oleh

INDONESIA HARI INI: NEGERI YANG TERUS BERLARI

Dari : Anak Aktivisme

Pukul sembilan malam dan Indonesia belum tidur. Di layar ponsel, berita berlari lebih cepat daripada manusia: harga berubah, kebijakan berganti, pemerintah bicara, pasar bereaksi, warganet berdebat, para ahli datang membawa grafik, sementara di luar sana seorang pedagang masih berdiri di bawah lampu jalan, menghitung uang hasil dagangannya dengan wajah yang tidak membutuhkan teori ekonomi untuk memahami satu hal: cukup atau tidak untuk pulang malam ini. Selamat datang di Indonesia, negeri yang sering terlihat gagah dari kejauhan, tetapi menyimpan begitu banyak cerita ketika kita mau berjalan sedikit lebih dekat.

Kita adalah bangsa yang sangat menyukai angka. Pertumbuhan ekonomi, inflasi, investasi, ekspor, impor, kemiskinan, pengangguran—semuanya dihitung, dan memang harus dihitung. BPS mencatat inflasi tahunan Indonesia pada Agustus 2026 sebesar  3,19 persen.n Di atas kertas ia hanyalah sebuah angka, tetapi di kehidupan nyata angka itu mempunyai wajah: wajah ibu yang mengatur belanja dapur, wajah pedagang yang menghitung modal, wajah pekerja yang menghitung sisa penghasilan, dan wajah keluarga yang bertanya apakah uang bulan ini akan cukup sampai tanggal tua. Statistik tidak berbohong, tetapi statistik juga tidak pernah bisa menceritakan seluruh penderitaan atau harapan manusia. Sebab bagi negara, inflasi adalah persentase; bagi sebagian rakyat, ia bisa menjadi keputusan sederhana: membeli atau tidak membeli.

Kalau ingin mengetahui keadaan Indonesia, sesekali jangan datang ke ruang seminar. Datanglah ke warung kopi. Duduk, pesan kopi, lalu diam. Dengarkan orang-orang berbicara tentang harga beras, pekerjaan, sekolah anak, cicilan motor, dagangan yang sepi, pupuk yang mahal, anak muda yang ingin merantau, dan masa depan yang kadang terdengar seperti sebuah alamat yang terlalu jauh. Di warung kopi, teori ekonomi biasanya kehilangan dasinya. Orang tidak berbicara tentang istilah rumit. Mereka hanya bertanya, “Besok hidup saya akan lebih mudah atau lebih sulit?” Pertanyaan itu sederhana, tetapi mungkin merupakan salah satu pertanyaan paling jujur dalam sebuah republik.

Di gedung-gedung pemerintahan, anggaran dibicarakan dengan bahasa angka. Di desa-desa, hasilnya ditunggu dengan bahasa kehidupan. Negara membutuhkan uang untuk membangun sekolah, jalan, fasilitas kesehatan, perlindungan sosial, dan berbagai program pembangunan. Perdebatan mengenai ruang fiskal pun menjadi bagian dari arah kebijakan negara. Ada kebutuhan untuk membiayai pembangunan, tetapi ada pula perhatian terhadap keberlanjutan keuangan negara dan disiplin fiskal. Pada akhirnya, perdebatan tersebut bukan sekadar soal angka di atas kertas. Di balik setiap rupiah uang publik terdapat pertanyaan yang sangat sederhana: uang itu akhirnya menjadi apa bagi rakyat? Menjadi jalan yang lebih baik? Sekolah yang lebih layak? Pelayanan yang lebih manusiawi? Atau berhenti sebagai laporan yang tampak indah tetapi sulit dirasakan di lapangan?

Lalu alam mulai berbicara. Dan alam tidak pernah membaca pidato. Kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Indonesia pada 2026 kembali mengingatkan bahwa pembangunan dan lingkungan tidak dapat dipisahkan. Ketika hutan terbakar, persoalannya bukan hanya pohon yang hilang. Ada udara yang memburuk, ekosistem yang rusak, masyarakat yang terdampak, dan generasi mendatang yang menerima warisan dari keputusan hari ini. Alam tidak punya akun media sosial untuk mengeluh. Ia tidak menggelar konferensi pers. Ia hanya memberi tanda melalui panas, asap, kekeringan, banjir, dan tanah yang bergerak. Ironisnya, manusia sering baru serius membicarakan lingkungan ketika bencana sudah mengetuk pintu rumah.

