MAJENE, Discoverynews.id — Sekretaris Daerah (Sekda) Sulawesi Barat (Sulbar) Junda Maulana membawa sejumlah isu strategis pembangunan daerah dalam proses pemilihan Dekan Fakultas Pertanian dan Kehutanan (Fapertahut) Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) periode 2026–2030.
Junda menjadi salah satu panelis dalam proses pemilihan yang berlangsung di Aula Hotel Villa Bogor, Majene, Senin (5/10/2026). Dalam kesempatan tersebut, ia mengajukan enam pertanyaan kepada calon tunggal Dekan Fapertahut Unsulbar, Dr. Nurlaela, S.P., M.Si.
Pertanyaan yang diajukan tidak hanya berkaitan dengan tata kelola internal fakultas, tetapi juga menyentuh kesiapan lulusan menghadapi dunia kerja, pengembangan kurikulum, hilirisasi komoditas unggulan, peningkatan kapasitas petani, hingga kontribusi perguruan tinggi dalam menangani persoalan kehutanan di Sulbar.
Junda mengatakan, enam pertanyaan tersebut telah dipersiapkannya sebelum proses pemilihan berlangsung.
“Saya jauh-jauh sudah siapkan,” kata Junda.
Menurut Junda, Fapertahut memiliki posisi strategis karena Sulbar merupakan daerah dengan potensi besar di sektor pertanian dan kehutanan. Karena itu, keberadaan fakultas tersebut diharapkan tidak hanya berorientasi pada pengembangan akademik, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan daerah.
“Di wilayah Sulawesi Barat yang notabenenya daerah agraris, ada potensi yang besar. Karena itu, fakultas ini harus bisa mengambil peran,” ujarnya.
Pertanyaan pertama diarahkan pada visi calon dekan dalam menyiapkan lulusan yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan industri, sektor pertanian, dan kehutanan daerah.
Junda meminta penjelasan mengenai langkah konkret yang akan dilakukan untuk memastikan lulusan Fapertahut tidak hanya memiliki ijazah, tetapi juga keterampilan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
“Ketika ibu nantinya menjadi dekan, insyaallah selangkah lagi, apa langkah konkret yang akan ibu ambil untuk memastikan lulusan Fakultas Pertanian dan Kehutanan memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan industri, pertanian, dan kehutanan daerah?” tanyanya.
Pertanyaan kedua menyentuh aspek tata kelola fakultas, khususnya optimalisasi peran senat dalam pengambilan keputusan strategis dan fungsi pengawasan.
Selanjutnya, Junda menyoroti bidang akademik dan kurikulum. Ia mempertanyakan bagaimana kurikulum Fapertahut dapat menjawab tantangan hilirisasi komoditas unggulan Sulbar, seperti kakao, kopi, dan sawit.
Menurutnya, pengembangan komoditas tidak cukup berhenti pada produksi bahan mentah, tetapi perlu diarahkan pada peningkatan nilai tambah yang dapat dirasakan masyarakat.
“Bagaimana kurikulum yang ibu rancang untuk menjawab tantangan hilirisasi produk unggulan seperti kakao, kopi dan sawit di Sulawesi Barat untuk peningkatan nilai tambah komunitas pertanian?” ujarnya.
Pada bidang penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan kerja sama, Junda meminta calon dekan menjelaskan program yang akan menjadi prioritas untuk meningkatkan kapasitas petani dan pelaku usaha pertanian di Sulbar.
Ia menilai perguruan tinggi memiliki peran penting dalam memberikan dukungan berbasis ilmu pengetahuan kepada pemerintah daerah dan masyarakat, terutama dalam pengembangan sektor pertanian.
Pertanyaan kelima berkaitan dengan sumber daya manusia dan kemahasiswaan. Junda ingin mengetahui strategi fakultas dalam membekali mahasiswa dengan kemampuan teknis sekaligus soft skill agar memiliki daya saing ketika memasuki dunia kerja.
“Kita berharap alumni Fakultas Pertanian ini sudah ada pasar kerjanya, jadi siap pakai,” katanya.
Sementara itu, pertanyaan keenam diarahkan pada persoalan kehutanan, khususnya tekanan terhadap kawasan hutan dan kebutuhan pemerintah terhadap rekomendasi kebijakan berbasis riset.
“Untuk menghadapi tekanan deforestasi, bagaimana peran Fakultas Pertanian dan Kehutanan di Sulawesi Barat untuk memberikan rekomendasi kebijakan kepada pemerintahan?” tanya Junda.
Ia juga menyinggung sejumlah persoalan terkait tata kelola lahan dan perkebunan yang membutuhkan perhatian bersama, termasuk persoalan sengketa lahan sawit yang pernah terjadi di Pasangkayu.
Bagi Junda, enam pertanyaan tersebut bermuara pada satu hal, yakni bagaimana Fapertahut Unsulbar dapat memperkuat kontribusinya terhadap pembangunan Sulbar.
Perguruan tinggi, kata dia, diharapkan tidak berjalan sendiri sebagai institusi akademik, tetapi mampu menjadi mitra strategis pemerintah dan masyarakat dalam menjawab berbagai persoalan pertanian, kehutanan, sumber daya manusia, serta pengembangan ekonomi daerah.










Komentar