oleh

Yusman Dawolo Turun ke Jalan, Hadir untuk Masyarakat Kecil Gunungsitoli.

Gunungsitoli,DiscoveryNews.id. – Di saat banyak pemimpin memilih nyaman di balik meja dan laporan, YD memilih jalan yang berbeda. Sejak 29 Oktober 2026, selama sepekan penuh, ia bersama Tim Gerakan Peduli (GP) blusukan dari pintu ke pintu di berbagai wilayah Kota Gunungsitoli.

Bukan untuk pencitraan. Bukan untuk sekadar kunjungan. YD datang untuk melihat langsung, mendengar langsung, dan merasakan langsung bagaimana masyarakat kecil bertahan hidup di tengah keterbatasan ekonomi dan persoalan sosial yang belum terselesaikan.

Bersama Tim Gerakan Peduli, YD menyalurkan bantuan sembako kepada keluarga prasejahtera. Bantuan itu memang tidak besar, tetapi bagi keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan sehari hari, bantuan itu menjadi bukti bahwa mereka tidak sendirian.

Namun bagi YD , sembako bukan tujuan akhir. Di balik setiap paket bantuan, ia menemukan persoalan yang jauh lebih besar, yang tidak boleh hanya dibalas dengan rasa iba, tetapi harus dijawab dengan tindakan dan kebijakan nyata.

Menyaksikan Penderitaan yang Tak Bisa Diabaikan

Salah satu kisah yang paling menyentuh adalah seorang bayi di Gunungsitoli Utara yang tengah berjuang melawan tumor ganas pada tangannya. Di usia yang seharusnya dipenuhi tawa dan keceriaan, bayi itu harus menahan sakit.

Keterbatasan ekonomi membuat orang tuanya kesulitan mendapatkan pengobatan medis, apalagi jika harus dirujuk ke Medan. Bagi Yusman Dawolo, kisah ini bukan sekadar cerita sedih. Ini adalah panggilan kemanusiaan yang tidak boleh diabaikan.

Kisah memilukan lainnya ditemukan di Gunungsitoli Selatan. Sebuah keluarga terpaksa tinggal di tenda selama hampir dua tahun setelah rumah mereka terbakar. Terik matahari, hujan, dan ketidakpastian menjadi keseharian mereka. Hampir dua tahun mereka menunggu kepastian, menunggu kehadiran negara.

Bang YD juga menemui seorang anak yang telah kehilangan ayah dan ibunya. Anak itu terpaksa putus sekolah dan bekerja di tempat pencucian motor demi menghidupi kedua adiknya. Di usia yang seharusnya digunakan untuk belajar dan meraih cita cita, ia memikul tanggung jawab sebagai kepala keluarga. Ia bekerja bukan untuk dirinya sendiri, melainkan agar adik adiknya tetap bisa makan dan bersekolah.

Selain itu, Tim Gerakan Peduli juga menemukan banyak keluarga lain yang hidup dalam kondisi memprihatinkan, termasuk warga yang membutuhkan rumah layak huni dan bantuan kebutuhan dasar.

Bang YD , semua itu bukan angka kemiskinan. Di balik setiap persoalan, ada manusia, ada keluarga, dan ada masa depan anak anak Gunungsitoli.

YD : Pemimpin Harus Hadir, Bukan Sekadar Mengetahui

Melihat langsung kondisi itu, YD dengan tegas mengajak Pemerintah Kota Gunungsitoli untuk lebih aktif turun ke lapangan. Bukan hanya menerima laporan, tetapi menyapa masyarakat, mendengarkan keluhan, dan memberi solusi konkret.

Baca Juga  Sony Sonjaya Klaim Ada Nama-Nama Besar di Balik Pengaturan Dapur SPPG

Pemimpin harus turun langsung melihat penderitaan rakyat dan memberikan solusi. Ada keluarga yang tinggal di rumah tidak layak huni, ada yang hampir dua tahun tidur di tenda karena rumahnya terbakar, ada bayi yang menderita tumor tetapi kesulitan mendapatkan pengobatan, dan ada anak yang terpaksa putus sekolah karena kehilangan ayah dan ibunya, ujar YD

Ini bukan persoalan yang boleh dibiarkan berlarut larut. Mereka adalah masyarakat kita, warga Kota Gunungsitoli yang juga memiliki hak untuk hidup layak, mendapatkan pelayanan kesehatan, dan memperoleh pendidikan. Mereka sangat mengharapkan perhatian dan kehadiran pemimpinnya, lanjutnya.

YD menegaskan, kehadiran pemerintah harus diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan sekadar kunjungan atau janji. Pemerintah perlu melakukan pendataan langsung, memverifikasi kondisi warga, mengidentifikasi kebutuhan mendesak, serta mengoordinasikan perangkat daerah terkait agar bantuan dan penanganan dapat segera diberikan.

Keluarga yang kehilangan tempat tinggal membutuhkan kepastian hunian. Bayi yang menderita penyakit serius membutuhkan akses pengobatan. Anak anak yang kehilangan orang tua membutuhkan perlindungan sosial dan kesempatan untuk kembali bersekolah.

*Jangan Biarkan Penderitaan Rakyat Menjadi Pemandangan Biasa*

Sepekan blusukan bersama Gerakan Peduli menjadi bukti nyata kepedulian YD . Ia tidak hanya memberi sembako, tetapi memberi harapan. Ia tidak hanya mendengar keluhan, tetapi menyuarakannya agar pemerintah segera bertindak.

Sembako dapat membantu memenuhi kebutuhan hari ini, tetapi keluarga yang tinggal di tenda membutuhkan rumah. Anak yang sakit membutuhkan pengobatan. Anak yang kehilangan orang tua membutuhkan perlindungan dan masa depan.

Kepedulian tidak boleh berhenti pada rasa iba. Kepedulian harus berubah menjadi tindakan, kebijakan, dan solusi yang dapat dirasakan masyarakat. Sebab, ukuran keberhasilan seorang pemimpin bukan hanya terlihat dari pembangunan yang megah, tetapi juga dari seberapa jauh pemerintah mampu menghadirkan harapan bagi rakyat yang paling membutuhkan.

Jangan sampai ada warga yang terus menderita hanya karena tidak terlihat. Jangan sampai ada anak kehilangan masa depan hanya karena kemiskinan. Dan jangan sampai pemerintah terlambat hadir ketika rakyat sedang membutuhkan pertolongan.

Rakyat tidak membutuhkan janji yang berulang. Mereka membutuhkan pemimpin yang hadir, mendengar, dan bertindak. Dan YD telah menunjukkan teladan itu, hadir langsung di tengah rakyat, melihat dengan mata kepala sendiri, mendengar dengan hati, dan menyuarakan solusi nyata.

Kini saatnya Pemerintah Kota Gunungsitoli turun langsung. Karena setiap warga berhak hidup layak, dan tidak seorang pun boleh dibiarkan berjuang sendirian dalam penderitaan.

Red

Haris
Author: Haris