Tasikmalaya,Discoverynews.id – Program revitalisasi SMKS Sukapura Kabupaten Tasikmalaya terus menunjukkan perkembangan. Hingga Rabu, 7 Oktober 2026, progres pekerjaan telah mencapai sekitar 75 persen dari keseluruhan pelaksanaan.
Program yang bersumber dari APBN Tahun Anggaran 2026 tersebut mendapatkan dukungan anggaran sebesar Rp2 miliar. Revitalisasi diarahkan untuk meningkatkan kualitas sarana dan prasarana sekolah sekaligus menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih nyaman dan representatif bagi peserta didik.
Berdasarkan informasi yang terpasang di lokasi kegiatan, pekerjaan revitalisasi SMKS Sukapura meliputi konstruksi rehabilitasi bangunan, pengecatan bangunan lainnya serta pengadaan perabot.
Dalam pelaksanaannya, terdapat 12 ruang kelas yang direhabilitasi. Selain itu, program tersebut juga mencakup satu ruangan tempat bermain tertutup yang diharapkan dapat menjadi fasilitas pendukung bagi aktivitas siswa di lingkungan sekolah.
Dengan progres yang sudah mencapai 75 persen, sejumlah pekerjaan fisik saat ini terus dikebut untuk mengejar target penyelesaian sesuai jadwal yang telah ditentukan.
Program revitalisasi tersebut dijadwalkan berlangsung selama 126 hari kalender, mulai 12 Agustus sampai 15 Desember 2026.
Fasilitas Belajar Diharapkan Semakin Nyaman
Kepala SMKS Sukapura Tasikmalaya, Dedi Ah Kurniadi, S.Pd., M.Pd., menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah terhadap peningkatan sarana dan prasarana pendidikan di sekolah yang dipimpinnya.
Menurut Dedi, program revitalisasi tersebut menjadi kesempatan penting bagi sekolah untuk melakukan pembenahan terhadap fasilitas yang digunakan setiap hari oleh para siswa dan tenaga pendidik.
“Alhamdulillah, sampai hari ini progres revitalisasi sudah mencapai kurang lebih 75 persen. Kami sangat bersyukur dengan adanya program ini karena tentunya memberikan manfaat yang besar bagi sekolah, terutama dalam meningkatkan kualitas sarana dan prasarana,” ujar Dedi.
Ia menjelaskan, terdapat 12 ruang kelas yang menjadi bagian dari pekerjaan rehabilitasi. Selain itu, sekolah juga mendapatkan fasilitas berupa satu ruang tempat bermain tertutup.
“Yang direhabilitasi ada 12 ruang kelas, kemudian ada satu ruang tempat bermain tertutup. Kami berharap seluruh prosesnya dapat berjalan dengan lancar sampai selesai sesuai dengan target yang telah ditetapkan,” katanya.
Menurutnya, perbaikan ruang kelas menjadi hal penting karena ruang belajar merupakan fasilitas utama yang digunakan siswa dan guru dalam menjalankan kegiatan pendidikan setiap hari.
Dengan kondisi ruang kelas yang semakin baik, diharapkan proses pembelajaran dapat berlangsung lebih nyaman dan kondusif.
“Kami berharap dengan adanya revitalisasi ini, anak-anak dapat belajar dengan lebih nyaman. Guru juga dapat melaksanakan pembelajaran dengan suasana yang lebih baik. Jadi manfaatnya bukan hanya dari sisi bangunan, tetapi juga bisa memberikan dampak terhadap proses pembelajaran,” ungkapnya.
Bukan Sekadar Perbaikan Bangunan
Dedi menegaskan, revitalisasi sekolah bukan sekadar memperbaiki bangunan secara fisik. Lebih jauh, keberadaan fasilitas yang layak merupakan bagian dari upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang mendukung perkembangan peserta didik.
Terlebih SMKS memiliki karakter pendidikan yang tidak hanya mengedepankan pembelajaran teori, tetapi juga pengembangan keterampilan dan kompetensi siswa.
Karena itu, menurut Dedi, sarana pendidikan yang baik perlu diimbangi dengan peningkatan kualitas pembelajaran, kedisiplinan serta pemanfaatan fasilitas secara optimal.
“Kami memandang revitalisasi ini sebagai bagian dari investasi pendidikan. Kalau lingkungan belajar nyaman dan fasilitasnya semakin baik, tentu kami juga harus meningkatkan kualitas pelayanan pendidikan kepada siswa,” tuturnya.
Ia pun mengajak seluruh warga sekolah untuk bersama-sama menjaga fasilitas yang telah mendapatkan perhatian melalui program revitalisasi tersebut.
“Setelah selesai nanti, kami berharap seluruh warga sekolah ikut menjaga fasilitas ini. Jangan sampai fasilitas yang sudah diperbaiki dengan baik tidak dirawat. Ini adalah aset pendidikan yang manfaatnya akan dirasakan oleh siswa dan sekolah dalam jangka panjang,” katanya.
Dorong Lingkungan Sekolah Lebih Representatif
Kehadiran ruang bermain tertutup juga menjadi salah satu fasilitas yang dinilai dapat memberikan manfaat bagi aktivitas siswa di luar kegiatan pembelajaran di dalam kelas.
Fasilitas tersebut diharapkan dapat digunakan secara positif dan mendukung berbagai aktivitas siswa, khususnya ketika kondisi cuaca tidak memungkinkan kegiatan dilakukan di ruang terbuka.
Dengan adanya rehabilitasi 12 ruang kelas serta penambahan dan penataan fasilitas pendukung, lingkungan SMKS Sukapura diharapkan menjadi semakin representatif.
Program revitalisasi tersebut juga mendapatkan pendampingan dari Kodim 0612/Tasikmalaya, sebagai bagian dari sinergi dalam mendukung pelaksanaan kegiatan di lingkungan sekolah.
Bagi pihak sekolah, dukungan berbagai pihak tersebut menjadi bagian penting agar proses revitalisasi dapat berjalan sesuai dengan rencana.
Optimistis Rampung Sesuai Target
Dengan progres yang telah mencapai 75 persen pada 7 Oktober 2026, pihak sekolah optimistis pekerjaan dapat diselesaikan sesuai jadwal pelaksanaan.
Dedi berharap seluruh proses pembangunan tetap memperhatikan kualitas pekerjaan sehingga hasil revitalisasi dapat memberikan manfaat secara maksimal dan berkelanjutan.
“Kami berharap sampai akhir pelaksanaan nanti semuanya dapat selesai dengan baik. Yang kami utamakan tentu kualitas pekerjaan dan manfaatnya untuk sekolah. Mudah-mudahan setelah selesai, fasilitas ini benar-benar bisa menunjang kegiatan belajar mengajar dan meningkatkan semangat siswa,” pungkasnya.
Program revitalisasi SMKS Sukapura dengan dukungan anggaran Rp2 miliar tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat sarana pendidikan di Kabupaten Tasikmalaya.
Dengan semakin baiknya fasilitas sekolah, diharapkan proses pembelajaran dapat berlangsung lebih nyaman, efektif dan kondusif, sekaligus mendorong lahirnya lulusan SMKS Sukapura yang memiliki keterampilan serta kompetensi sesuai kebutuhan dunia kerja. (UR)










Komentar