BANDUNG, discoverynews.id — Kabar duka mendalam menyelimuti panggung seni musik tradisional dan kebudayaan Sunda. Wulan Istimaharani, atau yang lebih dikenal dengan nama panggung Kanaya Whu, vokalis utama dari grup musik Emka 9 (MK9), dilaporkan meninggal dunia pada Minggu (13/9/2026).
Penyanyi berbakat yang mengembuskan napas terakhirnya pada usia 35 tahun tersebut wafat saat menjalani perawatan medis intensif akibat penyakit kanker di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Hasan Sadikin, Bandung.
Baca Juga :Mahasiswa Bandung Gelar Aksi di Taman Cikapayang, Soroti Persoalan Negeri
Informasi mengenai berpulangnya Kanaya dikonfirmasi langsung oleh tokoh masyarakat Jawa Barat sekaligus Pembina Emka 9, Dedi Mulyadi. Melalui unggahan rekaman video di akun Facebook resminya, pria yang akrab disapa KDM tersebut menyampaikan rasa kehilangan yang mendalam.
“Kami menyampaikan berita duka, telah meninggal dunia saudari kita, sahabat kita, Teh Kanaya, di RS Hasan Sadikin Bandung, karena menderita kanker,” tutur Dedi Mulyadi dalam pernyataan resminya.
Dalam kesempatan tersebut, Dedi Mulyadi juga mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk mendoakan agar amal ibadah almarhumah diterima di sisi Allah SWT, serta keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan.
Penampilan Terakhir di Gedung Sate Menjadi Kenangan
Kepergian Kanaya terasa begitu cepat bagi masyarakat Jawa Barat. Belum genap sebulan yang lalu, Kanaya masih tampil penuh dedikasi dalam rangkaian upacara peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026 tingkat Provinsi Jawa Barat di Gedung Sate.
Baca Juga : HUT ke-11 Buser Bhayangkara 74 Tim Redaksi Discovery News Dorong Sinergitas Lintas Media
Kala itu, dengan anggun ia mengiringi prosesi kirab Bendera Merah Putih dari Gedung Pakuan menuju Gedung Sate. Momen di hari kemerdekaan tersebut kini menjadi penampilan publik sekaligus salam perpisahan terakhir dari sang vokalis.
Sosok Berbakat yang Setia pada Kebudayaan
Kanaya Whu dikenal luas oleh masyarakat sejak didapuk menjadi vokalis utama grup musik Emka 9 pada tahun 2019. Memiliki karakter suara yang merdu dan khas, almarhumah sukses mempopulerkan sejumlah karya lagu bernuansa kebudayaan Sunda ciptaan Dedi Mulyadi, di antaranya “Rindu Purnama” dan “Kaasih Indung”
Selama masa hidupnya, ia dikenal sangat aktif menghidupkan berbagai panggung pagelaran seni dan program Safari Budaya di berbagai pelosok daerah.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, jenazah almarhumah langsung diberangkatkan dari Bandung menuju tempat peristirahatan terakhirnya. Pihak keluarga merencanakan untuk memakamkan almarhumah di wilayah Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya.
(Ags/Red)
Baca Juga : Muscab IV APDESI KBB, Bupati Jeje Dorong Kekompakan untuk Bandung Barat Lebih Baik










Komentar