SEMARANG Discoverynews.id— Suara dalang, tokoh wayang, musik pengiring, dan selipan guyonan menjadi bagian dari cara R. Marsudi menyampaikan pesan-pesan keagamaan. Di tangannya, wayang tidak sekadar menjadi tontonan, tetapi juga sarana untuk menyampaikan tuntunan.
Pensiunan guru SD Negeri Pongangan, Gunungpati, Semarang, itu kini lebih banyak mengabdikan waktunya untuk berdakwah. Dengan nama panggung Ki Sabdo Carito, Marsudi memenuhi berbagai undangan ceramah, mulai acara pernikahan, sunatan, haul, peringatan hari besar Islam hingga halalbihalal.
Berbeda dari ceramah pada umumnya, Marsudi kerap membawa koleksi wayang miliknya. Puluhan wayang yang dimilikinya terdiri atas berbagai jenis, mulai wayang klasik, wayang golek, wayang modern atau kontemporer, hingga wayang ponpes.
Wayang ponpes menjadi salah satu koleksi yang digunakan untuk menggambarkan kehidupan sehari-hari di lingkungan pesantren. Tokohnya antara lain kiai, santri, ustaz, setan, dan sejumlah karakter lainnya.
“Koleksi wayang saya jumlahnya puluhan. Semuanya saya gunakan untuk media berdakwah,” kata Marsudi.
Bagi Marsudi, metode tersebut bukan sekadar cara membuat ceramah lebih menarik. Ada pesan budaya yang ingin terus ia hidupkan. Menurutnya, penggunaan wayang sebagai sarana menyampaikan ajaran agama memiliki akar panjang dalam sejarah dakwah di Jawa.
Ia pun berusaha menghidupkan kembali metode yang dahulu digunakan para wali dalam menyampaikan pesan agama kepada masyarakat.
“Sekaligus nguri-uri budaya Jawa. Metode ini merupakan peninggalan para wali, tetapi sekarang mulai banyak ditinggalkan. Konsep dakwahnya perpaduan ilmu, amal, dan budaya,” ujarnya.
*Berawal dari Jamaah Kampung*
Menjadi pendakwah sebenarnya bukanlah cita-cita Marsudi sejak kecil. Perjalanan itu bermula ketika ia sering diminta mengisi ceramah di hadapan jamaah lokal di Kelurahan Pakintelan.
Dari panggung-panggung kecil tersebut, namanya perlahan dikenal. Undangan kemudian berdatangan. Tidak hanya dari wilayah Semarang, tetapi juga dari Ungaran, Salatiga, Demak, Kendal, Temanggung, Klaten dan sejumlah daerah lainnya.
Marsudi mulai serius mengembangkan metode dakwahnya. Ia banyak belajar dari berbagai pengajian yang ditontonnya melalui Youtube. Ia juga menyempatkan diri menyaksikan pertunjukan wayang kulit.
Dari aktivitas itulah muncul gagasan untuk mempertemukan dua hal yang selama ini dekat dengan kehidupannya: agama dan budaya Jawa.
Sejak 2017, wayang mulai ia gunakan secara rutin dalam dakwah. Respons jamaah ternyata cukup positif. Ceramah tidak hanya berisi materi keagamaan, tetapi juga dibalut hiburan dan guyon maton.
“Dengan metode ini pesan yang disampaikan lebih mudah diterima masyarakat. Selain mendapatkan ilmu agama, jamaah juga mendapatkan hiburan,” tuturnya.
*Ceramah yang Tak Sekadar Berbicara*
Marsudi menyadari bahwa setiap jamaah memiliki latar belakang dan tingkat pemahaman yang berbeda. Karena itu, ia berusaha menggunakan bahasa dan pendekatan yang mudah diterima.
Pesan moral menjadi bagian yang selalu diselipkan dalam setiap ceramahnya.
“Dengan mengaji, orang mendapatkan ilmu dan bisa lebih paham agama. Dengan begitu bisa tambah kuat imannya dan bisa diamalkan,” kata ayah empat anak tersebut.
