oleh

Pecah Kongsi Solusi Krisis Air Bersih: Gagasan Waduk Mantan Gubenur Sutarmidji Dituding ‘Mengada-Ada’ oleh Walikota Edi Kamtono

PONTIANAK,Discoverynews.id ~ Hubungan politik dan tata kelola antara mantan Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji, dan Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, kini mendadak memanas di hadapan publik. Ketegangan ini dipicu oleh perbedaan pandangan yang amat kontras terkait penanganan krisis intrusi air asin di Sungai Kapuas—masalah tahunan yang terus mengancam keberlangsungan pasokan air bersih PDAM untuk warga Kota Pontianak. Sutarmidji secara terbuka menyuarakan kritiknya melalui media sosial dengan mendorong Pemerintah Kota Pontianak agar mengambil langkah radikal. Menurutnya, kapasitas Waduk Penepat harus diperluas hingga sepuluh kali lipat demi memperpanjang daya tahan cadangan air tawar darurat saat musim kemarau panjang melanda.  

Langkah penambahan volume penampungan air ini diyakini Sutarmidji mampu memperpanjang napas pasokan air bersih warga dari yang semula hanya mampu bertahan selama tiga hari menjadi satu bulan penuh. Solusi teknis yang ditawarkan mantan orang nomor satu di Kalbar tersebut dinilai sebagai jalan keluar yang konkret dan realistis dalam menghadapi ancaman kekeringan serta intrusi air laut yang rutin merembes ke aliran sungai utama. Dengan waduk yang lebih besar, ketergantungan langsung pada debit air Sungai Kapuas saat masa kritis dinilai dapat diminimalisasi secara signifikan.  

Namun, narasi penanganan krisis tersebut langsung ditangkis keras oleh Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono. Menganggapi kritikan tajam dari mantan pasangan politiknya itu, Edi secara blak-blakan menyebut usulan perluasan Waduk Penepat hingga sepuluh kali lipat sebagai hal yang “merampot”—istilah lokal Pontianak yang mengindikasikan tindakan mengada-ada atau membual. Edi menilai bahwa gagasan menampung air tawar dalam skala raksasa tersebut tidak menyentuh akar permasalahan yang sebenarnya sedang dihadapi oleh sistem perpipaan dan pengelolaan air minum daerah.  

Menurut Edi Kamtono, waduk penampungan air seperti Waduk Penepat pada hakikatnya hanya berfungsi sebagai penopang sementara dan bukan merupakan solusi permanen. Kunci utama untuk menyelesaikan persoalan krisis air tawar di Pontianak secara berkelanjutan adalah mencari, mengamankan, serta memelihara sumber air baku utama di hulu. Oleh karena itu, Pemerintah Kota Pontianak memilih untuk berfokus pada perlindungan ekosistem sumber air tawar alami daripada sekadar memperbesar ukuran waduk yang dinilai kurang efektif secara jangka panjang.

(Tim/Red)

Komentar