“Jurnalisme adalah mencetak apa yang orang lain tidak ingin dicetak; segala sesuatu yang lain adalah hubungan masyarakat.” — George Orwell
Garut discoverynews.id 17 Agustus 2024 Saya datang dan menjadi wartawan di Garut Selatan, Jawa Barat, Indonesia, dengan perlengkapan yang sebenarnya sangat sederhana: handphone, kamera, kuota internet, charger dan keberanian yang kadang naik turun mengikuti saldo rekening. Tidak ada ruangan mewah, tidak ada mobil khusus wartawan, apalagi helikopter. Kalau hujan, saya juga mencari tempat berteduh seperti orang biasa. Bedanya, kalau orang lain berteduh sambil membuka TikTok, saya kadang membuka catatan berita dan mengetik: siapa, apa, kapan, di mana, mengapa dan bagaimana. Enam pertanyaan sederhana yang entah mengapa kadang lebih menakutkan daripada suara petir.
Garut Selatan adalah tempat yang indah. Ada laut, gunung, kebun, jalan panjang, kampung-kampung dan masyarakat dengan cerita yang tidak pernah habis. Tetapi menjadi wartawan di sini membuat saya menemukan satu fenomena yang agak lucu: semakin kecil sebuah daerah, kadang semakin besar kemungkinan semua orang saling mengenal. Kita bertanya kepada seseorang tentang sebuah persoalan, ternyata dia mengenal orang yang sedang kita tanyakan. Kita mencari narasumber, ternyata narasumber adalah teman sekolahnya. Kita mencari pihak yang harus dikonfirmasi, ternyata nomor teleponnya sudah tersimpan di handphone teman kita. Dunia rupanya sempit. Kadang terlalu sempit untuk ukuran sebuah berita.
Suatu sore saya duduk di warung kopi. Kopinya tidak mahal, tetapi pembicaraannya mahal karena menyangkut kehidupan masyarakat. Seorang warga bercerita bahwa masyarakat sebenarnya ingin menyampaikan keluhan, tetapi banyak yang takut berbicara. Alasannya sederhana: orang yang dikeluhkan mungkin masih akan ditemui besok pagi. Bisa di jalan, di pasar, di kantor desa, di acara keluarga atau bahkan di warung kopi yang sama. Saya kemudian berpikir, ternyata di daerah ini seseorang bisa membutuhkan keberanian luar biasa hanya untuk mengatakan, “Saya tidak setuju.” Setelah itu saya menyeruput kopi dan menyadari bahwa kopi saya sudah dingin.
Mungkin karena terlalu lama mendengarkan masalah negara.
Di situlah saya memahami absurditas jurnalisme daerah. Wartawan diminta dekat dengan masyarakat, tetapi tidak boleh terlalu dekat dengan kekuasaan. Wartawan harus mencari informasi, tetapi jangan terlalu banyak bertanya. Wartawan harus kritis, tetapi jangan membuat orang tersinggung.
Wartawan harus independen, tetapi kadang ditanya, “Kamu orangnya siapa?” Saya sering bingung menjawab pertanyaan terakhir itu. Saya wartawan. Bukan orangnya siapa-siapa. Mungkin justru itu masalahnya.
Kekuasaan lokal juga punya bentuk yang unik. Tidak selalu berupa meja besar, kursi empuk dan ruangan ber-AC. Kadang kekuasaan hanya berupa sebuah nomor handphone yang selalu diangkat. Ada orang yang sekali menelepon langsung dilayani.
Ada masyarakat yang harus datang berkali-kali untuk mendapatkan jawaban. Ada yang cukup menyebut nama seseorang lalu pintu terbuka. Ada pula yang sudah mengetuk pintu berkali-kali tetapi mungkin pintunya sedang pura-pura tidak ada orang.
Kemudian datanglah wartawan dengan handphone.
Inilah bagian yang sering membuat saya tersenyum sendiri. Ketika saya mengetik berita tentang keberhasilan seseorang, saya bisa menjadi teman. Ketika saya mengunggah kegiatan pemerintah, saya bisa disebut mitra. Tetapi ketika saya mulai bertanya soal masalah, tiba-tiba handphone saya seolah berubah menjadi alat berbahaya.
Padahal isinya cuma WhatsApp, kamera, catatan berita dan aplikasi untuk mengetik. Tidak ada rudal di dalamnya. Tidak ada tombol “jatuhkan pejabat”. Hanya ada tombol kirim.
Tetapi rupanya tombol kirim memang bisa sangat menegangkan.
Saya tidak mengatakan semua pejabat buruk. Itu kesimpulan yang terlalu malas. Banyak aparatur yang bekerja dengan baik, terbuka terhadap kritik dan bersedia memberikan penjelasan. Mereka justru membantu wartawan bekerja. Karena itu saya tidak ingin menjadikan kritik sebagai kebencian. Kritik harus tetap memiliki fakta, konfirmasi dan tanggung jawab.