Durasi ceramah pun menyesuaikan konsep yang digunakan. Jika hanya berceramah, biasanya berlangsung sekitar satu hingga satu setengah jam. Namun ketika dipadukan dengan wayang, musik, dan lawakan, pertunjukan bisa berlangsung hingga sekitar dua setengah jam.
“Untuk dakwah sendiri sudah saya lakukan sejak 2015, tapi pakai metode wayang sejak 2017,” ujarnya.
Menariknya, Marsudi tidak mematok tarif untuk ceramahnya. Ia menyerahkan sepenuhnya kepada pihak yang mengundang.
“Pokoknya, seikhlasnya,” katanya.
Berbeda dengan ceramah, untuk pengiring musik maupun pemain hiburan seperti Gareng, Petruk, dan Bagong, terdapat biaya tersendiri sesuai jumlah personel dan kesepakatan dengan pihak pengundang.
Namun, ia tetap membuka kesempatan bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan biaya.
“Kalau pengundangnya tidak mampu, gratis. Cuma untuk pengiring, karena asalnya dari daerah lain, maka perlu biaya transport saja,” jelas Ketua Jamaah Langgeng Samudera tersebut.
*Belajar Agama, Merawat Wayang*
Kemampuan Marsudi menyampaikan pesan keagamaan tidak diperoleh secara instan. Ia belajar ilmu agama dari Kiai Muhammad Arif asal Temanggung serta sejumlah kiai lainnya.
Sementara keterampilannya dalam mengolah wayang justru banyak diperoleh secara otodidak. Ia mengembangkan karakter, cerita, dialog, dan cara penyampaian sesuai kreativitasnya sendiri.
Materi ceramah tetap dipersiapkan. Namun ketika berada di hadapan jamaah, improvisasi menjadi bagian penting. Kondisi dan respons jamaah sering kali menjadi sumber ide untuk membangun suasana.
Salah satu pengalaman yang masih diingatnya terjadi ketika ia berceramah di Jimbaran dan Sumowono, Kabupaten Semarang. Saat itu terdapat jamaah yang memiliki nama persis seperti dirinya.
Situasi tersebut kemudian ia jadikan bahan candaan. Jamaah yang memiliki nama sama itu pun tertawa terpingkal-pingkal.
Bagi Marsudi, momen seperti itu justru membuat jarak antara pendakwah dan jamaah menjadi lebih cair.
“Jadi metode ceramah ini lebih mudah dipahami, sekaligus nguri-uri budaya Jawa yang saat ini mulai dilupakan generasi milenial,” ujarnya.
*Dari Guru hingga Pengabdi Masyarakat*
Lahir di Semarang pada 26 Desember 1963, Marsudi sebelumnya menghabiskan sebagian besar masa pengabdiannya sebagai guru SD Negeri Pongangan, Gunungpati. Ia juga pernah dipercaya sebagai Ketua Ranting Nahdlatul Ulama Kelurahan Pakintelan.
Kini, setelah pensiun, aktivitas sosialnya tetap berjalan. Selain berdakwah, ia tercatat sebagai Ketua Takmir Masjid Irsyadul Jami, Ketua RW 3 Kelurahan Pakintelan, serta Dewan Pengawas Lembaga Bantuan Hukum Rumah Pejuang Keadilan Indonesia.
Di sela berbagai aktivitas tersebut, undangan ceramah tetap ia jalani.
Perjalanan panjangnya dalam menggabungkan agama dan budaya juga meninggalkan sejumlah kenang-kenangan. Marsudi pernah menerima piandel Kanjeng Sunan Giri atau Raden Ainul Yaqin, Keris Sumpono Carito, serta Wayang Semar Bodronoyo.
Benda-benda tersebut hingga kini masih dirawat.
Bagi Marsudi, wayang bukan hanya benda seni yang disimpan. Di balik tokoh dan ceritanya, terdapat ruang untuk menyampaikan pesan. Dan selama masih ada masyarakat yang bersedia mendengarkan, ia ingin terus menggunakan ruang itu untuk berdakwah sekaligus menjaga agar budaya Jawa tidak kehilangan tempat di tengah perubahan zaman.










Komentar