La Paz, Bolivia discoverynews.id – Minggu, 21 Juni 2026 – Pemerintah Bolivia mulai melihat tanda-tanda meredanya krisis nasional setelah parlemen mendukung keputusan Presiden Rodrigo Paz yang menetapkan status darurat nasional menyusul gelombang protes dan blokade jalan yang berlangsung selama 50 hari.
Krisis bermula ketika pemerintah mencabut subsidi bahan bakar sebagai bagian dari reformasi ekonomi untuk mengurangi defisit anggaran. Kebijakan tersebut memicu kemarahan berbagai kelompok masyarakat yang menilai biaya hidup semakin berat di tengah kelangkaan dolar AS dan tekanan ekonomi yang berkepanjangan.
Aksi demonstrasi kemudian berkembang menjadi blokade jalan besar-besaran di berbagai wilayah. Jalan-jalan utama yang menghubungkan pusat produksi dengan kota-kota besar terputus, menyebabkan pasokan makanan, bahan bakar, obat-obatan, hingga oksigen medis terganggu. Kota-kota seperti La Paz dan El Alto menjadi wilayah yang paling terdampak.
Menurut Reuters, sedikitnya 14 orang tewas selama krisis berlangsung. Sementara laporan Associated Press dan sejumlah organisasi hak asasi manusia menyebut jumlah korban mencapai 17 orang tewas, 37 orang luka-luka, dan 365 orang ditangkap. Sebagian korban dilaporkan meninggal akibat sulitnya memperoleh perawatan medis karena jalur transportasi terputus oleh blokade.
Dalam pidatonya, Presiden Paz menegaskan bahwa pemerintah tidak lagi menganggap blokade sebagai aksi protes biasa, melainkan ancaman terhadap stabilitas negara. Status darurat nasional memberi kewenangan lebih luas kepada aparat keamanan dan militer untuk membuka jalan yang diblokir serta memulihkan distribusi kebutuhan pokok.
Pada Minggu, sejumlah perkembangan positif mulai terlihat. Beberapa blokade utama berhasil dibuka dan kelompok-kelompok demonstran mulai menghentikan aksi mereka, meski tuntutan terkait kenaikan upah, ketersediaan bahan bakar, dan perbaikan kondisi ekonomi masih belum sepenuhnya terselesaikan.







Komentar