usaha tanpa pencatatan, tanpa pemisahan uang usaha dan rumah tangga, serta tanpa mengetahui keuntungan bersih yang mereka peroleh.
Tantangannya bukan hanya bagaimana memberikan pengetahuan, tetapi juga bagaimana memastikan pengetahuan itu sampai kepada pelaku usaha yang paling membutuhkan.
Bagi pedagang yang setiap hari harus mengejar pendapatan untuk membeli bahan dagangan dan memenuhi kebutuhan keluarga, belajar mencatat keuangan seringkali belum menjadi prioritas.
Setiap sore, Bambang masih duduk di samping gerobaknya. Dompet coklat itu masih ada di tangannya.
Bedanya, suatu hari nanti, dari lembar-lembar uang yang ia hitung, ia mungkin tidak lagi hanya bertanya berapa uang yang dibawa pulang.
Ia juga bisa mengetahui berapa yang benar-benar menjadi miliknya.
Bambang tidak kekurangan kerja keras. yang ia kurang adalah kemampuan untuk membaca hasil dari kerja kerasnya sendiri.















Komentar