PONTIANAK, Discoverynews.id ~ Gedung megah di Pontianak hari itu dipenuhi rasa haru dan bangga tatkala Universitas Panca Bhakti (UPB) Pontianak menggelar Wisuda ke-XXXVIII.
Pada Kamis 1 Oktober 2026. Sebanyak 746 wisudawan dan wisudawati resmi dikukuhkan, menandai babak baru perjalanan hidup mereka di tengah dinamika pembangunan daerah.
Dari total keseluruhan lulusan tersebut, sebanyak 686 orang merupakan lulusan program sarjana akademik, sementara 60 lainnya berasal dari program pascasarjana yang mencakup Magister Hukum, Magister Manajemen, serta Magister Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan.
Momen sakral ini tidak sekadar menjadi selebrasi akademis semata, melainkan sebuah panggung penegasan kembali komitmen institusi pendidikan tinggi dalam mengawal masa depan Kalimantan Barat yang berkelanjutan.
Rektor UPB Pontianak, Dr. Purwanto, S.H., M.Hum., FCB.Arb., FIIArb., CIM., dalam pidato pengantarnya mengingatkan bahwa ijazah dan gelar yang diraih bukanlah garis akhir dari proses belajar, melainkan sebuah gerbang pembuka menuju tanggung jawab sosial yang jauh lebih besar.
Di hadapan ratusan lulusan dan tamu undangan, ia berpesan agar para sarjana senantiasa membumi meski telah menggapai ilmu setinggi langit.
Bagi Purwanto, identitas seorang akademisi lulusan UPB harus selalu berakar kuat pada nilai-nilai luhur Pancasila serta kearifan lokal masyarakat Kalimantan Barat yang kaya akan filosofi kebersamaan dan pelestarian alam.
Pilihan tema wisuda tahun ini, “Mewujudkan Pembangunan Berkelanjutan Berbasis Ekologis di Kalimantan Barat,” dipilih bukan tanpa alasan yang mendalam atau sekadar pemanis kata dalam brosur seremonial.
Purwanto memaparkan bahwa provinsi ini memegang peranan krusial sebagai salah satu paru-paru dunia, yang dianugerahi Sungai Kapuas sebagai sungai terpanjang di Indonesia, ekosistem lahan gambut raksasa penyimpan cadangan karbon, hutan tropis yang lebat, serta bentangan garis mangrove yang melindungi wilayah pesisir.
Kekayaan alam yang luar biasa ini menjadikan Kalimantan Barat sebagai wilayah strategis tidak hanya bagi nusantara, tetapi juga bagi masa depan iklim global secara keseluruhan.
Namun, di balik pesona dan kelimpahan sumber daya alam tersebut tersimpan rentetan persoalan ekologis yang kian mendesak dan menuntut perhatian serius dari semua pihak.
Tantangan nyata seperti kebakaran hutan dan lahan di area gambut, abrasi pesisir yang mengancam daratan, penurunan kualitas air sungai akibat aktivitas industri, hingga alih fungsi lahan yang kerap tidak terkendali telah menjadi potret harian yang memerlukan solusi cerdas berbasis ilmu pengetahuan.
Menghadapi kenyataan ini, Rektor menegaskan bahwa tema ekologis yang diusung bukanlah sekadar jargon kosong, melainkan sebuah panggilan moral yang menggetarkan nurani seluruh civitas akademika.
Sebagai perguruan tinggi yang lahir, tumbuh, dan berkembang bersama denyut nadi masyarakat Kalimantan Barat, UPB memikul tanggung jawab moral yang tidak kecil untuk mengambil peran aktif dalam menentukan arah kebijakan pembangunan daerah.
Purwanto dengan tegas menyatakan bahwa institusi pendidikan dan para alumninya tidak boleh hanya menjadi penonton pasif di tengah laju pembangunan yang berpotensi merusak keseimbangan ekologi.
Sebaliknya, lulusan UPB didorong untuk bertransformasi menjadi pelopor gerakan ekonomi hijau yang mampu menyelaraskan pertumbuhan ekonomi tanpa harus mengorbankan kelestarian hutan dan kebersihan sungai.
Melalui visi besar tersebut, perguruan tinggi ini berharap para lulusan baru mampu membawa angin segar di tengah masyarakat, memastikan bahwa pembangunan yang berjalan tetap berpihak pada keadilan sosial dan kedaulatan masyarakat adat di tanah kelahiran mereka.
Penutupan seremoni wisuda hari itu pun meninggalkan kesan mendalam di hati para hadirin, menyalakan secercah harapan bahwa generasi penerus bangsa dari tanah Khatulistiwa ini siap berdiri di garis terdepan dalam menjaga bumi Kalimantan agar tetap hijau, lestari, dan memberikan kehidupan bagi generasi yang akan datang.
(Tim/Red)
















Komentar