Oleh: Jihad Abd Mujahid
Saya mungkin bisa saja menjadi manusia yang paling sombong ketika melihat apa saja yang pernah saya kerjakan. Menulis buku, membuat website, menjadi programmer, melukis, memiliki usaha sendiri, membuat karya berupa rumus matematika, menulis berita, hingga membangun dan mengelola 15 media yang tersebar di Indonesia.
Kalau semua itu dijadikan ukuran, mungkin ada alasan bagi seseorang untuk merasa dirinya hebat.
Tetapi semakin banyak yang kita kerjakan, saya justru semakin memahami bahwa kemampuan bukan alasan untuk menyombongkan diri.
Manusia tidak cukup hanya dengan memiliki kemampuan. Kita juga harus memiliki kemampuan untuk mendengarkan.
Kita bisa diterima karena mau belajar mendengarkan orang lain. Kita bisa dihormati karena mampu menghormati orang lain. Kita bisa bersatu dengan banyak orang ketika mampu menurunkan ego dan tidak selalu merasa diri sendiri paling benar.
Bagi saya, hidup bukan tentang siapa yang paling pintar.
Saya tidak ingin menjadikan ijazah DRS, S1, S2 atau gelar akademik sebagai satu-satunya ukuran kemampuan seseorang. Pendidikan formal tentu penting, tetapi kemampuan juga dapat tumbuh dari pengalaman, proses belajar, keberanian mencoba, kegagalan, dan kemauan untuk terus mencari pengetahuan.
Saya mungkin tidak memiliki semua gelar yang dimiliki orang lain. Tetapi saya bisa belajar membuat rumus matematika. Saya bisa belajar menjadi programmer dan mengembangkan kemampuan di bidang teknologi informasi. Saya juga belajar menulis, membangun media, menjalankan usaha, berkarya, dan mencoba berbagai hal lainnya.
Namun, semua itu tetap tidak ada artinya jika kemudian membuat kita merasa paling pintar.
Sebab seseorang bisa jatuh, bahkan jatuh sejatuh-jatuhnya, ketika ia mulai merasa tidak membutuhkan orang lain. Kesombongan membuat seseorang berhenti mendengar. Ketika berhenti mendengar, kita berhenti belajar. Dan ketika berhenti belajar, kita sebenarnya sedang membatasi diri sendiri.
Saya menyadari bahwa tidak ada manusia yang benar-benar selesai belajar.
Usia bukan alasan untuk merasa paling tahu. Bahkan ketika usia saya masih di bawah sebagian orang yang saya temui, saya tetap tidak merasa puas dengan apa yang sudah saya ketahui. Justru karena masih banyak yang belum saya pahami, saya ingin terus belajar.
Belajar dari orang yang lebih tua.
Belajar dari orang yang lebih muda.
Belajar dari mereka yang memiliki pengalaman berbeda.
Belajar dari kesalahan.
Bahkan belajar dari orang yang mungkin tidak memiliki latar belakang pendidikan seperti kita.
Karena ilmu tidak selalu datang dari ruang kelas. Kadang ilmu datang dari percakapan sederhana, dari pengalaman hidup, dari kegagalan, bahkan dari orang yang sebelumnya tidak pernah kita sangka dapat mengajarkan sesuatu.
Pada akhirnya, saya percaya bahwa manusia tidak akan menjadi lebih besar hanya karena banyak karya yang telah dibuatnya. Kita menjadi lebih berarti ketika kemampuan yang kita miliki membuat kita semakin rendah hati, semakin mau mendengar, dan semakin menghargai orang lain.
Saya boleh memiliki banyak karya.
Saya boleh bisa menulis, membuat website, menjadi programmer, melukis, membuat usaha, menulis berita, membuat rumus matematika, dan mengelola media.
Tetapi satu hal yang harus saya jaga adalah jangan sampai semua kemampuan itu membuat saya lupa bahwa saya masih seorang manusia yang harus terus belajar.
Sebab sebesar apa pun kemampuan kita, selalu ada sesuatu yang belum kita ketahui.
Dan sepintar apa pun kita merasa, selalu ada orang lain yang dapat mengajarkan sesuatu kepada kita.
Maka, jangan berhenti belajar hanya karena merasa sudah pintar. Jangan berhenti mendengar hanya karena merasa sudah tahu. Dan jangan meninggikan ego hanya karena merasa memiliki kemampuan lebih.
Karena pada akhirnya, kerendahan hati bukan tanda bahwa kita lemah.
Kerendahan hati adalah tanda bahwa kita sadar: perjalanan belajar kita belum selesai.












Komentar