Jember, 8 Agustus 2026 – DiscoveryNews.id
Dampak musim kemarau di Kabupaten Jember terus meluas. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember mencatat sedikitnya lima kecamatan mengalami krisis air bersih sehingga membutuhkan distribusi air secara berkala untuk memenuhi kebutuhan warga.
Kepala BPBD Jember, Edy Budi Susilo, mengatakan wilayah yang terdampak meliputi Kecamatan Pakusari, Jelbuk, Sumbersari, Kalisat, dan Silo.
“Sebagian besar warga kesulitan memperoleh air bersih karena sumur mengering, tidak adanya jaringan pipanisasi, hingga sumber air yang tersedia berada cukup jauh dari permukiman,” ujarnya.
Di Kecamatan Kalisat, BPBD pada Jumat (7/8/2026) kembali menyalurkan 5.000 liter air bersih ke Dusun Kidul dan Dusun Karangpring, Desa Sumberjeruk. Sebanyak 77 kepala keluarga (KK) terdampak menerima bantuan tersebut. Distribusi kali ini merupakan penyaluran air bersih yang ke-14.
Sementara itu, asesmen terbaru di Lingkungan Pelinggian, Kelurahan Antirogo, Kecamatan Sumbersari, menemukan sedikitnya 50 KK mengalami kesulitan mendapatkan air bersih sejak Juli 2026.
Warga terpaksa memanfaatkan air saluran irigasi untuk mandi dan mencuci. Bahkan, sebagian warga harus berjalan sekitar 600 meter menuju sungai karena sumur dengan kedalaman sekitar 10 meter telah mengering. Di wilayah tersebut juga belum tersedia jaringan pipanisasi.
Kondisi serupa terjadi di Dusun Sumber Tengah, Desa Panduman, Kecamatan Jelbuk. Sebanyak 102 KK membutuhkan pasokan air bersih setelah jaringan PAM tidak berfungsi sejak April 2026.
Akibat kemarau, sumur warga turut mengering sehingga masyarakat harus mengambil air dari sumur bor di Balai Desa yang berjarak sekitar 2,5 kilometer dari permukiman.
Di Kecamatan Pakusari, sebanyak 125 KK di Dusun Bunder, Desa Sumberpinang, juga terdampak kekeringan. Sebagian sumur mengalami penurunan debit, sementara sumur lainnya menghasilkan air keruh bercampur lumpur sehingga tidak layak digunakan.
Sementara itu, Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Jember, Firman Arif, melaporkan bahwa sebanyak 85 KK di Dusun Banjartimur, Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo, juga mengalami krisis air bersih.
Tidak adanya jaringan pipanisasi membuat warga bergantung pada sumur. Namun, akibat musim kemarau, sumur-sumur tersebut kini mengering. Untuk mendapatkan air, sebagian warga harus menempuh perjalanan hingga tiga kilometer menuju sungai terdekat.
BPBD Jember telah menyalurkan 5.000 liter air bersih dan menyiapkan empat tandon untuk melayani kebutuhan warga terdampak.
“Pendistribusian air bersih dilakukan berdasarkan laporan masyarakat dan status siaga darurat bencana kekeringan, kebakaran hutan, dan lahan Kabupaten Jember tahun 2026 yang ditetapkan melalui surat keputusan Bupati,” terang Firman.
Ia mengatakan BPBD Jember terus melakukan asesmen di sejumlah wilayah dan memperluas distribusi air bersih seiring bertambahnya daerah yang terdampak musim kemarau.
“Hingga awal Agustus, BPBD terus melakukan asesmen di sejumlah wilayah dan memperluas distribusi air bersih seiring bertambahnya daerah yang terdampak musim kemarau,” ungkapnya.
(Dang)









Komentar