Masalahnya muncul ketika kekuasaan mulai merasa bahwa pertanyaan adalah penghinaan. Ketika meminta data dianggap mencari-cari kesalahan. Ketika meminta konfirmasi dianggap menyerang. Ketika memberitakan masalah dianggap tidak menghargai pemerintah.
Padahal wartawan tidak sedang meminta pejabat menyerahkan mahkotanya. Wartawan hanya meminta penjelasan.
Lord Acton pernah mengingatkan tentang kecenderungan kekuasaan untuk disalahgunakan. Dan semakin lama saya berada di lapangan, semakin saya memahami mengapa pers harus menjaga jarak. Bukan karena semua orang yang berkuasa jahat, tetapi karena manusia memiliki kecenderungan yang sangat lucu: ketika terlalu lama tidak ditanya, seseorang bisa mulai mengira dirinya tidak perlu menjawab.
Itulah sebabnya saya lebih takut kepada kenyamanan daripada kemarahan. Kalau seorang pejabat marah, saya tahu ada persoalan yang harus dihadapi. Tetapi kalau wartawan mulai terlalu nyaman dengan pejabat, mulai sungkan bertanya, mulai takut kehilangan akses, mulai berpikir, “Ah, jangan diberitakan, nanti tidak enak,” maka penyakitnya sudah masuk ke dalam redaksi.
Wartawan tidak perlu lagi disensor. Ia sudah membawa gunting sensor sendiri.
Saya tidak ingin menjadi wartawan seperti itu.
Saya lebih memilih duduk di warung kopi bersama masyarakat, mendengar cerita mereka, membuka handphone, mencatat, kemudian memeriksa ulang informasi sebelum menulis.
Kalau berita itu ternyata salah, saya harus memperbaikinya. Kalau tuduhan tidak terbukti, saya tidak boleh memaksakannya menjadi berita. Kalau pihak yang dituduh punya penjelasan, penjelasan itu harus diberikan ruang.
Sebab jurnalisme bukan tempat untuk melampiaskan kemarahan.
Jurnalisme adalah pekerjaan yang aneh. Kita dibayar untuk bertanya kepada orang yang mungkin tidak ingin ditanya, lalu berharap orang tersebut tetap mau menjawab. Kita mencari kebenaran, tetapi harus siap menemukan bahwa kenyataan ternyata jauh lebih rumit daripada judul berita.
Kita bekerja menggunakan handphone yang sama untuk menelepon narasumber, memotret, merekam, mengetik, mengedit dan mengirim berita. Kadang handphone panas bukan karena teknologi canggih, tetapi karena terlalu banyak grup WhatsApp.
Dan mungkin itulah wajah jurnalisme daerah yang sebenarnya: tidak selalu gagah, tidak selalu dramatis, bahkan kadang agak konyol. Seorang wartawan bisa berbicara soal kebebasan pers pada siang hari, lalu sore harinya sibuk mencari colokan karena baterai tinggal tiga persen.
Bisa mengkritik birokrasi, tetapi kemudian harus menunggu sinyal internet agar berita bisa terkirim. Bisa berbicara tentang kekuasaan, tetapi pada malam hari masih menghitung apakah uang bensin cukup untuk pulang.
Namun di balik semua absurditas itu ada sesuatu yang serius.
Masyarakat membutuhkan suara.
Dan wartawan memiliki kewajiban untuk mendengarkan.
Saya tidak tahu apakah tulisan saya akan mengubah Garut Selatan.
Saya juga tidak cukup sombong untuk mengklaim bahwa saya akan menjadi orang yang mengubah daerah ini. Saya hanya ingin menjadi salah satu orang yang mencatat apa yang terjadi ketika sebagian orang memilih diam.
Kalau suatu hari seseorang bertanya mengapa saya masih mau menjadi wartawan di daerah yang tidak selalu nyaman dengan jurnalisme, mungkin saya akan menjawab sambil tetap memegang handphone.
“Karena kalau semua orang diam, siapa yang akan bertanya?”
Lalu mungkin saya akan menambahkan satu pertanyaan lagi.
“Dan kalau wartawan tidak boleh bertanya, sebenarnya kami ini wartawan atau dekorasi kantor?”
Saya kira itu cukup.
Sebab kekuasaan boleh memiliki kantor, kendaraan, jabatan, stempel dan anggaran. Wartawan mungkin hanya punya handphone dengan layar retak dan baterai yang tinggal sebelas persen.
Tetapi selama handphone itu masih bisa mengetik dan masyarakat masih punya cerita, pekerjaan ini belum selesai.
Jenis tulisan: Gonzo Journalism yang digagas Hunter s Thompson 1970 an di amerika dengan pendekatan jurnalisme naratif, reflektif, observasional, satir dan kritik sosial.
Lokasi: Garut Selatan, Jawa Barat, Indonesia.
Tahun penulisan: 20 September 2026.














Komentar