oleh

Studi: Konsumsi Minuman Manis Setiap Hari Dikaitkan dengan Risiko Kanker Lambung

JAKARTA discoverynews.id — Kebiasaan mengonsumsi minuman berpemanis setiap hari kembali menjadi perhatian setelah sebuah penelitian menemukan adanya hubungan antara konsumsi minuman tersebut dengan meningkatnya kejadian kanker lambung.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Gastro Hep Advances menganalisis data 112.284 orang yang mengikuti dua studi kesehatan besar di Amerika Serikat. Para peserta dipantau selama puluhan tahun, dengan data pola makan, gaya hidup dan kondisi kesehatan yang dikumpulkan secara berkala. Selama periode pengamatan, tercatat 278 kasus kanker lambung<

Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta yang mengonsumsi sedikitnya satu porsi minuman berpemanis gula setiap hari memiliki risiko kanker lambung sekitar 2,45 kali lebih tinggi dibandingkan peserta yang mengonsumsi kurang dari satu porsi per bulan.

Minuman yang masuk dalam kategori berpemanis gula dalam penelitian tersebut antara lain minuman berkarbonasi, punch, limun dan minuman olahraga. Satu porsi ditetapkan sekitar 237 mililiter.

Hubungan tersebut ditemukan pada laki-laki maupun perempuan. Pada kelompok perempuan, konsumsi lebih dari satu minuman berpemanis per hari dikaitkan dengan risiko sekitar 3,04 kali lebih tinggi dibandingkan mereka yang sangat jarang mengonsumsi minuman tersebut.

Bukan Bukti Bahwa Gula Langsung Menyebabkan Kanker

Meski angkanya cukup mencolok, penelitian tersebut tidak berarti minuman manis telah terbukti secara langsung menyebabkan kanker lambung.

Penelitian ini bersifat observasional, sehingga hanya menunjukkan adanya hubungan antara kebiasaan konsumsi minuman berpemanis dan kejadian kanker lambung. Faktor lain masih mungkin memengaruhi hasil penelitian.

Para peneliti juga menemukan bahwa konsumsi fruktosa yang lebih tinggi berkaitan dengan peningkatan kejadian kanker lambung. Beberapa kemungkinan mekanisme yang dibahas antara lain perubahan metabolisme, resistensi insulin, peradangan, perubahan mikrobioma dan kerusakan DNA. Namun, mekanisme pastinya masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Peneliti juga memperhatikan Helicobacter pylori atau H. pylori, bakteri yang diketahui sebagai salah satu faktor risiko kanker lambung. Pada sebagian peserta yang diperiksa, penelitian tidak menemukan hubungan antara konsumsi minuman berpemanis dan infeksi H. pylori. Namun, informasi mengenai status H. pylori dalam penelitian tersebut masih terbatas.

Mengapa Temuan Ini Penting?

Minuman berpemanis merupakan bagian dari pola konsumsi sehari-hari banyak orang. Persoalannya bukan hanya kandungan gula dalam satu gelas, tetapi kebiasaan mengonsumsinya berulang kali dalam jangka panjang.

Penelitian tersebut juga tidak menemukan hubungan yang sama antara konsumsi minuman dengan pemanis buatan dan peningkatan kejadian kanker lambung. Namun, hasil itu tidak dapat diartikan bahwa minuman berpemanis buatan otomatis bebas dari risiko kesehatan.

Para peneliti menekankan bahwa temuan tersebut perlu dikonfirmasi melalui penelitian lain dan pada populasi yang lebih beragam. Sebagian besar peserta penelitian berasal dari kelompok masyarakat tertentu di Amerika Serikat, sehingga hasilnya belum tentu dapat diterapkan secara langsung kepada seluruh populasi dunia.

Bagi masyarakat, temuan ini menjadi pengingat bahwa pola konsumsi sehari-hari merupakan bagian dari persoalan kesehatan jangka panjang.

Segelas minuman manis mungkin tampak sederhana. Namun ketika menjadi kebiasaan setiap hari, pertanyaan tentang seberapa sering dikonsumsi dan bagaimana pola makan secara keseluruhan menjadi semakin penting.

Sumber: penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Gastro Hep Advances, dengan data dari Nurses’ Health Study dan Health Professionals Follow-Up Study.

ADMIN REDAKSI
Author: ADMIN REDAKSI

Komentar