Sementara itu Indonesia semakin digital. Hampir segala sesuatu bisa dilakukan melalui layar: membeli barang, membayar kebutuhan, mencari informasi, bekerja, belajar, bahkan membangun bisnis. Tetapi teknologi selalu memiliki dua wajah. Ia dapat menjadi tangga bagi mereka yang memiliki akses, sekaligus menjadi tembok bagi mereka yang tertinggal. Kita tidak cukup hanya bertanya apakah Indonesia sudah menjadi negara digital. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah seluruh masyarakat memiliki kesempatan untuk ikut bergerak di dalam perubahan tersebut. Sebab kemajuan yang hanya dinikmati sebagian orang bukanlah akhir dari perjalanan; ia justru menjadi awal dari persoalan baru.

Kemudian ada anak-anak muda. Mereka ada di sekolah, kampus, pesantren, pasar, bengkel, pabrik, sawah, kantor, dan di balik layar komputer. Mereka sering disebut generasi yang berbeda, bahkan kadang terlalu cepat dihakimi. Padahal mereka tumbuh di dunia yang berubah jauh lebih cepat daripada generasi sebelumnya. Mereka hidup bersama internet, algoritma, informasi yang tidak pernah berhenti, dan persaingan yang berlangsung dua puluh empat jam. Karena itu pendidikan tidak boleh berhenti pada kemampuan menjawab soal. Pendidikan harus mengajarkan manusia bagaimana berpikir, bagaimana memeriksa informasi, bagaimana berbeda tanpa membenci, bagaimana gagal tanpa menyerah, dan bagaimana tetap menjadi manusia ketika dunia semakin sibuk mengubah manusia menjadi angka, target, dan algoritma.

Mencintai Indonesia tidak berarti mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Mengkritik Indonesia juga tidak otomatis berarti membencinya. Bangsa ini terlalu besar untuk dipahami hanya dengan tepuk tangan, tetapi juga terlalu berharga untuk terus-menerus dicaci. Kita membutuhkan keberanian untuk mengakui keberhasilan sekaligus keberanian untuk menunjukkan kekurangan. Kritik seharusnya menjadi cermin, bukan senjata untuk membakar rumah sendiri. Dan masyarakat yang sehat bukan masyarakat yang selalu sepakat, melainkan masyarakat yang mampu berbeda tanpa kehilangan akal sehat dan kemanusiaan.

Indonesia adalah kontradiksi yang berjalan. Kita memiliki kekayaan alam tetapi masih berhadapan dengan kemiskinan. Kita mengalami pertumbuhan tetapi masih menghadapi kesenjangan. Kita memiliki teknologi yang semakin maju tetapi masih ada masyarakat yang berjuang mendapatkan akses. Kita memiliki generasi muda yang besar tetapi masih menghadapi persoalan pendidikan, pekerjaan, dan kesempatan. Namun mungkin justru di situlah wajah Indonesia yang sebenarnya: bukan sebuah cerita yang sudah selesai, melainkan naskah yang masih ditulis setiap hari oleh jutaan manusia.

Malam semakin larut. Sebagian warung mulai menutup pintu. Kendaraan perlahan berkurang. Tetapi republik ini belum benar-benar tidur. Besok pagi guru kembali mengajar, petani kembali ke sawah, pedagang membuka lapak, buruh berangkat bekerja, pelajar kembali ke sekolah, dan anak-anak muda kembali mengejar masa depan yang belum tentu ramah kepada mereka. Indonesia akan kembali berlari. Kadang terlalu cepat, kadang tersandung, kadang membuat kita bangga, kadang membuat kita mengelus dada. Tetapi ia tetap berjalan.

Barangkali Indonesia memang bukan negeri yang sempurna. Ia adalah rumah yang terus diperbaiki oleh penghuninya. Ada bagian yang sudah kokoh, ada bagian yang retak, ada bagian yang belum selesai dibangun. Dan kita semua hidup di dalam rumah itu. Maka pertanyaannya bukan hanya siapa yang memegang kunci rumah ini, tetapi siapa yang bersedia ikut merawatnya. Karena sejarah tidak hanya ditulis oleh mereka yang berdiri di podium. Sejarah juga ditulis oleh tangan kasar petani, kapur guru di papan tulis, keringat buruh, langkah pedagang, buku pelajar, keberanian jurnalis, pertanyaan mahasiswa, dan warga biasa yang memilih untuk tetap peduli.

Indonesia belum selesai. Dan mungkin memang tidak akan pernah selesai. Sebab selama masih ada manusia yang hidup di dalamnya, selalu ada sesuatu yang harus diperjuangkan. Selamat malam, Indonesia. Besok kita berdebat lagi. Tetapi jangan lupa bekerja.

Kang Aden
Author: Kang Aden

Komentar