oleh

Cerita Achmad Kirang, Putra Mamuju yang Gugur dalam Operasi Woyla

MAMUJU – Nama Letnan Satu Infanteri (Anumerta) Achmad Kirang tidak hanya menjadi bagian dari sejarah militer Indonesia, tetapi juga menjadi simbol pengorbanan seorang prajurit asal Mamuju yang gugur ketika menjalankan tugas dalam operasi pembebasan sandera pesawat Garuda DC-9 “Woyla”.

Achmad Kirang lahir pada 8 November 1949. Namanya kemudian tercatat dalam sejarah ketika terlibat dalam Operasi Woyla yang berlangsung di Bandar Udara Internasional Don Mueang, Bangkok, Thailand, pada 31 Maret 1981.

Operasi tersebut merupakan misi pembebasan para penumpang dan awak pesawat Garuda DC-9 “Woyla” yang disandera. Dalam operasi itu, Achmad Kirang bersama timnya menjalankan tugas dengan risiko yang sangat besar.

Di tengah aksi pembebasan, Achmad Kirang berada di garis depan ketika tim berupaya memasuki pesawat. Saat mendobrak pintu belakang pesawat, ia terkena tembakan pada bagian perut.

Meski sempat mendapatkan perawatan medis, luka yang dideritanya sangat parah. Achmad Kirang akhirnya meninggal dunia pada 1 April 1981.

Pengorbanannya menjadi bagian penting dari keberhasilan Operasi Woyla. Ia gugur setelah menjalankan tugas dalam sebuah operasi yang mempertaruhkan keselamatan para sandera dan anggota tim pembebasan.

Kepergian Achmad Kirang kemudian meninggalkan jejak panjang dalam ingatan masyarakat, khususnya di Mamuju.

Namanya diabadikan di sejumlah tempat sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa dan pengorbanannya. Di Kota Mamuju terdapat Jalan Achmad Kirang, Lapangan Achmad Kirang, serta sebuah monumen patung yang menjadi pengingat sosok prajurit tersebut.

Penghormatan terhadap namanya juga hadir di lingkungan pendidikan dan pembinaan militer. Kolam renang di Resimen Induk Kodam (Rindam) XIV Hasanuddin di Pakkatto, Kabupaten Gowa, turut menggunakan nama Kolam Renang Lettu Achmad Kirang.

Jejak tersebut membuat nama Achmad Kirang tetap hidup, bukan sekadar sebagai nama jalan, lapangan, maupun monumen, tetapi sebagai bagian dari sejarah pengabdian seorang prajurit Indonesia.

Kisah Achmad Kirang mengingatkan bahwa di balik sebuah keberhasilan operasi terdapat pengorbanan besar dari para prajurit yang menjalankan tugasnya. Ia gugur dalam usia yang masih relatif muda, tetapi keberaniannya dalam Operasi Woyla terus dikenang hingga kini.

Bagi Mamuju, nama Achmad Kirang menjadi bagian dari sejarah daerah sekaligus simbol keberanian dan pengabdian kepada bangsa.

Dari Mamuju hingga Don Mueang, kisahnya menjadi catatan tentang seorang prajurit yang memilih berdiri di garis depan ketika keselamatan orang lain dipertaruhkan.

A.Fathir
Author: A.Fathir

Komentar