MAMUJU – Kepolisian Daerah Sulawesi Barat terus melakukan terobosan untuk meningkatkan kualitas penyidikan yang profesional, objektif dan berintegritas. Salah satunya melalui pelatihan Investigative Interviewing dan Digital Forensic yang secara resmi dibuka Kapolda Sulbar Irjen Pol Adi Deriyan Jayamarta di Aula Marannu Mapolda Sulbar, Senin (31/8/2026).
Pelatihan tersebut menjadi bagian dari upaya Polda Sulbar membangun kapasitas penyidik agar mampu menghadapi perkembangan kejahatan dan teknologi yang semakin kompleks. Kegiatan ini menghadirkan pemateri ahli di bidangnya dan diikuti personel Ditkrimum, Ditkrimsus, Ditnarkoba, Polairud, Ditlantas, serta jajaran Reskrim dan Narkoba Polres/ta se-Sulawesi Barat.
Dalam arahannya, Kapolda Sulbar menekankan bahwa pelatihan tersebut merupakan langkah strategis yang belum tentu dilaksanakan di seluruh Polda di Indonesia. Menurutnya, perkembangan metode penyidikan harus diikuti perubahan pola pikir dan cara kerja penyidik.
Kapolda menjelaskan, Investigative Interviewing menawarkan pendekatan berbeda dari pola pemeriksaan konvensional yang berorientasi pada pengakuan tersangka. Metode ini mengedepankan komunikasi, pembangunan kepercayaan, pendekatan psikologis, serta penggalian informasi secara sistematis, ilmiah dan tetap sesuai dengan ketentuan hukum.
“Dahulu penyidik dituntut mendapat pengakuan dari tersangka sehingga kadang ditempuh segala cara, termasuk intimidasi. Melalui metode ini, para penyidik justru bisa mendapatkan informasi yang akurat dengan cara yang lebih menarik, beretika dan tetap dihormati,” tegas Irjen Pol Adi Deriyan Jayamarta.
Ia menambahkan, perubahan zaman menuntut penyidik untuk terus meningkatkan kemampuan. Masyarakat saat ini semakin cerdas, kritis dan memahami hak-haknya dalam proses hukum. Karena itu, setiap tahapan penyelidikan dan penyidikan harus dilakukan secara profesional serta dapat dipertanggungjawabkan.
Kapolda juga mengingatkan bahwa negara telah menyediakan berbagai ruang pengaduan bagi masyarakat apabila menemukan proses penegakan hukum yang dinilai tidak sesuai prosedur. Kondisi tersebut, kata dia, menjadi tantangan sekaligus motivasi bagi penyidik untuk bekerja berdasarkan ilmu pengetahuan, ketelitian dan integritas.
“ Saya ingin kalian cerdas, pintar dan menguasai ilmu baru ini sebagai wawasan yang belum tentu dimiliki Polda lain. Jadilah penyidik yang tidak hanya mengandalkan kekuatan, melainkan kecerdasan, keilmuan dan ketelitian bukti digital,” ujarnya.
Menurutnya, kemampuan Investigative Interviewing akan semakin kuat jika dipadukan dengan Digital Forensic. Di tengah pesatnya penggunaan teknologi, perangkat elektronik seperti telepon seluler, komputer dan berbagai media digital dapat menjadi sumber penting dalam mengungkap fakta suatu perkara.
Melalui kemampuan forensik digital, penyidik dituntut mampu menelusuri, mengamankan, mengumpulkan dan menganalisis data elektronik secara profesional sehingga dapat membantu menemukan fakta secara objektif.
Kombinasi antara teknik wawancara investigatif dan kemampuan forensik digital tersebut diharapkan mampu melahirkan proses penyidikan yang lebih kokoh, objektif dan minim celah untuk dipersoalkan karena setiap kesimpulan dibangun berdasarkan informasi serta alat bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.
Kapolda Sulbar berharap seluruh peserta mengikuti pelatihan dengan serius, menyerap ilmu yang diberikan para pemateri dan menerapkannya dalam pelaksanaan tugas sehari-hari.
“Inilah penyidikan yang sesungguhnya berintegritas demi tegaknya keadilan tanpa melanggar hak asasi manusia,” pungkasnya.
Melalui pelatihan ini, Polda Sulbar menegaskan komitmennya menghadirkan penyidik yang tidak hanya kuat dalam penegakan hukum, tetapi juga cerdas dalam menggali informasi, objektif dalam menilai fakta, menguasai teknologi dan menjunjung tinggi integritas serta hak asasi manusia.









Komentar