Cilegon, discoverynews.id – Kondisi memprihatinkan terjadi di lingkungan Kependilan, Kelurahan Panggungrawi, Kecamatan Jombang, Kota Cilegon. Area di depan sekolah MTs Rihlatul Ummah diduga dijadikan tempat pembuangan sampah liar oleh oknum masyarakat sekitar.
Tumpukan sampah rumah tangga bercampur puing-puing bekas bangunan terlihat berserakan tepat di seberang jalan depan gerbang sekolah. Bau busuk yang menyengat bahkan tercium hingga ke dalam ruang kelas, mengganggu konsentrasi siswa saat proses kegiatan belajar mengajar berlangsung.
“Bau busuk sampah sangat mengganggu kegiatan kita belajar di kelas. Jadi kami tidak bisa konsentrasi akibat bau sampah itu,” ujar Rizky, siswa kelas VIII, Kamis (9/4/2026).
Keluhan juga datang dari pihak guru. Salah seorang tenaga pendidik yang enggan disebutkan namanya menegaskan bahwa lokasi tersebut bukanlah tempat pembuangan sampah.
“Seharusnya masyarakat sekitar tidak membuang sampah sembarangan. Mereka tahu ini lingkungan sekolah, bukan tempat pembuangan sampah,” tegasnya.
Pantauan awak media di lokasi menunjukkan tumpukan sampah dan material sisa bangunan dibiarkan menggunung tanpa penanganan. Kondisi ini bukan hanya merusak estetika lingkungan pendidikan, tetapi juga berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan bagi siswa dan tenaga pengajar.
Lingkungan sekolah sejatinya menjadi kawasan yang bersih, aman, dan nyaman bagi peserta didik. Dugaan praktik pembuangan sampah liar di depan area pendidikan ini mencerminkan rendahnya kesadaran sebagian oknum masyarakat terhadap kebersihan dan dampaknya bagi generasi muda.
Masyarakat dan pihak sekolah berharap Pemerintah Kelurahan Panggungrawi serta instansi terkait di Kota Cilegon segera turun tangan menertibkan dan membersihkan lokasi tersebut, sekaligus memberikan sanksi tegas kepada pihak-pihak yang kedapatan membuang sampah sembarangan.
Jika dibiarkan berlarut, bukan hanya kenyamanan belajar yang terganggu, tetapi juga citra lingkungan pendidikan di Kota Cilegon dapat tercoreng akibat pembiaran terhadap praktik pembuangan sampah liar di depan sekolah.
Reporter: F.G
Editor: Redaksi Banten












