NEWS, NTT  

Goresan Sajak Anak Kampoeng : MENANG atas Luka


Kupang, 04 Mei 2026

Ketika palu diketuk, keadilan bicara

Dulu punggungmu bungkuk menahan perih,
bukan karena usia, tapi oleh tinju yang tak berhak singgah.
Malam-malammu panjang, diisi tanya:
“Mengapa kami yang jadi korban, tapi malah kami yang takut?”

Anak-anakmu menangis diam-diam,
melihat lebam di pipimu yang kau tutupi dengan senyum.
Katamu, “Tidak apa-apa, Nak. Ini cuma jatuh.”
Padahal kami tahu, yang menjatuhkanmu adalah tangan manusia.

Lalu kau tempuh jalan yang tak semua orang berani,
ruang sidang yang dingin, tatapan yang menghakimi,
berkas-berkas tebal, saksi yang gagap,
waktu yang diulur seperti menguji sabar.

Mereka bilang, “Sudahlah, ikhlaskan saja.”
Tapi kau tahu, ikhlas bukan berarti diam.
Ikhlas adalah berjuang agar tak ada lagi orang tua lain
yang pipinya biru karena dibungkam.

Dan hari ini, palu itu diketuk.
Bukan kau yang jatuh. Tapi kebenaran yang berdiri.
Hakim bicara atas nama negara,
bahwa darahmu tidak tumpah sia-sia.

Anakmu kini bisa tegak menatapmu,
tak ada lagi bisik “kasihan Bapak” yang menyayat.
Yang ada hanya bangga:
“Orang tuaku mengajarkan bahwa luka harus dilawan, bukan dinormalkan.”

Untukmu, Bapak,
yang memilih perihnya proses hukum daripada tenangnya pasrah,
terima kasih telah menunjukkan:
Keadilan mungkin datang lambat, tapi ia tidak pernah buta.
Dan setiap lebam yang kau tanggung dulu,
hari ini berubah jadi cahaya di wajah anak cucumu.

Pulihkanlah ragamu, tenangkanlah hatimu.
Perjuanganmu selesai. Kini giliran kami menjagamu.

 


Pasang Iklan di Website Kami

Hubungi WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *