SAWAHLUNTO ,Jumat 14/8/2026, Discovery News.id, Menjelang peringatan satu abad Perlawanan Silungkang 1927, panitia mulai mematangkan persiapan kegiatan napak tilas sejarah dengan melakukan survei jalur yang berkaitan dengan peristiwa pergolakan rakyat Silungkang pada malam pergantian tahun 1926 menuju 1927.
Survei dilakukan dengan berjalan kaki menyusuri Terowongan Lubang Kalam sepanjang sekitar 828 meter. Dari kawasan terowongan, rombongan kemudian melanjutkan perjalanan melalui jalur rel kereta api sepanjang kurang lebih satu kilometer hingga mencapai kawasan pusat Kota Sawahlunto.
Kegiatan tersebut dipimpin Wakil Ketua Bidang Acara Peringatan 100 Tahun Perlawanan Silungkang. Turut mengikuti survei Kepala Desa Silungkang Oso Ferdinal bersama sejumlah panitia peringatan.
Terowongan Lubang Kalam merupakan bagian dari jaringan perkeretaapian peninggalan kolonial yang menghubungkan kawasan Sawahlunto dengan Muaro Kalaban. Berdasarkan dokumen nominasi Warisan Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto, terowongan tersebut memiliki panjang sekitar 828 meter.
Setelah keluar dari terowongan, rombongan menyusuri jalur rel sekitar satu kilometer hingga tiba di kawasan Societeit Glück Auf, yang kini menjadi Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto.
Bangunan Societeit Glück Auf didirikan pada 1910 dan pada masa kolonial digunakan sebagai tempat pertemuan serta hiburan bagi pejabat pemerintah kolonial yang bekerja di kawasan pertambangan Ombilin. Setelah direvitalisasi, bangunan tersebut kini difungsikan sebagai Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto.
Bagi panitia, kawasan tersebut memiliki makna khusus karena akan menjadi titik akhir napak tilas sekaligus lokasi pelaksanaan renungan suci untuk mengenang para pejuang yang berkaitan dengan sejarah Perlawanan Silungkang.
Bukan Sekadar Menyusuri Jalur
Wakil Ketua Bidang Acara Peringatan 100 Tahun Perlawanan Silungkang mengatakan, napak tilas dirancang bukan sekadar kegiatan berjalan menyusuri jalur lama, tetapi sebagai upaya menghadirkan kembali pengalaman ruang yang berkaitan dengan sejarah perlawanan.
“Kami ingin peserta tidak hanya membaca sejarah dari halaman buku. Mereka akan berjalan melewati jalur yang memiliki hubungan dengan peristiwa 1927. Dengan melintasi terowongan dan menyusuri jalur rel, peserta diharapkan dapat merasakan suasana perjalanan sekaligus melakukan refleksi terhadap sejarah yang pernah berlangsung di kawasan ini,” katanya.
Menurutnya, survei dilakukan untuk memastikan jalur yang akan digunakan nantinya siap dari berbagai aspek, mulai dari kondisi medan, rute perjalanan, keselamatan peserta hingga titik pelaksanaan renungan.
“Peringatan satu abad bukan sekadar seremoni. Ini momentum untuk kembali melihat sejarah secara lebih dekat, menghormati para pejuang, dan memperkenalkan jejak perlawanan kepada generasi sekarang. Karena itu, seluruh jalur harus dipersiapkan dengan baik,” ujarnya.
Ia menjelaskan, penggunaan obor dalam napak tilas juga memiliki makna simbolis sebagai lambang keberlanjutan ingatan terhadap perjuangan masa lalu.
“Obor bukan sekadar penerangan. Bagi kami, ini menjadi simbol bahwa ingatan terhadap perjuangan tidak boleh padam. Setelah hampir satu abad, generasi hari ini perlu kembali mengenali jejak perjuangan dan memahami sejarah yang pernah berlangsung di tanah ini,” katanya.
Berakhir dengan Renungan Suci
Rangkaian napak tilas nantinya dimulai dari Terowongan Lubang Kalam, dilanjutkan dengan menyusuri jalur rel dan berakhir di kawasan Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto.
Di titik akhir tersebut, panitia menyiapkan renungan suci sebagai bentuk penghormatan kepada para pejuang yang menjadi bagian dari sejarah Perlawanan Silungkang.
Renungan tersebut akan menjadi salah satu bagian paling khidmat dalam rangkaian kegiatan. Perjalanan yang dimulai dari lorong terowongan dan jalur rel akan berakhir di sebuah bangunan yang pada masa kolonial menjadi tempat berkumpulnya pejabat pemerintah serta lingkungan pertambangan Belanda.
Kontras ruang tersebut menjadi bagian dari konteks sejarah yang hendak dihadirkan dalam napak tilas, yakni perjalanan yang menghubungkan kawasan pertambangan, jaringan transportasi, pusat kekuasaan kolonial hingga jejak perlawanan masyarakat.
“Di tempat terakhir inilah kita akan berhenti, menundukkan kepala dan mengenang mereka yang telah kehilangan hidupnya dalam pergolakan itu. Bagi kami, penghormatan kepada para pejuang merupakan bagian terpenting dari peringatan satu abad ini,” ujar Wakil Ketua Bidang Acara tersebut.
Ia menambahkan, peringatan satu abad Perlawanan Silungkang juga harus menjadi momentum untuk membaca kembali sejarah secara utuh dan kritis melalui berbagai sumber yang tersedia.
“Kami ingin peringatan ini menjadi momentum untuk membuka kembali sejarah melalui sumber-sumber yang ada, melihat konteks zamannya, dan tidak sekadar mengulang label atau kesimpulan yang diwariskan. Yang terpenting adalah menghormati fakta, menghormati para pejuang, dan memastikan generasi berikutnya mengetahui bahwa pernah ada perlawanan terhadap kekuasaan kolonial di tanah ini,” katanya.
Survei jalur tersebut menjadi salah satu tahapan persiapan panitia sebelum pelaksanaan rangkaian peringatan satu abad Perlawanan Silungkang 1927.
Bagi panitia, napak tilas bukan sekadar perjalanan dari satu titik ke titik lainnya. Kegiatan itu dirancang untuk menghubungkan kembali ruang, jejak dan ingatan sejarah yang telah berlangsung hampir satu abad, sekaligus memberikan pengalaman sejarah yang lebih dekat dan bermakna bagi generasi masa kini.
Penulis: Suherman














Komentar